Cerita Sore “Pesan Emansipasi di Warung Penyetan”

Pesan emansipasi di warung penyetan

 

Sore ini berkesan, obrolan singkat dengan seorang penjual langganan penyetan saya selama tinggal di semarang terasa penuh pelajaran. warung penyetan “Pak Mono”, diambil dari nama suaminya yang bersahaja. sehingga saya memanggil wanita paruh baya tersebut dengan Bu Mono.

Bu Mono memiliki tiga orang anak, kesemuanya wanita. awal mula cerita itu saat Bu Mono menceritakan kisah cintanya bersama Pak Mono yang penuh perjuangan dalam melewati kondisi suka dan duka. bagaimana seorang Bu Mono berjuang membantu perekonomian keluarganya yang berada dalam kondisi ‘susah’ saat ditinggalkan oleh ayahanda tercinta yang meninggal karena penyakit liver.

dalam serba keterbatasan itu Bu Mono berdoa memohon jalan keluar dari Allah, meminta dalam sholat agar diberikan jodoh yang pengertian dan tetap memberikan izin dan kemudahan baginya untuk membantu perekonomian keluarganya yang morat-marit sepeninggal ayahanda.

dan akhirnya, sosok Pak Mono lah yang diberikan Allah untuk Bu Mono, wanita itu terlihat begitu bangga dan bahagia menceritakan kisah perjuangan hidup yang dibangunnya diatas dukungan penuh suaminya. suaminya bekerja sebagai staff tata usaha di sebuah PTS di Semarang, tapi Bu Mono tidak berpangku tangan menunggu bulan-bulanan dari suami saja. baginya wanita juga harus punya kemandirian dan ikut andil dalam membangun perekonomian keluarga selama keluarga tetap menjadi prioritas.

ada satu kutipan kalimat yang begitu saya ingat dari seorang Bu Mono :
” Seorang wanita itu setinggi apapun sekolahnya, setinggi apapun jabatannya bagian tanggung jawab utamanya setelah menikah tetaplah keluarganya, bertanggung jawab terhadap dapur rumahnya”.

inilah sepenggal pemikiran dari seorang Bu Mono, lulusan sekolah menengah memahami emansipasi. ketiga anak wanitanya dikuliahkan menempuh pendidikan D3. baginya pendidikan modal utama untuk menjadikan anak-anaknya mendapat kehidupan yang lebih baik. tapi hal yang ditekankan pada anaknya bukan mengejar karir setinggi mungkin, namun “mencari suami yang mampu menjadi imam yang memimpin keluarganya dan mampu memberi penghidupan pada keluarganya”.

ia merasakan betul bagaimana pemuliaan yang ia dapat dari seorang Pak Mono, dan juga merasakan bagaimana dukungan belahan jiwanya yang menemaninya lebih dari 20 tahun menjadikannya sosok mandiri tanpa menghilangkan kepatuhan pada suami seperti saat ini.

karena adzan sudah berkumandang, obrolan sore tadi pun terhenti, dengan pulang membawa cerita penuh makna.

-terimakasih Bu Mono-

 

8 thoughts on “Cerita Sore “Pesan Emansipasi di Warung Penyetan”

Ikutan Komentar Yukkk...

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s