Catatan di Usia 19

Hingga sekarang di otakku masih terbersit kata tak habis pikir dan rasa bingung yang cukup dalam untuk mencari tahu dan memaknai bagaimana aku bisa bertahan sejauh ini. Sejauh hati ini berusaha untuk tetap tegar dan kuat dihadapan banyak orang untuk sebuah pembuktian yang aku sendiri tak tahu itu apa. Untuk rasa ragu yang ada di hatiku yang coba untuk kuhilangkan, untuk rasa sesal yang masih menempel dan mengoyak kisi-kisi hatiku.

Untuk impianku di masa lampau yang sanggup membuatku bergeming tertegun mengasihani diri meratapi nasib, untuk impian dan mimpi serta rindu atas nama almarhum ayahandaku tercinta, ayah terbaik di seluruh dunia, pria yang mengisi hati dan pola pikirku dengan kebijaksanaan, kesabaran, kedisiplinan, dan tanggungjawab. Serta membentukku menjadi wanita yang harusnya tangguh.

Maka kucoba untuk selalu membuat diriku tegar dan kuat untuk sanggup berdiri tegak di atas kakiku sendiri. Mengajarkanku bahwa yang terpenting adalah apa yang ada di dirimu. Buat orang menyukaimu dengan apa yang kau miliki dari dalam. Dua elemen utama yang membuatmu bernilai yaitu karena otak dan hatimu. Bukan karena fisikmu. Maka hiasilah dirimu dengan ilmu yang bermanfaat agar derajatmu meningkat karenanya. Dan manfaatkanlah ia sebaik mungkin agar menjadi pembawa manfaat untuk orang banyak.

Realistis harusnya melakukan yang terbaik di titik dimana kau berdiri, kutipan yang kudapat dari tetralogi laskar pelangi. Aku tak tahu apa yang kujalani ini benar atau tidak atau haruskah aku terus menjalani ini semua dengan perasaan yang masih setengah hati. Kucoba untuk melaluinya seakan-akan ini semua adalah kesenanganku. Bahwa inilah yang memang seharusnya kupilih, dan datang dari dalam hatiku. Beserta segala rasa ikhlas dan ketulusan yang coba kupupuk di atas impianku. Impianku???,

Benarkah apa yang kujalani ini adalah impianku. Impian seorang anak yang berumur 19 tahun. Terdegar begitu menggelora, namun palsu, semu, maya. Aku tahu bahwa aku tak pernah menginginkannya. Namun, kenyataan membuat aku tak sanggup untuk menolak ataupun berpaling dari fakta yang makin kucoba untuk menerimanya makin menusuk hatiku. Makin membuatku tersadar bahwa bukan ini yang kuinginkan.

Kucoba untuk yakini dari sisi lain bahwa kadang kala apa yang kita pikir baik untuk diri kita bisa jadi itu merupakan hal yang buruk buat kita. Dan bisa jadi apa yang kita anggap buruk bisa jadi itulah hal yang baik buat kita. Kucoba untuk terus yakini hal itu. Tapi, semakin kucari pembenaran itu semakin teriris hati ini. Karena impianku bertolak belakang dengan realitas yang kuhadapi. Namun, setidaknya beri aku kesempatan untuk menentukan apa yang membuat realitas itu telihat lebih realistis dan dapat kuterima dalam hatiku.

Tapi, sayang aku menyadari semuanya di waktu yang salah, di kesempatan yang tidak tepat. Di waktu yang celahku untuk mundur dari semua ini dan mengambil langkah baru yang mungkin kuinginkan sudah terlambat. Aku tak bisa mundur lagi atau menawar apa yang bisa aku berikan untuk rasa yang kusebut bahagia versi diriku.

Kembali, kuingat wajah ibuku yang berlinang air mata melepas kepergianku. Apalagi saat itu belum genap dua minggu ayahku meninggalkan kami semua. Meninggalkan aku dengan seorang ibu dan lima orang adik yang masih kecil. Kau tahu betapa berat dan perihnya rasa itu?. Kau harus menanggung semuanya.

