Paradigma ‘Ibu Tiri’

Pagi ini ada riuh di antara sepupu-sepupu dari pihak ibu. tante (kakak ibu saya) beberapa bulan yang lalu meninggal dunia. kini om (suami almarhumah) memutuskan untuk menikah lagi.

Secara pribadi anak-anak nya tidak menyetujui pernikahan itu. tapi toh pada akhirnya pernikahan itu dilaksanakan juga. pernikahan itu di hadiri anak-anak om, menantu, dan juga cucu-cucu nya. dari ketiga anak om semua wanita. semua wanita, dua sudah berkeluarga dan memiliki anak. yang terakhir kini sedang bergulat dengan tugas akhir (skripsweet).

Entah harus saya tanggapi seperti apa komentar-komentar dan pikiran negatif mengenai calon ibu baru mereka. saya diam dan mengamati.

Tidak terbayangkan juga kalau pada akhirnya ibu saya meutuskan menikah lagi. tapi, saya pernah iseng menanyakan kepada ibu saya “Apa ibu mau nikah lagi?”. Ibu saya menjawab “Hushhh…ada-ada saja”. saya menangkap maksudnya berarti tidak. entah nantinya bagaimana.

Ibu saya ditinggal meninggal ibunya saat duduk di kelas 6 SD. ayahnya kemudian menikah lagi. mereka pun tinggal terpisah dari ayahnya. ibu saya tinggal bersama nenek buyut dan ke-5 adiknya yang masih kecil-kecil. ibu saya punya kakak (almarhumah tante) tapi waktu itu tante sudah berkeluarga dan tinggal terpisah juga dari Ibu. Ibu saya terlahir dari keluarga yang berkecukupan (awalnya) hingga semua warisan dijual (habis) untuk sekolah. prinsip ibu saya harta itu akan ada habisnya, tapi ilmu akan terus dibawa. harus memilih diantara mempertahankan harta dan sekolah. ibu memilih sekolah. maka, peninggalan almarhumah ibu dari ibu saya (nenek) dijual satu per satu agar semua bisa bersekolah.

Kesulitan ekonomi yang dialami ibu semenjak saat itu tidak menyurutkan semangat nya untuk tetap bersekolah, mereka saling mendukung dan memajukan hingga saat ini. mereka mandiri dan saling mendidik dalam segala keterbatasan yang ada. ‘kesabaran, doa dan tanpa sakit hati’ tiga hal yang selalu dijadikan pedoman hidup ibu saya.

Satu hal yang membuat saya kagum adalah dalam sesulitnya kehidupan yang ibu saya hadapi karena memiliki ibu tiri tidak mengurangi rasa hormatnya, kepatuhannya, penghargaannya kepada Ayahnya (kakek) ataupun Ibu tirinya. Tidak pernah sekalipun Ibu sengaja mencela mereka atau menanamkan bibit kebencian dalam dirinya, atau mengajarkan kami untuk tidak menyukai ibu tirinya ataupun saudara-saudara ibu dari ibu tirinya.

Apapun yang terjadi sudah merupakan kehendak Tuhan tapi apapun bentuk ujiannya harus nya tidak menjadi alasan bagi kita untuk tidak menurunkan kwalitas diri menjadi orang yang lebih baik, kebaikan itu bisa datang begitu saja atas kehendak Tuhan. Tapi manusia harus tetap berusaha menjemput kebaikan sama halnya menjemput rejeki. karena kebaikan itu rejeki.

Saat mencoba memahami kata-kata itu kekagumanku pada sosok ibu semakin bertambah, semoga kepatuhanku kepadamu juga ikut bertambah seiring doa kita bersama untuk kebaikan sekeluarga.

Aku tidak mepermasalahkan pada akhirnya ibu akan menikah lagi atau tidak, yang aku inginkan hanya kebahagiaan baginya. bagi wanita yang kukagumi, ia kartini dalam kehidupanku.

Bagi sepupu-sepupuku yang kini sedang bergulat dengan batin, semoga dengan kerelaan kalian untuk menerima semua merupakan doa terbaik bagi om dalam membangun keluarga yang lebih besar lagi. ini berat, juga tidak mudah. tapi hujatan atau apapun tidak membawa berkah atau perubahan apapun. apalagi dengan stigma ‘ibu tiri’ yang selalu dicap negatif. padahal tidak semua seperti itu. menabur bibit kebencian sama halnya dengan menabuh gendang peperangan dintara ibu dan anak nantinya. lebih baik kita berdoa yang terbaik untuk semua, agar pikiran yang negatif mengenai ‘ibu tiri’ itu tidak sampai kejadian.

Apapun yang terjadi nanti, Tuhan tidak pernah salah menetapkan takdir.

Iklan

19 pemikiran pada “Paradigma ‘Ibu Tiri’

  1. Tidak semua ibu tiri jahat kok … Ibu saya saja mengurus 2 anak tiri dari ayah dengan sangat lembut, perhatian, di luar stereotipe orang tentang ibu tiri. Semoga istri om yang baru bisa juga menghapus stereotipe negatif itu yaaa 🙂

    • amin…saya juga berharap demikian.
      saya juga punya tante yang bisa menjadi ibu tiri yang baik. 🙂
      “ibu tiri” jangan dinilai dari posisinya sebagai Ibu pengganti yang jahat. Semua balik ke pribadi orangnya masing2. kalau memang baik, akan tetap baik. 😀

  2. bener kata kak faris. . .

    tapi budaya kita sudah terlanjur berkata kalau “ibu tri itu jahat”. . . 😀
    gak tau karena korban sinetron atau memang realita kehidupan. 😉

  3. ibu tiri, kata yg sarat makna walaupun orang sering mengklaim jahat atau negatif.
    padahal sama seperti ganja, diklaim mudarat. Sungguh setiap isi di dunia ini diciptakan berpasangan, manfaatn dan mudarat serta +/- adalah elemen yg tak terpisahkan dari kehidupan 🙂

    salam bunga ungu *eh* 😉

Ikutan Komentar Yukkk...

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s