Mari Bantu Mereka…

Agenda saya hari ini berkunjung ke salah sebuah Rumah Sakit yang ada di kota Semarang. Saya merasa sehat dan bahagia pagi ini. Tapi ada beberapa hal yang perlu saya konsultasikan dengan dokter di Poli Syaraf. Semoga hari ini bisa bertemu dengan Dokter Riri.

Pemandangan yang selalu menyayat hati adalah saat mulai mengantri dan melihat antrian untuk pasien JAMKESMAS. Orang-orang yang dirujuk di Rumah Sakit tersebut biasanya karena sudah tidak bisa ditangani di Puskesmas atau di Rumah Sakit seputaran Kabupaten yang ada di Semarang.

Ada yang bilang kalau perlakuan ke mereka itu “berbeda” dikarenakan mereka tidak tau aturan, ribet, atau mungkin hanya sekedar di “judge” dari penampilan semata. Entah ini hanya perasaan saya semata atau memang fakta. Saya merasa ada diskriminasi pelayanan pada pasien JAMKESMAS. Entah dari segi tempat untuk mengantri, Pelayanan dari petugas rumah sakit, Sampai fasilitas pendukung.

Saat saya melakukan pengambilan darah untuk cek darah lengkap dan juga urine saya melihat seorang pria paruh baya yang didorong oleh seorang perawat di sebuah kursi roda yang menurut saya sudah tua. karat disana sini dan tidak seperti kursi roda pada umumnya. Di leher bapak itu sepertinya terjadi pembengkakan kelenjar dan pendarahan. Hanya ditutup perban seadanya dan masker yang tidak layak pakai lagi. Entah si bapak ini baru saja datang atau bagaimana atau memang pelayanan baik itu hanya untuk yang mampu bayar tapi miris melihat kejadian seperti itu.

Mungkin saja petugas Rumah Sakit sebal karena yang datang itu tidak mengerti aturan sehingga selalu bertanya sana sini dan keliatan kebingungan, dengan pakaian seadanya, baju sekenanya, dan mungkin juga belum mandi. Membuat orang risih untuk mendekat. Atau karena mereka terbiasa membawa banyak anggota keluarga untuk meyertai dan mebawa perbekalan yang juga banyak dan kemudian mengemper di jalan Rumah Sakit dan mengganggu pemandangan mata dan ini menyebabkan pasien atau penjenguk lain terganggu.

Entahlah, saya juga tidak begitu paham apa yang sebenarnya terjadi. Harapannya kedepannya hal seperti ini dilihat oleh pemerintah. Menurut saya bantuan kepada warga miskin bagi pelayanan kesehatan untuk mereka tidak cukup hanya sekedar JAMKESMAS. Mereka juga harusnya diberi tahu hak apa yang layak bagi mereka, atau mungkin kedepannya perlu ada petugas pendamping untuk pengurusan jasa pelayanan bagi pasien JAMKESMAS. Selama ini terlihat mereka kebingungan atau tidak bisa mengikuti prosedur yang benar juga semata-mata karena keterbatasan informasi bagi mereka.

Memang benar, dimasa sekarang ini apa-apa itu perlu uang, biaya. Pelayanan kesehatan dan pendidikan yang baik sebanding dengan banyaknya jumlah biaya yang harus dikeluarkan. Tapi membiarkan saudara kita yang tidak dapat menentukan takdirnya untuk lahir diantara keluarga pengusaha kaya. Atau saudara yang tidak punya kepercayaan diri karena sekolah pun tak bisa harus diuji lagi dengan ketidakmampuan untuk berobat.

Bila ada dari rekan blogger yang mungkin berkunjung ke Rumah Sakit dan melihat ada saudara kita yang kesusahan dalam mengurus berkas, baik pendaftaran, obat, atau sebagainya, sudi kiranya berkenan membantu mereka. Daripada menanti pemerintah membuat regulasi, lebih baik memulai dari diri kita untuk memudahkan mereka.

Semoga bermanfaat 🙂

Iklan

43 pemikiran pada “Mari Bantu Mereka…

  1. Wah… Neng Citra udah cantik, pinter, baik lagi… Banyak orang baik seperti Citra di negara kita. Banyak sekali. Kita mengerti, kita memahami, kita ingin menolong, tapi tak ada daya yang dapat membuat kita mampu mengubah dunia.

    Ada sebuah quotes yang mengatakan:
    “Bila ingin mengubah dunia. Janganlah kau paksakan dirimu untuk melakukannya saat ini. Ubahlah dirimu sendiri hingga kamu memiliki kekuatan untuk mengubah dunia tersebut.”

    Sebanyak apapun nyamuk, tetap akan kalah menghadapi seekor cicak. Neng Citra, saya doakan semoga kamu menjadi orang besar yang dapat mengubah dunia, mengubah kebijakan. Ayo kita bergerak sekarang! Menggalang kekuatan untuk mengubah dunia yang tidak adil ini!

    • Amin…semoga semua orang yang kini memiliki niat baik diberikan kesempatan dan kemauan berusaha untuk membesarkan dirinya kang. Jadi bisa ikut menentukan kebijakan besar yang bermanfaat untuk masyarakat luas.
      Saya juga mendoakan hal yang sama untuk kang abdac.
      segala kelebihan kita hanya sedikit titipan dari sang pencipta.
      teriakasih sudah menyempatkan diri mampir dan membaca kang.

