Untuk Kuingat

Saat membuat catatan ini, aku sedang terbaring di tempat tidur. sejak kemarin aku bergulat dengan sakit kepala, rasanya sakit sekali. membuat gigi serasa nyeri dan mau copot dari gusi disertai leher yang rasanya sangat tegang. saat sedikit menunduk kepala seakan mau jatuh saja.

Inilah serangan spasmofilia yang sejak dua hari ini harus kuterima. Kupikir pemicunya karena beberapa hari ini aku agak banyak beraktifitas, sebenarnya dibandingkan orang lain aktifitasku itu minim, tapi bagi tubuhku hal itu sudah berlebih. jadilah saat ini aku tergolek lemah di tempat tidur.

mengapa aku membuat catatan ini?.
aku ingin suatu saat jika aku lemah. aku bisa kembali mengingat momen dimana aku berjuang untuk kuat. entah berapa lama penyakit ini akan terus menerus menempel atau menyerang diriku. yang aku tau yang bisa kulakukan hanya menerima dan berdamai dengannya sembari berusaha melakukan trial dan error kepada diri sendiri. mencari tahu apa yang boleh dan tidak boleh, apa yang bisa dan tidak bisa, apa yang menjadi batas batas yang bisa dilalui oleh tubuhku. karena tanpa mengenali itu maka aku akan terus seperti ini.

kepasrahan pada Tuhan yang kini menjadi bagian yang menguatkanku. saat saat seperti ini aku banyak menangis. bukan karena takut mati, karena bagaimanapun kematian itu aku takuti toh pada akhirnya akan ada saatnya aku mati juga. bukan pula merasa amalanku di dunia ini sudah cukup, tapi ditolakpun kematian takkan berpaling. aku menangis dalam kesakitan, meminta agar Tuhan menguatkanku. mengurangi setidaknya separuh bebanku. atau menguatkan jiwaku saat badanku mengejang sakit.

yang paling berat yang kualami bukan sakit fisik, tapi sakit jiwa. kadangkala saat sakit ini terasa begitu menyiksa yang memperberat sebenarnya adalah rasa gelisah yang menyertai. untuk itu, ini yang pertama harus dikontrol. maka yang menjadi peganganku adalah kitab suci Al-Qur’an atau apapun yang bisa mengendalikan kegelisahan ini.

saat hati sudah merasa lebih tenang yang berikutnya menimpuki kepala dengan bantal sambil berdamai dengan kesakitan.

semoga semakin lama aku semakin bisa menghadapi kondisi seperti ini.

jujur, semakin lama sakit, semakin ada saja bayangan negatif. ketakutan yang pasti menghampiri adalah keinginanku untuk mampu mengontrol diri, tapi saat sakit menyerang aku merasa gagal mengurusi diri&tidak ingin meningkatkan grade penyakit ini menjadi ++++(4) [grade maksimum], cukuplah aku berada di grade +++(3).

aku merasa bersyukur dengan segala keterbatasan & ketidakmampuanku saat ini. aku masih bisa menulis, menonton tv, membaca buku, bercengkrama dengan orang2 yang kusayangi baik langsung maupun lewat media komunikasi, hal itu cukup membantu mengalihkan pikiran.

semoga rasa ingin berjuang dalam diriku tidak pudar, aku harus bangkit, bisa, untuk diriku. aku belum bisa mengukir prestasi apa apa selama hidup. maka paling tidak aku dikenal sebagai pejuang oleh diriku, untuk diriku.

Ikutan Komentar Yukkk...

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s