Tapi, mengeluh tak ada guna. Oh tuhan, aku hanya bisa tertegun tanpa sanggup mengucap banyak kata. Saat seperti ini pasti akan membuatmu terus dan terus merasa bahwa kau masih merasa kurang berbakti pada kedua orang tuamu. Membuatmu merasa bahwa kau masih butuh waktu bersama orang yang kau cintai. Dan tentu saja membuatmu merasa baru kau sadari bahwa betapa kau begitu mencintainya dan tak ingin kehilangannya. Dan menyadari tentang pahitnya realitas yang harus kau terima. Perih, terasa bgitu perih mengiris kalbu dan menyayat ulu hatimu.

Membuatmu menjadi lebih peka saat melihat anak-anak yang membantah pada kedua orang tuanya atau menyia-nyiakan kesempatan bersama kedua orang tua. Kau akan bergumam dalam hati. Jika kau tahu rasa perih yang akan melandamu saat kehilangan orang tua terasa begitu pedih dan menyakitkan, yang memaksamu untuk menegakkan kepala memandang kedepan untuk melihat realitas. Atau, kalau kau bahkan tak sanggup berdiri tegak kau harus sanggup berjalan walaupun kau harus merangkak dan terseret di jalan yang berbatu atau bahkan terseok berjalan di kubangan lumpur yang kotor. Tapi, kuberitahu kau satu hal kalau sampai kau putuskan untuk mundur maka kau melakukan sesuatu yang bodoh, sangat bodoh bahkan. Untuk itulah kucoba berlaku baik, walaupun masih jauh dari baik dalam melihat realitas ini.

Tahukah kau bahwa hidup ini harus diperjuangkan?. Mengertikah kau apa yang sebenarnya dimaksud dengan berjuang untuk hidup?. Berjuang untuk merasakan hidup yang sebenarnya?. Merasakan hidup sebagai tujuan awal penciptaan manusia di muka bumi ini?. Tahukah kau mengapa tuhan menganugerahkan kita skenario hidup yang berbeda?. Mengapa ada orang yang harus merasakan pahitnya dunia atau mengapa ada orang dalam seumur hidupnya tak pernah merasakan apa yang disebut dengan kesusahan?. Pertanyaan akan terus muncul di dalam kepalamu kalau kau terus mencari-cari. Mengapa?…Kenapa?…ataukah bagaimana?. Kau takkan pernah berhenti bertanya tentang kehidupan. Karena kau memang tak tahu apa-apa. Untuk itu kau perlu untuk terus bertanya. Agar tuhan memberimu jawaban atas pertanyaanmu dengan caranya menyentuh dirimu.

Betapa sering air mata ini jatuh dari pelupuk mata ini. Muak sudah hati ini berkubang dalam kesedihanku. Tapi, apa daya anak manusia ini. Ternyata keluar dari kesedihan bukan perkara mudah. Tak semudah hanya dengan sekadar menonton acara lawak penuh canda, membaca buku-buku bergenre humor, atau bercengkrama dengan teman sebaya. Saat itu sedihmu akan pergi. Tapi, tunggulah sejenak maka ia akan berbalik lagi kepadamu.

Bagaimana bisa kau ingin menghilangkan gundah, sedih, dan gulana di hatimu kalau kau tak tahu penyebabnya. Maka, biar kuceritakan padamu bagaimana semua ini berawal. Pengembaraan hidup seorang anak yang berusia 19 tahun di tengah kegalauaannya atas dunianya dan pencariannya atas jati diri dan jalan yang harus ditempuhnya untuk membuat realitas berjalan sesuai dengan mimpi dalam benaknya. Dan betapa ia ingin memeluk mimpi-mimpi yang dirajutnya seiring dengan kenyataan yang harus bisa ia terima dan hadapi.

 

Iklan

Ikutan Komentar Yukkk...

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s