  2. Mengubah dunai ya? klo kata nelson mandela mah paling tepat pake pendidikan. Tapi sistem pendidikan di Indonesia juga gitu, dikit2 duit. Maka dari itu banyak dokter yang milih caranya sendiri buat cari duit. Itung2 ganti biaya kuliahnya dulu.

    • banyak profesi yang skrg dianggap ganti biaya kuliah. ganti biaya masuk. atau ganti biaya yang dipake buat menduduki jabatan tertentu. ga heran di negara kita apa2 mahal. korupsinya merajalela.

    • Memang sulit kalau saat ini masih beharap bersandar pada pemerintah di negara kita. Birokrasi justru mempersulit masyarakat. Makin banyak meja atau prosedur yang dilewati, makin banyak biaya yang harus dikeluarkan.

  3. nice post citra, sekalipun ane bukan dokter rumah sakit, tapi dokter klinik, ane sedikit uda bisa untuk menggratiskan jika diperlukan.

    Lao Tse bilang (dan pernah juga diucapkan PM Inggris Margaret Thatcher):
    “Watch your thoughts; they become words. Watch your words; they become actions. Watch your actions; they become habit. Watch your habits; they become character. Watch your character, it becomes your destiny.”

    semua berawal dari satu pikiran luhur untuk bisa menjadi pribadi yang bisa merubah takdirnya menjadi lebih baik. Dan punya kesempatan besar untuk merubah dunia

    • “Sedikit uda bisa untuk menggratiskan jika diperlukan”.
      Salute sama hal ini Mas.
      Pandangan seorang filsuf seperti Lao Tse memang luar biasa ya. mengajarkan kita untuk selalu bijak memandang hidup. terimakasih Mas Eraha udah share quote’s nya ke aku.

  4. Menurut saya bantuan kepada warga miskin bagi pelayanan kesehatan untuk mereka tidak cukup hanya sekedar JAMKESMAS. Mereka juga harusnya diberi tahu hak apa yang layak bagi mereka, atau mungkin kedepannya perlu ada petugas pendamping untuk pengurusan jasa pelayanan bagi pasien JAMKESMAS. Selama ini terlihat mereka kebingungan atau tidak bisa mengikuti prosedur yang benar juga semata-mata karena keterbatasan informasi bagi mereka.

    Semestinya memang begitu. Tapi masyarakat memang sering dibodoh-bodohi. Kasus JAMKESMAS ini seperti kasus Pajak. Masyarakat dihimbau untuk jadi rakyat bijak taat pajak, tapi sebatas kewajiban saja, sementara hak mereka tidak dijelaskan. Hak mereka untuk mendapat pelayanan di kantor perpajakan, hak mereka soal kemana aliran pajak, soal bagaimana prosedur pembayaran, juga tidak diajarkan. Jadinya timpang dan berat sebelah 😦

      • Aku ga kuat liatnya Bang. pernah aku ikut ngantri di poli bedah gt. pasien jamkesmas dibiarin jaa tergeletak di ranjang, berjam2 ikut ngantri. padahal udah sakit. di panggilnya pun seperti ga manggil orang, tapi seperti ngabsen sambil teriak2 marah2. sedih aku liat keluarga mereka kebingungan disuruh kesana kemari sementara saudara mereka tergeletak.
        lebih sedih lagi karna aku ga bisa apa2 saat itu bang, cuma bisa melihat. karn aku juga cm bisa trduduk di kursi tunggu.
        udah dapat pelayanan di bangsal kalo rawat inap, harus dapat perendahan bertubi-tubi.

  5. Sepakat, perlakuan pada pasien Jamkesmas itu sangat-sangat diskriminatif dan saya pernah mengalami. Semua fasiltas yang diberikan sangat jauh berbeda dengan kelas-kelas di atasnya.
    Bayangkan, pasien Jamkesmas yang dioperasi (bedah) saat keluar hany disediakan tempat tidur dari besi itu dengan alas seadanya. Dibawa/didorong keluarga, dan ditutupi kain yang dibawa keluarga. Sedangkan pasien VIP saat keluar operasi, tidur di atas tempat tidur khas VIP, selimut tebal dari RS, dan dibawa/didorong olhe petugs RS … ckckckc …. Itu yang pernah saya alami …

    • Fenomena ky gitu memang sering bgt terjadi riz. Paling ga dengan pengalaman seperti itu, ketika kita ada kemampuan disertai dengan kepekaan hati membuat kita cepat tergerak untuk membantu yang juga mengalami hal yang sama. Pengalaman pahit itu yang menempa kita untuk menjadi lebih baik.
      Semangat bersama yukkkk 🙂

  6. yah memang terasa sekali perbedaan pelayanannya mbak walaupun terbantu dengan adanya askes jamkesmas tapi tetap saja kalau diperlakukan yang tidak wajar cukup membuat miris :(..
    baiklah kita mulai dari diri sendiri dulu baru setelah itu kita galangkan kepada sesama \(^o^)/

Ikutan Komentar Yukkk...

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s