Dilema Wanita Usia 26+

Entahlah, apa saya juga akan mengalam hal ini. Dilema wanita saat berumur 26, dst. Menikah itu seperti target yang harus dikejar dan diburu-burui. Entah apa nanti saya akan berubah pikiran saat menjelang usia 26 dan belum menikah. Tapi daripada hidup bersama orang yang salah, tidak kita kenal, tidak kita sukai, atau menyesal pada akirnya. mengapa harus menyiksa diri seperti itu.

Ada beberapa orang teman wanita di FB yang sibuk mengupdate status betapa inginnya ia menikah dengan “pujaan hati”, daripada meng-galau di FB kenapa tidak kemukakan langsung dengan yang bersangkutan. saya tanyai salah seorang itu demikian. si wanita menjawab, prianya belum bisa mengambil keputusan, terlalu banyak pertimbangan.

“Diputuskan itu menyakitkan, apalagi di usia demikian. Tapi perasaan yang menggantung, terombang ambing juga tidak kalah menyiksa. kalau untuk saya lebih baik sakit dalam ketegasan daripada sakit dalam ketidakpastian”

Β Buat saya pribadi, daripada menanti pria yang sekian lama terus berpikir. kenapa tidak menarik diri untuk tau seberapa penting makna diri bagi si pria, daripada sibuk mengupdate status yang tidak lain menujukkan kerapuhan sebagai wanita usia 26 plus. kalau memang si pria serius apalagi dengan usia yang tidak lebih muda dari wanita dengan penghasilan tetap dan mencukupi berarti dia tidak cukup menyukai atau tidak cukup yakin dengan si wanita.

Yang sering dilupakan, yang saya tangkap dari pengalaman di sekitar saya, keinginan kuat untuk menikah hanya disertai rasa galau yang mendalam. bukan disertai keinginan kuat untuk meningkatkan kwalitas diri. paling tidak dengan kwalitas diri yang terus meningkat harusnya kita pantas untuk pasangan yang lebih baik.

Kalau memang si pria bukan pasangan yang tepat dan tidak bisa tegas, mau menunggu sampai berapa tahun lagi?. apa ingin menua dalam ketidakpastian?. rasa-rasanya rugi.

Kini saya mengerti mengapa ibu saya selalu menekankan saya untuk mandiri. seorang wanita harus punya kwalitas, ibadah terjaga, punya kemampuan beradaptasi, komunikasi yang baik, kemampuan mengurus rumah, mengurus diri, mengontrol emosi, berpendidikan. tidak mudah menjadi seorang wanita, bukankah tiap wanita itu spesial dan punya kelebihan masing-masing di dalam dirinya?. bukankah fokus dengan kemampuan akan menjadikan kita ahli di bidang itu?.

Mencari jodoh tidak sama dengan membeli kucing dalam karung, tapi selalu termotivasi untuk meningkatkan kwalitas diri menurut saya sama dengan memantaskan diri kita untuk pribadi yang baik.

Menikah pun sebenarnya bukan berarti akan menghadapi kehidupan yang lebih mudah, justru lebih kompleks. jadi lebih baik mempersiapkan diri menuju jenjang itu.

Bagi yang kini sedang menggalau menanti pasangan hidup, semoga diberikan ketenangan batin dan pikiran, jadi bisa mengambil sikap dalam kondisi apapun yang kini sedang dihadapi. selamat berjuang untuk hidup.πŸ™‚

43 thoughts on “Dilema Wanita Usia 26+

  1. Eh tapi ibu saya bilang, nyari pasangan hidup itu seperti beli kucing dalam karung. Jangan heran kalau saat masa2 pacaran dan masa pernikahan, ada banyak kebiasaan pasangan yang belum pernah kita lihat.πŸ™‚ Yang menikah via pacaran aja belum tentu kita tahu seluk beluk sikapnya, apalagi yang dengan jalan ta’aruf. Jadi memang harus bisa saling menerima apa adanya, bersabar, dan belajar mencintai pasangan apa adanya.😳

