Catatan di Usia 19 ‘3’

Awalnya aku membuat tulisan ini hanya demi memenuhi kebutuhan batin akan ide-ide yang tersimpan di otakku yang serasa membuncah dan membuatku tak sanggup menahan untuk mengungkapkannya. Banyak sudah yang terpikirkan di otak ini. Dari sekian banyak yang terpikirkan hanya segelintir saja yang mampu dituangkan dalam tulisan-tulisan untuk kunikmati ataupun untuk menghibur orang lain.

Yah, inilah aku dan hobby yang selama ini kukesampingkan. Namun, mulai saat ini biarlah ini menjadi bagian dari kesenanganku dalam melalui hidupku. Aku adalah jenis orang yang mudah meluapkan perasaan lewat tulisan dibandingkan harus berkata-kata. Bagaimanpun kau paksa mulut ini untuk berucap jika aku bilang “tidak” atau mulut ini tak sanggup mengungkapkan apa yang kurasa maka aku akan terus dan terus membungkam.

Makanya menulis kujadikan bentuk apresiasiku untuk membuka diri pada dunia. Karena, ternyata menyimpan begitu banyak pertanyaan di dalam diri, keresahan, kegalauan dan semuanya sendiri terasa kurang begitu menyenangkan. Entah, sudah berapa banyak cerita, kisah, tawa, canda, ataupun amarah yang telah dibagikan oleh teman-temanku untukku.

Namun, rasanya aku bisa menghitung berapa banyak cerita yang terkesan privat atau masalahku yang kusimpan dalam batinku ini. Semua yang kurasakan membatin dalam diri dan jiwaku, itulah aku. Sempat juga kusebut diriku sebagai aktris yang cukup hebat berakting di depan orang-orang yang mengenalku.

Kalau kau menjadi temanku kau pasti akan membuat pertanyaan ini di benakmu. Kapan anak ini akan keliatan sedih atau terlihat seperti ada masalah yang dihadapinya?. Yap, keahlianku yang lain adalah menyembunyikan perasaan yang kurasakan di dalam diriku dengan ekspresi yang bertolak belakang dari apa yang kurasakan. Terutama saat bersedih. Aku tak tahu sejak kapan perasaan ini datang.

Tapi, entah sejak kapan aku merasa begitu gengsi untuk menangis di hadapan orang lain yang berhubungan tentang diriku?. Aku tak mau menangisi diriku di hadapan orang lain ataupun bersedih di hadapan orang lain yang membuatku butuh belas kasihan orang dan merasa malang ataupun merasa dikasihani.

Tapi, diluar dari hal tersebut aku begitu cepat mengeluarkan air mata, saat menonton acara di televisi dan kulihat saudara-saudaraku di luar sana yang hidup dengan keterbatasan, air mata ini dengan mudahya jatuh  keluar dari persembunyiaanya. Tapi, begitu hal-hal yang menyangkut dengan diriku yang sepantasnya aku menangis entah mengapa air mata ini begitu sulit untuk keluar dan jatuh. Hingga terkadang untuk menangispun aku harus lama membatin.

Ya Allah jika memang air mata bisa meringankan apa yang kurasakan maka biarlah ia keluar. Tapi, begitulah aku. Perasan tak ingin merepotkan orang lain selalu ada di hati ini. Atau bisa jadi ini sebagai wujud apresiasi diri ini atas kekecewaan yang sempat kupendam terhadap teman-temanku yang memplesetkan hal umum yang aku ceritakan kepada mereka menjadi hal yang istimewa namun jadi pembawa kesan yang negatif terhadapku.

Yah, begitulah hidup ada hal-hal yang tak kau inginkan terjadi pula pada dirimu. Kau takkan pernah tahu, kapan dan dimana hal itu akan terjadi yang kau tahu dan yang kau sadari bahwa saat kau makin dewasa makin banyak tantangan yang akan mengahadangmu dan suka atau tidak semuanya harus kau hadapi dengan kemampuan terbaikmu.

Terkadang kita melakukan kesalahan tapi itulah proses hidup. Kau pun juga akan sampai di titik dimana kau merasa sebagai seorang yang gagal ataupun sebagai pecundang. Tapi, kembali lagi beginilah hidup. Tak ada yang gratis. Kalau kau tak merasakan perjuangan, kau takkan merasakan manisnya hidup.

Untuk itu kucoba yakini bahwa apapun anugrah Tuhan untuk kujalani takkan melebihi batas kemampuan yang diyakini Tuhan untuk mampu kugapai. Kalau Tuhan yakin terhadap kemampuan kita sehingga diberi ujian tersebut kenapa kita harus mundur dan takut?. Sementara Tuhan telah anugerahkan banyak hal untuk kita mulai dari akal, otak , pikiran, hati. hal yang membuat kita spesial dari makhluk ciptaanya yang lain. Walaupun untuk hal itu, seberapa serigkah kita merenung dan mensyukurinya?. Hanya tiap pribadilah yang tahu jawabannya.

Iklan

Ikutan Komentar Yukkk...

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s