Tugas Keselamatan Proses Kecelakaan Kerja dalam Bidang Pengelasan

TUGAS KESELAMATAN PROSES

KECELAKAAN KERJA DALAM BIDANG PENGELASAN

Disusun Oleh (Citra M.T , Agustina L.R)

———————————————————————————————————————

KATA PENGANTAR

 

Puji syukur kita panjatakan atasa kehadirat Tuhan YME karena berkat rahmat dan hidayahnya kami dapat menyelesaikan penulisan makalah kami ini, yang bertemakan “Kecelakaan Kerja dalam Bidang Pengelasan”. Makalah ini disusun guna menyelesaikan tugas mata kuliah Keselamatan Proses. Semoga pembahasan yang ada dalam makalah kami ini dapat member manfaat bagi tiap pembacanya dan menambah wawasan mengenai kesehatan, keselamatan kerja.

Penulis

——————————————————————————————————————

 

BAB I

PENDAHULUAN

 

  1. Latar Belakang

Ditemukannya logam pertama kali dirasakan sebagai suatu kemajuan teknologi yang sungguh luar biasa tetapi pada pihak lain perkembangan baru ini akan menimbulkan suatu permasalahan baru yaitu bagaimana proses penyambungan dari logam – logam tersebut. Proses penyambungan logam terdiri dari sambungan baut,  sambungan keling, sambungan lipat, sambungan tempa, patri, solder dan sambungan las (pengelasan ).Dalam fabrikasi, konstruksi dan industri proses sambungan las merupakan salah satu cara yang paling dominan atau baik apabila dibandingkan dengan cara pengerjaan pemesinan yang lainnya dikarenakan proses ini sangat praktis, murah dan cepat .

Penggunaan las dalam pengerjaan konstruksi semakin lus sehingga kecelakaan yang diakibatkan oleh proses pengerjaan tersebut juga sering banyak terjadi. Pekerjaan pengelasan merupakan salah satu proses pemesinan yang penuh resiko karena selalu berhubungan dengan api dan bahan – bahan yang mudah terbakar dan meledak terutama sekali pada las gas yaitu gas oksigen dan Asetilin . Kecelakaan yang terjadi sebenarnya dapat dikurangi atau dihindari apabila kita sebagai operator dalam mengoperasikan alat pengelasan dan  alat keselamatan kerja dipergunakan dengan baik dan benar, memiliki penguasaan cara – cara pencegahan bahaya akibat proses las. Untuk itu, diperlukan pengetahuan yang cukup mengenai K3.

Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3) adalah kepentingan pengusaha, pekerja dan pemerintah  di seluruh  dunia. Tingkat  kecelakaan-kecelakaan  fatal  di  negara-negara berkembang  tiga  kali  lebih  tinggi  dibanding  negara-negara  industri.  Di  negara-negara berkembang, kebanyakan  kecelakaan dan penyakit  akibat  kerja  terjadi di  bidang-bidang pertanian,  perikanan  dan  perkayuan, pertambangan  dan  konstruksi. Tingkat  buta  huruf yang tinggi  dan  pelatihan  yang  kurang  memadai  mengenai metode-metode  keselamatan kerja  mengakibatkan tingginya  angka  kematian  yang  terjadi  karena  kebakaran dan pemakaian  zat-zat  berbahaya  yang  mengakibatkan penderitaan  dan  penyakit  yang  tak terungkap  termasuk kanker,  penyakit  jantung  dan  stroke.

Pekerjaan dan pemeliharaan konstruksi mempunyai sifat bahaya secara alamiah. Oleh sebab itu masalah bahaya harus ditempatkan pada urutan pertama program keselamatan dan kesehatan. Di sebagian besar negara , keselamatan di tempat kerja masih memprihatinkan. Seperti di Indonesia, rata-rata pekerja usia produktif (15 – 45 tahun) meninggal akibat kecelakaan kerja. Kenyataanya standard keselamatan kerja di Indonesia paling buruk dibandingkan dengan negara-negara lain di kawasan Asia Tenggara.

Kecelakaan kerja bersifat tidak menguntungkan, tidak dapat diramal, tidak dapat dihindari sehingga tidak dapat diantisipasi dan interaksinya tidak disengaja. Berdasarkan penyebabnya, terjadinya kecelakaan kerja dapat dikategorikan menjadi dua, yaitu langsung dan tidak langsung. Adapun sebab kecelakaan tidak langsung terdiri dari faktor lingkungan(zat kimia yang tidak aman, kondisi fisik dan mekanik) dan faktor manusia(lebih dari 80%).

