Don’t cry, Don’t be shy, Be your self.

Karena kesibukan di dunia nyata mau tidak mau harus memilih. Sehingga aktivitas nge-blog harus terabaikan. Maaf bila banyak komentar yang belum terbalas. Dengan segala keterbatasan saya semoga rumah ini bisa terus aktif dan membagi manfaat bagi yang membaca. Banyak hal yang ingin ditulis, tapi rasanya topik inilah yang paling bercokol kuat di kepala.

‘Kenapa harus malu?’.

Pertanyaan yang aku lontarkan dulu kepada diriku sendiri sebelum kutujukan pada orang lain. Karena dulu aku sempat  malu dan takut akan sentimen negatif orang lain. Tapi aku putuskan, aku tidak ingin dikasihani karena apapun yang melekat di diriku untuk itulah aku harus hidup lebih kuat.

Mungkin bagi yang sering mampir akan bosan saat aku terus menyuarakan hal-hal yang bertemakan ‘menjaga kesehatan atau sakit’ tapi tak masalah. Semoga tetap ada manfaat yang bisa diambil.

Tulisan ini terinspirasi dari pertanyaan seorang teman blogger yang dipertemukan oleh Tuhan denganku yang bertanya “Apa kita harus malu dengan kondisi kita saat ini mbak?”. Dengan kejang, kram, atau kesemutan yang bisa terjadi dimanapun, kapanpun, atau anggota tubuh manapun yang dilewati sistem saraf motorik. Atau dengan keterbatasan kita dalam beraktifitas atau mungkin dengan keterbatasan kita dalam mengingat.

Ya Rabb, terimakasih atas semua. Sakit ini berkah.

Aku tidak bisa menolak apapun yang digariskan Tuhan, tugasku hanya untuk menjalani apa yang sudah digariskan-Nya yang merupakan efek kausatif dari pilihan yang kuambil untuk kujalani di hidupku. Tidak kusesali apapun kini, karena aku merasa bisa jauh hidup lebih baik saat sakit. Sakit ini benar-benar pembelajaran bagiku.

Awalnya aku banyak bertanya “Why must me?” sampai masa berdamai dengan kenyataan hidup datang. Bagiku saat sakit bukan alasan bagi orang-orang di sekitarku untuk mengasihaniku. Atau alasanku untuk manja dan meminta belas kasihan orang. Kenapa?. Karena pada dasarnya semua orang yang hidup berjuang untuk dirinya kemudian berjuang untuk orang lain.

Dulu aku lebih banyak menerapkan yang terpenting adalah berbagi pada sesama, masalah yang berkaitan dengan diri menjadi terbengkalai pada akhirnya. Karena dasarnya banyak pilihan dalam hidup untuk dijalani, maka pilihan atas apa yang akan dijalani kembali berpulang pada individu masing-masing. Dan aku memilih untuk mencoba lebih mencintai diri, mencoba lebih adil pada diriku yang juga punya hak untuk diperhatikan.

Ini mungkin mewakili apa yang ‘kami’ inginkan’?.

Kutipan ini adalah kutipan favorit pribadi yang menyadarkanku bahwa inilah yang juga kurindukan saat sakit, bukan rasa kasihan.

“Pengen deh, sekaliiiii aja gantian ditanya , HOW ARE YOU … toh gue setiap hari setiap menit juga nanyain itu, memastikan semua baik ”

“Pengen deh, sekaliiiiii aja ditanya KAMU PENGEN APA … mungkin sekali dua kali setahun itu cukup ,toh sisa hari lainnya gue akan memastikan lo dapet apa yang lo pengen ”

” Pengen deh sekaliiiiiii aja dipeluk pas keliatan gue udah breakdown, bukan malah dicecer pertanyaan kenapa gue nangis kenapa kenapa kenapa kenapa ”

” Pengen deh sekaliiiiiiii aja denger kata sayang diucapin ke gue , tanpa harus diminta , karena itu paling bisa menenangkan ”

” Pengen deh skali sekali gue mendapat hadiah or kejutan …. yang bikin gue berhenti bertanya , Apa sih fungsi gue disini ? ”

Dan kadang , gue berharap , ada yang lakuin itu , sekalipun itu bohong .

