Stevia – Kaya Manfaat

Beberapa rekan blogger mungkin pernah mendengar nama daun stevia yang disebutkan dalam sebuah iklan produk di televisi. Sebagai bahan pemanis alami tambahan (gula) yang diekstrak dari daun stevia yang ditambahkan pada produk tersebut.

Topik ini saya tulis di blog, karena saya merasa informasi tentang daun stevia ini cukup bermanfaat, baik dilihat dari segi fungsi maupun prospek peluang bisnis kedepan.

Awalnya saya dan adik saya berdiskusi tentang topik-topik bermanfaat yang telah dibagikan oleh dosen di kampus. karena kami kuliah di jurusan dan kampus yang sama. Maka diskusi seperti ini mampu memperkaya wawasan satu sama lain. Adik saya yang pertama membahas soal daun stevia ini.

Dosen mata kuliah Mikrobiologi Industri (Ir. Soedarmaji) yang awalnya berujar mengenai hal ini. Gula stevia sudah dikenal di Indnesia sejak tahun 1968. Pada saat itu karena produksi gula stevia yang terbatas maka harga jualnyapun menjadi tinggi. Untuk tahun 1968 harganya telah mencapai 30.000/kg. Gula stevia masuk ke Indonesia sebagai gula impor.

Peniliti Indonesia pada saat itu sebenarnya telah mampu mengembangbiakkan spesies daun stevia di Indonesia. Dan membuat pabrik gula stevia. Dosen saya yang pada saat itu berprofesi sebagai peneliti menyampaikan gagasan dan rancangan mengenai pendirian pabrik gula stevia yang ditinjau dari segi prospek dan keuntungan sangat baik pada saat itu pada pemerintah. Tapi rupanya kebijakan politik tidak berpihak pada peneliti.

Setelah berpuluh tahun kemudian daun ini kemudian kembali menjadi populer bahkan kini produsen minuman bersoda “Coca-Cola” dan “Pepsi” juga berencana mengganti pemanis buatan yang mereka gunakan dalam produk minumannya dengan ekstrak stevia. Gebrakan ini juga kemudian diikuti dengan perusahaan yang ingin menghasilkan produk sehat tanpa pemanis buatan yang beresiko. Manis alami rendah kalori.

Ini adalah kemenangan monumental bagi bahan alami yang sehat atas bahan kimia sintesis.

Apa itu Stevia?

Division             : Spermatophyta

Sub division     : Angiospermae

Class                    : Dicotyledoneae

Ordo                    : Asterales

Familia               : Composite

Genus                 : Stevia

Spesies : Stevia rebaudiana Bertonii M.

(Hutapea, 1991).

Stevia adalah tumbuhan perdu asli dari Paraguay. Cocok pada tanah berpasir dengan tinggi tanaman maksimal 80 cm. Daunnya mempunyai rasa lezat dan menyegarkan. Gula stevia telah di komersilkan di Jepang, Korea, RRC, Amerika Selatan untuk bahan pemanis bagi penderita diabetes dan kegemukan.

Stevia yang pernah ditanam di Indonesia berasal dari Jepang, Korea dan China. Bahan tanaman tersebut berasal dari biji sehingga pertumbuhan tanaman stevia di lapang sangat beragam.

Kualitas daun stevia dipengaruhi banyak faktor lingkungan seperti jenis tanah, irigasi, penyinaran dan sirkulasi udara. Harus dijaga dari gangguan bakteri dan jamur. Kualitas stevia didasarkan atas aroma, rasa, penampakan dan kemanisannya. Pengguaannya stevia memberikan rasa yang unik tidak seperti pemanis kebanyakan yang menimbulkan rasa pahit pada akhirnya. Rahasia kemanisan stevia terletak pada molekul kompleksnya yang disebut steviosida yang merupakan glikosida disusun dari glukosa, sophorose dan steviol.