Untuk menghindari resiko yang tidak diinginkan dan pengetahuan yang memadai maka diperlukan pembahasan lebih lanjut mengenai materi ini.

  1. Rumusan Masalah

1)      Bahaya Pengelasan dan Upaya Pencegahannya

2)      Daftar Pengelompokan Pekerjaan Las

3)      Contoh Studi Kasus

  1. Tujuan

1)   Mengetahui Bahaya Pengelasan dan Upaya Pencegahannya

2)   Mengetahui Daftar Pengelompokan Pekerjaan Las

  1. Manfaat

Mahasiswa mampu mengetahui Bahaya Pengelasan dan Upaya Pencegahannya dan mampu Mengetahui Daftar Pengelompokan Pekerjaan Las.

—————————————————————————————-

BAB II

PEMBAHASAN

 

II.1       Bahaya Pengelasan dan Upaya Pencegahannya

 

Industri jasa konstruksi merupakan salah satu sektor industri yang memiliki risiko kecelakaan kerja yang cukup tinggi. Berbagai penyebab utama kecelakaan kerja pada proyek konstruksi adalah hal-hal yang berhubungan dengan karakteristik proyek konstruksi yang bersifat unik, lokasi kerja yang berbeda-beda, terbuka dan dipengaruhi cuaca, waktu pelaksanaan yang terbatas, dinamis dan menuntut ketahanan fisik yang tinggi, serta banyak menggunakan tenaga kerja yang tidak terlatih. Ditambah dengan manajemen keselamatan kerja yang sangat lemah, akibatnya para pekerja bekerja dengan metoda pelaksanaan konstruksi yang berisiko tinggi. Untuk memperkecil risiko kecelakaan kerja, sejaka awal tahun 1980an pemerintah telah mengeluarkan suatu peraturan tentang keselamatan kerja khusus untuk sektor konstruksi, yaitu Peraturan Menteri Tenaga Kerja dan Transmigrasi No. Per-01/Men/1980.

Peraturan mengenai keselamatan kerja untuk konstruksi tersebut, walaupun belum pernah diperbaharui sejak dikeluarkannya lebih dari 20 tahun silam, namun dapat dinilai memadai untuk kondisi minimal di Indonesia. Hal yang sangat disayangkan adalah pada penerapan peraturan tersebut di lapangan. Rendahnya kesadaran masyarakat akan masalah keselamatan kerja, dan rendahnya tingkat penegakan hukum oleh pemerintah, mengakibatkan penerapan peraturan keselamatan kerja yang masih jauh dari optimal, yang pada akhirnya menyebabkan masih tingginya angka kecelakaan kerja. Akibat penegakan hukum yang sangat lemah, King and Hudson (1985) menyatakan bahwa pada proyek konstruksi di negara-negara berkembang, terdapat tiga kali lipat tingkat kematian dibandingkan dengan di negara-negara maju.

Dari berbagai kegiatan dalam pelaksanaan proyek konstruksi, pekerjaan-pekerjaan yang cukup berbahaya adalah pengelasan. Dalam proses las sendiri tidak bisa dilakukan oleh sembarangan orang, sebenarnya banyak bahaya dalam proses ini yang sering tidak disadari oleh pekerja. Diantaranya :

  1. Gas Dalam Asap Las

Menurut (Harsono, 1996)sewaktu proses pengelasan berlangsung terdapat gas – gas yang berbahaya yang perlu diperhatikan , yaitu :

  1. Gas karbon monoksida ( CO )

Gas ini mempunyai afinitas yang tinggi terhadap haemoglobin ( Hb ) yang akan menurunkan daya penyerapannya terhadap oksigen .

  1. Karbon dioksida (CO2)

gas ini sendiri sebenarnya tidak berbahaya terhadap tubuh tetapi bila konsentrasi CO2 terlalu tinggi dapat membahayakan operator terutama bila ruangan tempat pengelasan tertutup.

  1. Gas Nitrogen monoksida (NO)

Gas NO yang masuk ke dalam pernafasan tidak merangsang, tetapi akan bereaksi dengan haemoglobin (Hb) seperti halnya gas CO. Tetapi ikatan antara NO dan Hb jauh lebih kuat daripada CO dan Hb maka gas NO tidak mudah lepas dari haemoglobin, bahkan mengikat oksigen yang dibawa oleh haemoglobin. Hal ini menyebabkab kekurangan oksigen yang dapat membahayakan sistem syaraf.

