Mendampingi di Detik-Detik Terakhir

Entah berapa banyak orang yang membaca tulisan saya ini yang mengalami judul di atas.

“Mendampingi di Detik-Detik Terakhir”

Saya pernah mendampingi ayah saya di detik-detik terakhir penghujung hidupnya. Disaksikan kakek, ibu, dan kami sebagai anak-anaknya. Melihatnya berdzikir dipenghujung nafasnya. Sampai tutup usia, kakek menutup matanya lebih rapat. Ternyata begitulah sakratul maut.

“Saat ayah masih berjuang, kami berdoa dengan tangis, saat ayah tiada kami menyeka air mata. Membiarkannya pergi dengan tenang, tanpa tangis”. 

Tapi bagiku, bagian yang paling teringat itu adalah saat terakhir kali menciumnya yang terbujur kaku dengan wajah yang teduh. Merasakan dingin wajahnya di bibir. Itulah kali terakhir menciumnya. Kembali tanpa air mata, pantang bagi kami membuatnya gelisah di sana.

Kenapa tiba-tiba mengangkat topik ini?.

Beberapa kali saya mendampingi beberapa anggota keluarga di detik-detik terakhir. Bahwa akhir hidup manusia itu memang berbeda-beda caranya. Bukan soal artistik atau tidak, menarik atau tidak. Pada akhirnya nanti toh kita akan mati juga, tinggal masalah waktu saja.

Saya juga sempat mendampingi teman yang menunggui anggota keluarganya saat menjelang detik-detik terakhir. Ya, seperti malam ini. mengingatkanku akan kenangan bersama Ayah tercinta, Pria yang sangat kukagumi dan kuhormati atas prinsip-prinsip hidup yang dipegangnya dan teladan yang luar biasa dalam menyayangi Istrinya juga keluarganya.

 Apa yang kita lakukan saat mendampingi seseorang di detik-detik terakhirnya?.

Tentunya kita akan sepakat, ‘mendoakan’

Menyiapkan mental untuk tetap tenang tak kalah penting, disinilah pentingnya pengendalian diri. Sesama anggota keluarga saling menguatkan.  Mencurahkan kasih sayang terakhir kita untuknya apapun wujudnya dalam pemahaman pikiran kita.

Tidak ada yang lebih baik dari mendapati orang-orang yang kita sayangi berada di sekitar kita menunggui kita menghadapi momen sakral itu.

Untuk seorang kawan yang malam ini mendampingi Eyangnya, kau tahu apa yang harus kau lakukan. Aku juga mendoakan Eyangmu dari sini.

Siapapun orangnya suatu saat akan menghadapi momen seperti ini, kematian, menunggui kematian, atau menyaksikan kematian.

Siap atau tidak siap.

3 thoughts on “Mendampingi di Detik-Detik Terakhir

Ikutan Komentar Yukkk...

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s