-(Melanie Subono, Tulus)-

Saat sakit, saat itulah kau melihat siapa orang-orang yang ada di sekitarmu

Berkali-kali keluar masuk RS dengan kondisi jauh dari keluarga dan harus menjalani opname sendiri dengan berbagai rasa getir di dalamnya membuat aku bertanya kemana orang-orang yang dekat denganku. Orang-orang yang aku dampingi selama ini tapi tidak mendampingiku dimasa benar-benar butuh untuk didampingi. Atau mungkin siapa yang akan memberi sedikit motivasi dan pencerahan untuk lebih kuat. Saat getir itu menyapa, ternyata tak ada yang menghampiri selain kash sayang Tuhan. Disaat seperti itulah aku merasa “Cukuplah Tuhan sebagai penolong”. Dan menjadi cukup pula untuk tidak berharap sekedar perhatian dari orang lain. Mungkin hanya Ibu yang setia dengan kasih sayangnya dan juga kekhawatirannya yang memuncak bila tau kondisiku yang seperti itu, dan akhirnya hari-hari dilewati sendiri. And i’m done and maybe also success for it.

Benar-benar terlihat siapa orang yang selama ini ada di dekatmu, siapa yang tulus, siapa yang benar-benar peduli, siapa yang benar-benar perhatian, siapa yang benar-benar memahami, dan siapa yang benar-benar hadir saat itu. Entah mengapa aku merasa lebih mudah menakar hal-hal seperti itu disaat sakit.

Kalaupun hari ini aku menuliskan mengenai hal ini bukan bermaksud untuk mendulang kata ‘kasihan’. Hanya ingin berbagi saja, siapa tau ada di antara orang yang membaca tulisan ini yang tergugah. Tolong bersikaplah lebih baik pada yang sedang diuji dengan sakit, bukan di atas dasar ‘kasihan’ tapi di atas dasar ‘sayang’.

Kalau mau disayangi, orang yang sakit juga tidak boleh menyebalkan

Jangan pernah menutup diri dari orang lain karena sakit, jangan menolak pertolongan atau nasehat positif dari orang lain, dan jujurlah mengakui keterbatasan dirimu. Karena menurutku bagian yang paling sulit saat sakit adalah bagian dimana kita harus mengakui keterbatasan kita sebagai manusia. Terlalu banyak bercermin pada kelebihan atau pencapaian orang sampai lupa akan kelebihan pribadi.

Ada satu hal yang dulu membuat jiwaku bangkit untuk terus berjuang sampai saat ini “mensyukuri sekecil apapun pencapaian yang bisa diraih dalam berdamai dengan keterbatasan dan hidup dalam kondisi mental yang naik turun”. Apapun itu anggap sebagai progress positif dalam hidup, ternyata tanpa disadari hal seperti itu mampu membuat pribadiku yakin akan kemampuan untuk tetap bertahan ditengah berbagai tekanan orang, judgement orang, atau tanggapan negatif orang lain akan kondisiku saat ini.

Kalau ada sentimen negatif dari orang-orang yang tidak tau tentang kita ‘abaikan’. karena mereka memang hanya bisa menghakimi, tanpa peduli perjuangan kita. Jangan karena tanggapan sentimen seseorang kemudian kita juga menanggapi bahwa semua orang sama.

Mengapa saya membuat catatan seperti ini?

Aku yakin kita bertemu seseorang itu karena benang merah atau takdir Tuhan, bagaimana takdir bekerja dengan keajaibannya. Tuhan mempertemukan orang dengan frekwensi yang sama bukan hanya karena kebetulan semata, tapi inilah takdir.

Sejak hidup bersama spasmofilia aku banyak bertemu dengan kawan-kawan dengan ujian yang menurutku jauh lebih berat. Dengan tekanan fisik dan mental yang juga luar biasa menguras harapan, energi, dan kepercayaan diri karena menurunnya kemampuan diri.

