Salahkah Kami Berbeda?.

Unity in Diversity

Isu ini bukanlah hal baru di kalangan kita. Sejak jaman Belanda menjajah di Indonesia hal ini sudah lama terjadi. Mungkin pula sudah tidak menarik untuk dibaca, tapi hal ini penting bagi saya. Penting untuk menyuarakan hal ini agar tidak terus terjadi hal serupa. Inilah potret wajah Indonesia yang dihadapkan pada kondisi yang serupa saja dengan sejarah yang lalu-lalu. seakan kita tak cukup belajar dari masa lalu, seakan “bhineka tunggal ika” itu hanya angin lalu.

Ini fakta yang saya rasakan dan alami sendiri saat menempuh kuliah di salah sebuah Universitas di Semarang. jauh dari orang tua, tinggal di tempat yang baru dan asing, berharap memperoleh teman yang baik hati yang sudi kiranya mengajarkan kearifan budaya lokal.

Saya mencoba bercermin pada diri sendiri, apa yang salah dari diri saya?. Apa salah terlahir di pulau Sulawesi?. Ataukah sekiranya kami anak perantauan di pulau jawa ini seakan tak punya didikan yang cukup di rumah sebelum kami dilepas pergi jauh dari rumah?. Saya menanyakan pada rekan-rekan saya yang juga notabene anak perantauan di Semarang, apa dia merasakan diskriminasi suku yang juga saya rasakan?. Jawaban dari beberapa teman saya serupa. Kami merasakan hal yang sama.

Jujur miris rasanya dinilai berdasarkan kesukuan, kami yang lahir di luar pulau jawa saat  terlahir ke dunia tidak bisa memilih lahir dari keturunan apa, berwarna kulit apa, dari keluarga mana. Itu mutlak ketentuan Tuhan.

Diskriminasi yang paling terasa adalah saat orang-orang mulai tahu bahwa kami “makhluk dari luar pulau jawa” reaksi awalnya pasti mengucap kata “ooo” yang menusuk, seringkali kami mendapatkan tanggapan ekspresi wajah kaget, kemudian dilanjutkan dengan pernyataan “ternyata anak luar jawa bisa sopan juga ya”. Seakan-akan kami ini kaum barbar.

Di pergaulan pun kami juga sering merasa tersisihkan, “kalau tidak bisa bicara dalam bahasa jawa akan tersisih dari pergaulan” karena bahasa pergaulan yang dipakai adalah bahasa jawa. Bukan berarti kami tak mau dan tidak ingin mempelajari, tapi bahkan teman-teman menjauhi kami karena alasan kami tidak akan mengerti apa yang mereka bahas dalam bahasa jawa dan ada kemalasan untuk mengartikan hal yang sama. Lalu kemana kami akan belajar?.

Anda harus belajar mencari tahu sendiri, beruntung bila mendapatkan seorang teman yang baik yang mau mengajarkannya dengan suka rela. Sebenarnya tidak semua orang bersikap diskriminatif pada kami, ada juga yang tidak terlalu memikirkan hal tersebut. Tapi kebanyakan entah sadar atau tidak bersikap demikian.

Seingat saya, selama tinggal di kendari (sultra) ketika bertemu dengan yang berbeda suku tidak ada bentuk diskriminasi. Bahasa Indonesia digunakan sebagai bahasa utama dalam pergaulan, jadi walaupun di daerah saya terdiri dari berbagai suku dan budaya yang berbeda kami bisa saling mengerti dalam hal komunikasi, karena bahasa sehari-hari menggunakan bahasa Indonesia, berbeda dengan tinggal disini yang didominasi oleh bahasa jawa.

Perempuan luar jawa sering dilihat sebagai sosok yang pembangkang disini, pembangkang karena kami bukan tipikal yang selalu diam dan manut menerima keadaaan. Didikan kami posisi pria dan wanita sama sama makhluk yang bebas berpendapat, asal tau batas. Tapi, pria dan wanita punya hak yang sama untuk bersuara.

Mungkin ini fakta yang biasa saja, tapi yang lebih sering terjadi dan terasa adalah saat seseorang ingin serius melangkah ke jenjang pernikahan maka faktor suku menjadi hal yang penting. Kita terlahir dari suku, agama, keturunan, warna kulit, budaya, bukan pilihan sejak kita dikandungan, tapi atas ketentuan Tuhan, mengapa tidak memandang seorang individu betul-betul sebagai dirinya, sebgai pribadinya sendiri tanpa embel-embel yang lain?.

Kalau memang ada norma-norma atau aturan yang dilanggar seseorang atau bersikap yang salah, mungkin seseorang itu pantas dijauhi. Tentu saja setelah memberi kesempatan untuk berubah. Tapi kalau menilai seseorang berdasarkan suku, saya merasa kurang berdasar. Kalau memang ada sampling orang dari suku tertentu kurang baik di mata seseorang, belum tentu semua bersikap demikian. Kalau kita terus-terusan menjadi subjek pendiskriminan, lalu kenapa masih hendak bertahan dalam gabungan yang disebut Negara Indonesia?. Atau memang Bhineka Tunggal Ika itu hanya angan-angan belaka dan berupa simbol cita-cita kebangsaan?.

Kalau tidak ada yang memulai untuk berfikiran terbuka, sama saja dengan anak bangsa menjajah anak bangsa nya yang lain sendiri. Tiap suku di Indonesia hadir dengan peradaban yang berbeda, bukan untuk dipermasalahkan, dijadikan pembeda, dijadikan parameter karakter seseorang. Tetapi diterima sebagai bagian dari khasanah budaya, adapun keragaman itu seharusnya diapresiasi sebagai kebanggaan lahir ditengah banyak karakter.

Ikutan Komentar Yukkk...

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s