Cerita Soreku

Sore tadi aku menangis. Menghadap tembok beralas peraduan, merebahkan badan. Kuingat isi buku yang kubaca kemarin. Menggambarkan kegalauan hati lewat bentuk dikepalaku. Kugambarkan carut marut itu dalam bentuk abstrak sembari menutup mata. Kugambarkan dalam kertas pekat dikepalaku dengan tinta warna warni. Setelah lelah menggambar, kubayangkan kuremas kertas itu. Kemudian kubuang ke tempat sampah. Kuganti isi otakku dengan kertas polos. Heyyy… ternyata ini berhasil.

Saat merasa lebih tenang aku melangkah keluar rumah, membeli nasi dan lauknya. Saat sedih memang lebih baik keluar rumah. Menarik nafas dalam-dalam, bertemu orang kemudian berbagi senyum. Aku berbagi senyum dengan Ibu penjual di warung itu. Setelah makan, aku menutup mata sejenak. Saat itu warung sedang sepi, hanya aku seorang saja yang berkunjung. Kutarik nafas dalam membayangkan energi berwarna kuning masuk ke badanku, memecah sisa warna hitam, memecah sisa kesedihan di hatiku. Kubayangkan berulang-ulang sambil menarik nafas dalam-dalam, dan kubuang sisa hitamku lewat nafas yang keluar. Merasa lebih baik lagi.

Setelah lebih baik, kusapa Ibu itu untuk membayar dan berpamitan. Walaupun di warung makan, disini kami punya kebiasaan bepamitan setelah makan. Etika kesopanan. Aku melangkahkan kaki menuju sebuah toko kecil, kulihat wajah seorang wanita yang masam di meja kasir. Lantas apa aku akan ikut masam?. tentu saja tidak, aku tidak mau merusak suasana hati baru yang sudah kubangun. Cepat-cepat kumelangkah membayar setelah membeli beberapa jenis camilan.

Saat perjalanan pulang, aku bertemu dengan seseorang yang sangat kukenal. Seorang Ibu Tua, badannya kini begitu tua, ringkih, namun tetap harus memikul beban keluarga menghidupi anak cucu di rumah. Beginilah peliknya kehidupan, alasan ekonomi. Seorang wanita yang selalu memakai kebaya setiap hari dengan sarung batik sebagai bawahan. Dengan sanggul khasnya dan bakul jamu yang begitu berat dipikul di punggungnya.

Saat menulis catatan ini aku terpikir, hari Sabtu ini sebaiknya aku menemani Ibu itu berjualan di sore hari. Biar tau rasa peliknya kehidupan. Biar tau bagaimana susahnya Ibu mencari uang. Biar tau diri jadi anak. Saat bertemu aku baru selesai makan. Tapi kupesan juga jamu kunyit beras kencur. Tidak baik kiranya perut dalam kondisi kekenyangan, tapi tak apalah. Ada niat lain untuk membantu Ibu yang berjuang untuk keluarganya. Mengingatkanku pada Ibu di rumah. Keterlaluan bila aku mendurhakai beliau.

Keterlaluan pula bila aku lama-lama membiarkan beliau bersusah sendiri. Apalah yang sudah kuberikan untuk beliau?. Selama ini hanya mampu menemani beliau berdiskusi, walaupun aku tau beliau banyak menyembunyikan beban hati. Begitulah wanita, selalu tampil tegar di hadapan anak-anaknya, kemudian menguatkan suaminya dalam sesulit keadaan. Tapi Ayah kini tiada, maka Ibu menguatkan ayah dalam doa yang terlantun dari bibirnya. Susahnya menata hati. Maka jangan sakiti mereka yang telah kau anggap berdedikasi untuk diri atau hidupmu.

Kuakhiri sore dengan saling menebar senyum pada Ibu itu, indahnya rasanya. Seraya berpamitan dan mencium tangannya. Kuanggap ia Ibuku yang lain disini. Yang memberikan keteladanan bagiku. Terimakasih Ibu. Hilang sudah air mata. Terima kasih Krishnamurti untuk terapi yang dibagikan lewat guratan tulisan di bukumu.

Semoga hari rekan blogger yang lain menyenangkan🙂

24 thoughts on “Cerita Soreku

    • Ketegaran. Keikhlasan. Ketulusan.
      tidak mudah menjadi wanita, begitu juga menjad pria.
      masing2 punya kekuatan sendiri.
      wah,,, tulisanny mengenai perjalanan kopdar. seru sekali.. hehehe

  1. Eleanor Roosevelt, first lady AS th 33-45 pernah berkata:

    “A woman is like a tea bag; you never know how strong it is until it’s in hot water.”

  2. “Kugambarkan dalam kertas pekat dikepalaku dengan tinta warna warni. Setelah lelah menggambar, kubayangkan kuremas kertas itu. Kemudian kubuang ke tempat sampah. Kuganti isi otakku dengan kertas polos.”

    ati2… mungkin dalam kertas penuh coretan warna-warni itu terselip memori berharga… jangan sampai ikut terbuang hanya karena menyatu dengan warna kelam….

  3. Bagus. Selagi masih hidup berbaik-baiklah dengan ibumu. Kalau nanti sudah berpisah karena usia, entah duluan diri atau duluan ibu (sebab kita tak tahu misteri ajal), tak akan ada rasa sesal tinggal menggumpal.🙂

  4. wahhh indahnya dunia wanita hehehehe – aku tutup mata kubayangkan betapa beratnya aktivitasku hari ini kuremas remas kubuang dan kulanjutkan tidurku lagi hahahahaaha –

    d(^o^”) salam untuk seorang ibu disana ya mbak

Ikutan Komentar Yukkk...

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s