Sejak Rembulan Hingga Mentari

kuseka air mata yang jatuh dipelupuk mata

bermandikan cahaya rembulan aku duduk sendiri, disini

ditemani deburan ombak yang menghanyutkan

dalam lamunan pengharapan palsu

kuambil sebatang rokok, ingin kuhisap dalam hingga habis

kemudian kuletakkan lagi sebatang utuh rokok itu

kusandarkan badan diatas pasir

mata memandang langit, pikiran menerawang lain

lain selain langit hitam bertabur cahaya selain bulan

aku berbaring bersama kerinduan anak manusia

manusia yang ingin diberi kasih lebih lagi oleh penciptaNya

kasih oleh anak manusia lain

aku hidup tapi hampa, aku melihat tapi kosong, aku merasa tapi mati

rasanya membeku dingin, hatiku

kubiarkan ia membeku berjam-jam

sampai ia lelah membeku dan mencair di bawah cahaya

kuberjalan menusuri tepian, bermain riak ditepian

meninggalkan sebatang rokok dengan kenangan

setelah puas bermandikan cahaya mentari

Ikutan Komentar Yukkk...

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s