  1. Gas nitrogen dioksida ( NO2)

Gas ini akan memberikan rangsangan yang kuat terhadap mata dan lapisan pernafasan, bereaksi dengan haemoglobine ( Hb ) yang dapat menyebabkan sakit mata dan batuk–batuk pada operator . Keracunan gas ini apabila dipakai untuk jangka waktu yang lama akan berakibat operator menderita penyakit TBC atau paru–paru .

  1. Gas-gas beracun yang terbentuk karena penguraian dari bahan pembersih dan pelindung terhadap karat .
  1. Pencegahan Bahaya

Pada proses pengelasan operator harus benar – benar mengetahui dan memahami bahaya – bahaya yang muncul selama proses pengelasan ini berlangsung.  Menurut Harsono, 1996,beberapa macam bahaya pengelasan yang mungkin saja timbul sewaktu proses berlangsung , meliputi :

2.1         Bahaya Ledakan.

Bahaya ledakan yang sering terjadi pada proses pengelasan produk yang berbentuk tangki atau bejana bekas tempat penyimpanan bahan – bahan  yang mudah menyala atau terbakar . Pada proses pengelasan / pemotongan ini diperlukan beberapa hal persiapan pendahuluan untuk menghindari bahaya ledakan , seperti :

  1. Pembersihan bejana atau tangki

Sebelum proses pengelasan berlangsung maka   bejana atau tangki perlu dibersihakan dengan :

  • Air untuk bahan yang mudah larut.
  • Uap untuk bahan yang ,mudah menguap.
  • Soda kostik untuk membersihkan minyak , gemuk atau pelumas.
  1. Pengisian bejana atau tangki

Setelah proses pembersihan selesai isilah  tangki atau bejana dengan air sedikit di bawah bagian yang akan dilas/dipotong.

  1. Kondisi tangki sewaktu proses pengelasan

Selama proses pengelasan berlangsung kondisi tangki atau bejana harus dalam keadaan terbuka agar gas yang menguap karena pada proses pemanasan gas dapat keluar.

  1. Penggunaan gas lain

Apabila dalam proses pengisian tangki atau bejana dengan air mengalami kesulitan maka sebagai gantinya dapat digunakan gas CO2 atau gas N2 dengan konsentrasi minimum 50 % dalam udara .

2.2         Bahaya Jatuh

Untuk pengerjaan konstruksi bejana, tangki pertamina atau konstruksi bangunan lainnya yang membutuhkan tempat yang tinggi, bahaya yang mungkin dapat terjadi adalah bahaya jatuh atau kejatuhan yang berakibat fatal . Beberapa langkah yang perlu diambil oleh operator untuk  menghindari bahaya ini :

  1. Menggunakan tali pengaman.
  2. Menggunakan topi pengaman untuk mencegah  terjadinya kejatuhan benda – benda atau kena panas matahari

2.3         Bahaya Kebakaran

Proses pengelasan selalu berhubungan dengan api sehingga bahaya kebakaran sangat mungkin terjadi mengingat proses ini sangat berhubungan erat dengan api dan gas yang mudah terbakar, untuk itu operator perlu sekali mengambil langkah – langkah pengamanan seperti :

  1. Ruangan atau areal pengelasan harus bebas dari  kain, kertas, kayu, bensin, solar, minyak atau bahan – bahan lain yang mudah terbakar atau meledakharus ditempatkan di tempat khusu yang tidak akan terkena percikan las.
  2. Jauhkan tabung – tabung dan generator dari percikan api las, api gerinda atau panas matahari.
  3. Perbaikan pada sambungan – sambungan pipa atau selang – selang terutama saluran Asetilen.
  4. Penyediaan alat pemadam kebakaran di tempat yang mudah dijangkau seperti bak air, pasir, hidrant .
  5. Kabel yang ada didekat tempat pengelasan diisolasi dari karet ban.

2.4         Bahaya Percikan Api / Panas

Bahaya dari percikan api atau panas akan berakibat bahaya kebakaran seperti yang diuraikan diatas , tetapi bahaya lainnya adalah pada operator las sendiri yang terkena luka bakar atau sakit mata . Untuk itu operator selalu dianjurkan menggunakan alat –alat pelindung seperti: sarung tangan, apron, sepatu tahan api, kaca mata las, topeng las

2.5         Bahaya Gas dalam Asap Las

Pencegahan atau tindakan yang harus diambil oleh operator untuk menghindari bahaya gas dalam asap las adalah :

  1. Pekerjaan las harus dikerjakan dalam   ruang terbuka atau ruang yang berventilasi agar gas dan debu yang terbentuk segera terbuang.
  2. Apabila ventilasi masih belum cukup memadai maka sebaiknya memakai masker hidung.
  3. Untuk pengerjaan pengelasan dalam tangki perlu tindakan di bawah ini :
  • Menggunakan penghisap gas / debu.
  • Dibutuhkan seorang rekan operator di luar tangki atau bejana yang selalu siaga apabila terjadi bahaya.
  • Voltage lampu penerangan maksimum 12 volt.