Tingkat kemanisan gula stevia sekitar 200-300 kali (kadang 500 kali) tingkat kemanisan sukrosa (gula tebu). Sementara itu, siklamat, pemanis sintetis kontroversial yang masih sering digunakan, ternyata hanya mempunyai tingkat kemanisan antara 100-200 kali kemanisan sukrosa. Dengan kata lain, tingkat kemanisan gula stevia jauh lebih unggul apabila dibandingkan dengan siklamat atau aspartam yang selama ini masih banyak dipakai sebagai pemanis berbagai macam produk makanan dan minuman.

Di Indonesia, tanaman stevia belum menunjukkan peranannya secara nyata sebagai salah satu komoditi sumber pemanis. Padahal di banyak negara, pemanis stevia telah berhasil tampil menjadi salah satu komoditi perdagangan baik lokal maupun ekspor. Sebenarnya apabila dipandang dari potensinya, tanaman stevia dapat dipastikan memiliki prospek yang baik untuk dikembangkan di Indonesia. Tapi sayangnya hingga saat ini belum banyak perusahaan atau investor yang tertarik untuk mengembangkan stevia secara besar-besaran.

Penggunaan Pemanis Buatan Tidak Terkontrol

Sebenarnya, pemerintah sudah memberikan rambu-rambu melalui Peraturan Menteri Kesehatan Republik lndonesia No. 208 / MENKES / PER / lV / 1985 tentang Pemanis Buatan dan No.722 / MENKES / PER / lX /1988 tentang Bahan Tam bahan Makanan. Dalam peraturan tersebut meliputi jenis makanan dan minuman yang boleh diberitambahan pemanis buatan, jenis dan batas maksimal penggunaan bahan pemanis buatan yang diijinkan Untuk konsumsi maksimum sakarin yang dianjurkan adalah sebanyak 2,5 mg per berat badan per hari, siklamat 11 mg per berat badan per hari dan aspartam 40 mg/hari Akan tetapi, meskipun peraturan sudah ditelurkan penggunaan pemanis buatan oleh industri maupun produsen tetap saja tidak terkontrol.

Contoh pemanis buatan yang banyak digunakan di pasaran adalah Aspartam, Sakarin, dan Siklamat. Di dalam tubuh aspartame, yang lebih mudah disintesis ini, kembali diubah menjadi 3 komposisi dasarnya: phenylalanine, aspartate dan methanol. Inilah yang menyulut perdebatan sengit seputar aspartam yang sampai sekarang pun masih belum benar-benar terselesaikan.

Phenylalanine adalah asam amino yang tidak dapat dicerna oleh penderita phenylketonuria (PKU). Penderita PKU tidak mempunyai enzim yang dapat mencerna phenylalanine menjadi zat transmisi saraf. Akibatnya phenylalanine terakumulasi dalam jaringan saraf dan dapat menyebabkan cacat mental.

Efek buruk aspartame terhadap penderita PKU yang sudah jelas ini masih dapat diatasi dengan label tambahan yang memperingatkan penderita PKU untuk tidak mengkonsumsi produk tersebut. Yang jadi masalah ialah efek aspartame yang masih belum jelas: phenylalanine dilaporkan dapat menyebabkan kejang-kejang dan dan didegradasi menjadi diketopiperazine (DKP), zat penyebab tumor; methanol yang terakumulasi dalam tubuh dapat merusak saraf mata dan menyebabkan kebutaan. Selain itu methanol juga diubah menjadi formaldehida (zat pengawet mayat) dan asam format (zat racun semut rangrang). Aspartate juga dilaporkan telah menyebabkan otak tikus-tikus percobaan berlubang.

Di Amerika, di mana kegemukan sudah menjadi masalah nasional dan bukan hanya problem pribadi, laporan-laporan miring mengenai aspartame ini cukup menggegerkan. Grafik kasus kanker payudara menunjukkan peningkatan yang selaras dengan peningkatan penggunaan aspartame dalam produk makanan jadi, suatu fakta yang lagi-lagi menambah alasan mengapa aspartame harus dicurigai

Penggunaan sakarin dan siklamat sebagai zat pemanis makanan dari beberapa penelitian ternyata dapat menimbulkan karsinogen. Dari hasil uji coba menunjukkan bahwa meningkatnya tumor kandung kemih pada tikus melibatkan pemberian dosis kombinasi sakarin dan siklamat dengan perbandingan 1: 9.