    Itulah yang terus saya ingat salah satu nasehat ibu saya.πŸ™‚

    • kalo ngeliat dari sisi karakter atau kebiasaan saya setuju ama Ibunda mas Asop sama kaya beli kucing di dalam karung,,, sedekat2ny se2sorang akan ada karakter dari orang itu yang kita ga tau. karena manusia itu kan selalu berubah (dinamis).πŸ˜€
      tapi kalau memilh orang untuk menjadi pendamping hidup kan ga asal comot sana sini, tiap orang pasti puny standar tertentu yang di inginkan secara umum. nah, setelah nikah atau dekat baru deh kaget ama kebiasaan nya. disini memang harus bisa saling menerima apa adanya, bersabar, dan belajar mencintai pasangan apa adanya.:-)

      wah,,,obrolan yg berat #50kg

  2. hihihi. . .
    memang benar sekalii sist. . .

    sangat dan amat miris kalau melihat status yang seperti itu,tapi itulah wanita.
    susah mengontrol emosiii,semua yang ada di pikran maunya di luapka.πŸ˜€
    kisah ini hampir sama dengan catatanku mbaaaa yang berjudul Angka 25 untuk kaum hawa
    πŸ˜‰

  3. Umur saya belum 26 sih, tapi sekarang sudah mulai ditanya-tanya, “Kapan nikah?” dsb. Melihat teman-teman seumuran juga sudah banyak yang menikah, seharusnya saya mulai galau ya? Tapi, anehnya saya gak ikut-ikutan galau. Malah adem ayem aja. Ya gak tahu sih klo tahun depan pas usia sudah 26, saya masih adem ayem aja atau malah ikut-ikutan galau.πŸ˜†

    • emang tergantung pribadi masing2 sih mba kimi. ada yg umur 22 aja udah pengen cepet2 nikah. kalau udah siap rasany keinginan tu juga bakal ada. hehehe
      tapi kalo ketemu temen lama, pasti pertanyaannya seputar karir&percintaan ya. =)

  4. wah..jadi was-was nih, besuk di usia 26+ ikutan galau gak ya….:D
    tapi setuju sama Citra, daripada hidup dengan orang yang salah, atau menyesal pada akhirnya, lebih baik benar-benar berbenah untuk sampai pada tahap ituπŸ™‚

  5. Bgi cowo biasanya alasan belum mau melamar cewenya karena belum percaya diri dapt menghidupi keluarga.
    Tpi kalau lihat teman2 yg sudah menikah, kebanyakan dri mereka dibukakan pintu rejekinya.
    Saya punya seorang teman, dia buruh pabrik, dia pernah bilang: “klau udah nikah, rejekinya mah ada aja, ris.. biar kata itu ngutang, ada aja yg mau minjemin”
    saya terdiam, saya salut dengan dia (dan istrinya), mengapa saya yg diberi sedkit keberuntungan tidak bisa berpikir sesederhana dan seoptimis dia?!

    • Saya sering mendengar pernyataan seperti itu kang.
      kalau menikah akan ada rejeki nya sendiri, saat punya anak pun demikian, asal tidak berputus asa terus mengharapkan rahmat lewat doa.
      Ada seseorang yang pernah mengalami hal ini, saat itu kisahnya diceritakan ke Ibu saya, nah Ibu saya balik menceritakan kisah itu ke saya. Dia seorang cowok yang baru mulai merintis usaha, menikah dengan penghasilan pas-pas an, setelah menikah ternyata sanggup juga membiayai istri. tapi usahanya belum juga maju, saat ragu untuk punya anak karena kemampuan finansial. ternyata sudah diberi kesempatan untuk punya keturunan kang. Alhamdulillah saat anak lahir rezki malah mengalir deras dan usahanya sukses.
      Asal sudah bertemu calon yang tepat dan memulai dengan keyakinan, mudah2an jalannya dimudahkan kang.

Ikutan Komentar Yukkk...

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s