2.6         Bahaya Sinar

Selama proses pengelasan akan menimbulkan cahaya,  sinar ultra violet dan sinar infra merah yang berbahaya sehingga diperlukan:

  1. Pelindung mata atau goegle

Pelindung mata tersebut harus mampu menurunkan kekuatan cahaya tampak dan harus dapat menyerap atau melindungi mata dari pancaran sinar ultraviolet dan inframerah. Untuk keperluan ini maka pelindung mata harus mempunyai warna transmisi tertentu, misalnya abu-abu, coklat atau hijau (Harsono, 1996). Pelindung mata atau goegle yang mempunyai nomor warna dan penggunaan seperti di tunjukkan pada tabel di bawah ini :

Tabel 1. Nomor warna penggunaan goegle

No.warna

Las busur listrik

Las gas

2,5

Untuk cahaya rendah

3

Untuk cahaya rendah

4

Untuk cahaya rendah

5

Untuk busur di bawah 30 A

Untuk cahaya sedang

6

Untuk busur di bawah 30 A

Untuk cahaya sedang

7

Untuk busur di antara 30 s.d. 70 A

Untuk cahaya kuat

8

Untuk busur di antara 30 s.d. 70 A

Untuk cahaya kuat

  1. Pelindung muka

Pelindung muka dipakai untuk melindungi seluruh muka terhadap kebakaran kulit sebagai akibat cahaya busur, percikan yang tidak dapat dilindungi dengan hanya memakai pelindung mata saja. Bentuk dari pelindung muka bermacam-macam dapat berupa helmet dan dapat berupa pelindung yang harus dipegang (Harsono, 1996).

II.2       Daftar Pengelompokan Pekerjaan Las

 

Karena banyaknya bahaya yang harus dihadapi dalam pengelasan, untuk itu dalam melakukan pekerjaan ini tidak boleh sembarangan, seorang juru las harus memiliki sertifikat dan mengikuti tes kwalifikasi sebagai juru las.

Juru las dapat digolongkan atas:

1)      Juru las kelas I (satu)

Juru las kelas 1 (satu) boleh melakukan pekerjaan las yang dilakukan oleh juru las

kelas II (dua). dan kelas III (tiga).

2)      Juru las kelas II (dua)

Juru las kelas II (dua) boleh melakukan pekerjaan las yang dikerjakan oleh juru las

kelas III (tiga) tetapi dilarang mengelas jenis pekerjaan yang boleh dilakukan oleh

juru las kelas I (satu)

3)      Juru las kelas III (tiga)

Juru las kelas III (tiga) dilarang melakukan pekerjaan las yang boleh dilakukan oleh

juru las kelas 11 (dua) atau kelas I (satu).

Sehingga, pembagian jenis kerja yang dapat dilakukan oleh seorang juru las dapat dilihat pada tabel di bawah :

II.3       Contoh Studi Kasus

Salah satu contoh kasus kecelakaan kerja yang terjadi dan dialami oleh pekeerja konstruksi dapat dilihat seperti di bawah ini:

Sumarno, 42 tahun. Saat ini ia bekerja untuk kontraktor yang sedang membangun apartemen 30 lantai di Cawang, Jakarta Timur. Tugasnya menganyam dan mengelas konstruksi besi untuk dinding, kolom, dan tiang apartemen. “Kerja saya mengikuti lantainya, terus ke atas, tergantung ketinggian yang sudah dibangun,” kata pria berambut ikal sebahu ini.Tak jarang nyali pria asal Pekalongan, Jawa Tengah, ini menciut kala harus bergelantungan di ketinggian. Diterpa angin yang berembus kencang di ketinggian sebenarnya dia kerap terombang-ambing dalam kengerian. Dia merasa ngeri melihat semua yang di bawah tampak kecil. “Ngerinya kalau lagi ada angin, hujan,” katanya. Sumarno merasakan maut selalu mengintai saat dia bekerja di ketinggian. “Bahayanya terutama kalau kita lagi nyetel barang di pinggiran. “Nah! Bahaya itu, kalau lepas! Atau badan terlalu letih tapi dipaksakan. Kita ngukur kekuatan sendiri, kalau nggak kuat ya istirahat dulu,” kata ayah dua anak ini. Namun dia merasa beruntung, proyek konstruksi tempatnya bekerja kali ini menyediakan alat pengamanan yang cukup memadai. Selain itu, safety patrol di proyek sering mengecek penggunaan alat pengaman seperti helm, sabuk pengaman, dan sepatu. Karena itu Sumarno bisa sedikit tenang dalam bekerja, meski upahnya kecil, Rp 30 ribu untuk kerja dari pukul 08.00 hingga pukul 16.00. (okezone.com)