Efek merugikan dari pemanis buatan inilah yang mendorong perlunya alternatif pengganti pemanis (gula) yang sifatnya lebih aman dan kalau perlu aman untuk dikonsumsi orang yang mempunyai pantangan terhadap gula karena masalah kesehatan (baca: diabetes)

Di lndonesia sendiri Stevia banyak dijumpai di daerah Ngargoyoso, Tawangmangu, Karanganyar, Jawa Tengah. Akan tetapi pengembangannya masih belum terlalu luas.

Manis Daunnya, Manis Untungnya

Daun stevia bisa menjadi bahan pemanis pengganti gula. Kandungan kalorinya boleh dibilang nol. Ini membuat daun stevia banyak diburu industri jamu untuk pengganti gula. Bagi para penderitanya, penyakit diabetes atau gula tentu menjadi momok yang menakutkan. Padahal, tanpa gula, makanan dan minuman terasa kurang mantap, bahkan hambar. Maka, pemanis rendah kalori kini semakin banyak diminati oleh masyarakat.

Memang, daun stevia belum cukup poluler di masyarakat kita. Kini permintaan didominasi oleh pabrik jamu. “Ekstrak daun stevia bisa mengurangi rasa pahit jamu sehingga rasanya lebih enak”. Padahal, di luar negeri, stevia biasa dipakai sebagai pemanis kue atau minuman. Bentuknya pun bervariasi, mulai dari bubuk hingga cairan berasa aneka buah.

Pada lahan seluas 2.000-3.000 meter persegi. tiap bulan bisa diproduksi stevia kering sekitar 2-3 ton. campuran daun dan batang stevia kering seharga Rp 10.000 per kilogram. Dari bisnis ini, omzet yang bisa dikantongi mencapai Rp 30 juta per bulan.

Namun, bila mampu meproduksi stevia yang sesuai dengan spesifikasi permintaan pasar ekspor, tentu saja harga jual yang dicapai dapat lebih tinggi. Pasar ekspor menghendaki daun yang memiliki kadar air maksimal 10% dan kandungan kotoran maksimal 3%.

Cara pembudidayaan bisa dilihat disini

Pengeringan Optimal Stevia

Pengeringan daun stevia dapat dilakukan dengan dua cara yaitu dengan sinar matahari atau dengan alat pengering buatan. Apabila pengeringannya dilakukan dengan sinar matahari, maka daun diletakkan di atas alas plastik, tampi, atau jenis alas lainnya. Bila keadaan cuaca baik, cara ini hanya membutuhkan waktu pengeringan sekitar 8 jam. Sedang pengeringan dengan menggunakan pengering buatan seperti oven, waktunya lebih cepat lagi yaitu sekitar 4 jam pada suhu 70 ºC.

Daun stevia yang telah kering warnanya hijau kekuningan. Daun stevia kering yang bermutu baik setidaknya harus memiliki kadar air maksimum 10%, kadar steviosida minimum 10% dan kadar kotoran maksimum 3 %. Apabila pengeringan daun dilakukan di atas suhu 70 ºC maka kadar steviosida akan sedikit mengalami penurunan. Sedangkan penggunaan suhu sampai 80 ºC selain akan mengakibatkan terjadinya penurunan kadar gula dalam daun juga akan timbul warna coklat kehitaman. Daun stevia yang mengalami keterlambatan pengeringan akan berwarna hitan karena terjadi proses fermentasi oleh mikroorganisme yang disertai perombakan senyawa steviosida. Fermentasi juga akan terjadi pada daun stevia yang terkena air yang juga akan menyebabkan kebusukan.