Dari contoh kasus diatas dapat disimpulkan bahwa, alat pengaman sangat menunjuang keselamatan pekerja dan bukanlah hal yang sepele hingga bisa diabaikan begitu saja.

Seorang yang bekerja sebagai pekerja konstruksi wajib mengenakan:

  • Ø Sefety helmet
  • Ø Sefety glasses
  • Ø Gloves
  • Ø Chin-stap
  • Ø Sefety belt, dan
  • Ø Sefety shoes

Masalah keselamatan dan kesehatan kerja berdampak ekonomis yang cukup signifikan. Setiap kecelakaan kerja dapat menimbulkan berbagai macam kerugian. Di samping dapat mengakibatkan korban jiwa, biaya-biaya lainnya adalah biaya pengobatan, kompensasi yang harus diberikan kepada pekerja, premi asuransi, dan perbaikan fasilitas kerja. Terdapat biaya-biaya tidak langsung yang merupakan akibat dari suatu kecelakaan kerja yaitu mencakup kerugian waktu kerja (pemberhentian sementara), terganggunya kelancaran pekerjaan (penurunan produktivitas), pengaruh psikologis yang negatif pada pekerja, memburuknya reputasi perusahaan, denda dari pemerintah, serta kemungkinan berkurangnya kesempatan usaha (kehilangan pelanggan pengguna jasa). Biaya-biaya tidak langsung ini sebenarnya jauh lebih besar dari pada biaya langsung. Berbagai studi menjelaskan bahwa rasio antara biaya tidak langsung dan biaya langsung akibat kecelakaan kerja konstruksi sangat bervariasi dan diperkirakan mencapai 4:1 sampai dengan bahkan 17:1 (The Business Roundtable, 1991).

—————————————————————————————

BAB III

PENUTUP

III.1    Kesimpulan

1)      Dari uraian mengenai berbagai aspek Keselamatan dan Kesehatan Kerja pada penyelenggaraan konstruksi di Indonesia, dapat diambil kesimpulan bahwa bebagai masalah dan tantangan yang timbul tersebut berakar dari rendahnya taraf kualitas hidup sebagian besar masyarakat. Dari sekitar 4.5 juta pekerja konstruksi Indonesia, lebih dari 50% di antaranya hanya mengenyam pendidikan maksimal sampai dengan tingkat Sekolah Dasar. Mereka adalah tenaga kerja lepas harian yang tidak meniti karir ketrampilan di bidang konstruksi, namun sebagian besar adalah para tenaga kerja dengan ketrampilan seadanya dan masuk ke dunia jasa konstruksi akibat dari keterbatasan pilihan hidup. Sehingga perlu pembinaan lebih lanjut mengenai kesehatan dan keselamatan kerja.

2)      Sebagai juru las, hendaknya memperhatikan kelengkapan yang harus digunakan saat proses pengelasan.

3)      Juru las hanya boleh mengerjakan pekerjaan yang sesuai kwalifikasinya.

III.2    Saran

1)      Pembinaan juru las sebagai pekerja konstruksi haru terus digalakkan untuk mencegah berbagai kemungkinan negatif yang mungkin terjadi.

————————————————————————————————

DAFTAR PUSTAKA

Bambang, P., 1992, Teknologi Mekanik, Jilid 1, Erlangga, Jakarta.

Harsono, Toshie, 1996, Teknologi Pengelasan Logam,. Pradnya Paramita, Jakarta.

Robert, W.,K., 1993, Dasar-dasar Pengelasan, Erlangga.

Sumakmur, P.,K., 1995, Keselamatan Kerja dan Pencegahan Kecelakaan, Gunung Agung, Jakarta.

Tan, H., L., 1992, Welding Gas,  ATMI Solo Press.

Peraturan Menteri Tenaga Kerja Dan Transmigrasi No : Per. 02/Men/1982 Tentang Kwalifikasi Juru Las Di Tempat Kerja

King, R.W. and Hudson, R. (1985). “Construction Hazard and Safety Handbook: Safety.” Butterworths, England.

Iklan

Ikutan Komentar Yukkk...

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s