Daun-daun stevia yang telah dikeringkan selanjutnya dikemas. Biasanya daun dimasukkan ke dalam karung dengan berat 20 kg/bal. Dengan cara pengemasan yang baik dan tertutup rapat, daun stevia bisa disimpan sampai satu tahun bahkan lebih. Nilai ekonomi daun stevia dari 1 kg daun stevia basah akan diperoleh 0,20-0,25 kg daun kering (rendemen 20-25%). Sedang rendemen dari daun kering menjadi kristal gula stevia sekitar 0,8-1%. Dengan kata lain dari setiap 100 kg daun kering akan didapatkan 0,8-1 kg gula.

Cara Penggunaan stevia dalam pemanis makanan sehari-hari

Membuat sendiri pemanis stevia cair siap pakai amat mudah dan simple. Waktu yang dibutuhkan hanya 10 menit.

Caranya:

  • Masukkan 1 sendok teh stevia bubuk kedalam filter/ saringan teh atau kopi.
  • Letakkan saringan tersebut kedalam mug / gelas tahan panas.
  • Tuangkan air mendidih kedalam saringan yang sudah berisi bubuk stevia tersebut.
  • Biarkan mengendap selama 5 menit.
  • Angkat saringan dan ampas stevia dari dalam mug / gelas.
  • Diamkan stevia cair sampai dingin.
  • Masukkan stevia cair yang sudah dingin kedalam botol saus/kecap plastik yang mempunyai lubang kecil. Gunanya agar mudah diatur pengeluarannya.
  • Simpan ditempat yang dingin.
  • Gunakan dengan cara diteteskan, sebab stevia sangatlah manis.

Tips:

  • Jangan memeras ampas stevia disaringan untuk mengeluarkan airnya. Ini akan menyebabkan rasa getir / pahit.
  • Pengendapan yang lebih lama dapat menyebabkan rasa getir / pahit.
  • Gunakan stevia cair per tetes, rasakan dan cicipi dulu baru menambahkan tetes berikutnya. Jangan berlebihan dalam penggunaannya.

Kegunaannya bagi kesehatan

Menurut lr. Dewi RN MP dalam situs Kandha Raharja menyebutkan bahwa ekstrak stevia telah terbukti bermanfaat membantu program diet, digunakan juga untuk mereka yang mempunyai penyakit diabetes disamping itu juga dapat membantu keindahan  serta berperanan dalam mengatur tekanan darah. Sari dari daun Stevia yang berperanan sebagai pengganti gula ini, sangat cocok untuk dicampur dengan teh atau kopi serta dapat juga dicampurkan ke dalam masakan yang kita makan setiap hari.

Semoga informasi mengenai stevia ini bisa bermanfaat bagi rekan-rekan blogger. :-)

Tulisan ini saya dedikasikan bagi penderita Diabetes.

Sumber

http://eone87.wordpress.com/2010/04/03/643/

http://www.bic.web.id/in/berita/artikel/125-fda-menyetujui-stevia-mengakhiri-era-opresi-terhadap-pemanis-herbal-ini.html?start=3

http://www.chem-is-try.org/

http://budidayastevia.wordpress.com/2010/01/06/cara-membuat-pemanis-stevia-cair-siap-pakai/

http://cumanisengaje.blogspot.com/2011/01/daun-stevia-pengganti-gula-alternatif.html

http://www.ciputraentrepreneurship.com/agrobisnis/2796-daun-stevia-manis-daunnya-manis-untungnya.html

13 thoughts on “Stevia – Kaya Manfaat

    • hehehe… saya juga sebenarnya belum pernah liat secara langsung mas eraha. tapi karena ada obrolan tentang stevia. langsung nyari info lengkapnya. biar semakin banyak orang yang mengenal stevia. =)

    • Mbak Ima…maaf ya. Saya ga bisa ngasih info jelas kalau mau beli stevia yg asli dimana. Yang saya posting mengenai stevia disini sebatas postingan literatur. Semoga tetap sehat dan semangat ya mbak.

Ikutan Komentar Yukkk...

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s