Tidak pernah terbayangkan akan hidup bersama spasmofilia, yang menurut sumber di internet ‘sederhana’ baik gejala maupun penanganan tapi ternyata sulit dan cukup berat menjalaninya. Hanya berharap kawan-kawan saya yang kini juga hidup bersama spasmofilia tetap bersemangat.

Tuhan itu maha adil, hadiah ini bagian dari keadilanNya.

Bagi yang  sehat dan memiliki pasangan, keluarga, anak, atau saudara yang kini berjuang dengan sakit. Tolong beri mereka dukungan positif, bukan sekedar kata ‘kasihan’, beri mereka kasih sayang yang memandirikan.

Bagi yang sakit ayo bergandeng tangan untuk hidup lebih kuat.

Jangan pernah malu pada dirimu sendiri, karena saat kau malu, kau menjatuhkan mental dan dirimu sendiri. Don’t cry, Don’t be shy, Show ur self and be ur self.

Tulisan ini saya dedikasikan untuk orang-orang yang saya kenal dan sedang berjuang untuk membangun diri dan terus hidup lebih baik.

Semoga bermanfaat 🙂

Iklan

44 pemikiran pada “Don’t cry, Don’t be shy, Be your self.

  1. saya baca judulnya jadi ingat lagunya sule yg smile, you, don’t cry~.
    saat sakit kita akan melihat siapa yg benar2 ada di dekat kita. dan ini bener banget 😦

  2. sangat bermanfaat, untuk saya. ^_*

    thanks sist, semua yang sudah digariskan oleh-Nya memang tidak bisa kita hapus ataupun kita ubah. . .
    jalani saja hidup ini dengan penuh tanggung jawab. 😉

  3. jd inget pas sakit dulu, kerasa banget perhatian sahabat yang tulus ada saat kita sulit tapi kadang kita lupa ngajak klo lgi seneng… sakit bukti kasih sayang Allah pada kita ya mba, agar senantiasa bersyukur.. 😉
    thema blog nya simple tapi bikin hati kepincut,,
    SEmangaaat;)

  4. Halo apa kabar Cit.cit? hehee maap ya gue ngasih nama julukan buat kamu. Tapi kn g papa anggap aja sebagai tanda sayang. (lhaa emang gue siapa?) gue kn teman blogger you!. Hmmm… spas..spas.. apa tadi? spasmofillia? Gue nggak tahu itu apa. hehee yang jelas biarpun sakit kayak apa loe musti semangat.

    saran! baca aja buku SKUT! Ugh! mantap. kamu bakal tahu kalo hidup lu amat berarti. terus semangat ya Cit-Cit..
    😀 salam sayang 2Pai
    wkwkwkkwk

  5. so touchy…aku masih blom yakin apa mengidap spasmofilia atau bukan walaupun setiap browsing dan baca ttg spasmofilia gejala2 yang aku rasain kurang lebih sama…tp aku juga mengidap Gastritis yang juga punya gejala umum yang hampir sama.hanya saja bedanya dengan penderita gastritis lain tidak ada yang mengeluhkan mengalami kejang/tegang otot,berpindah2,kesemutan…sebenernya itu yang bikin stress…atau stress yang memicu itu semua? bingung! tp baca sharing2 Citra yang penuh semangat rasanya menguatkan hati…ini bukan sekedar satu ‘kebetulan’ …could us be friend? 🙂

    • Sure, we could. mbak punya FB atau twitter?. biar bisa sharing2 gitu. sebenarnya seperti lingkaran setan kalau kata dokter mbak. stres bisa menjadi pemicunya, dan gejala spasme menjadi pemicu stres. ini sudah seperti makanan sehari2. maksudnya, jadi koreksi buat lebih bisa mengatur diri. saya ga percaya kebetulan itu ada mbak. semua udah di atur sama pemilik kehidupan kita.
      kalau saranku nih mbak. periksa dulu aja. mbak butuh info atau support apapun hubungin aku aja. semoga bisa membantu. ^^

  6. Salam kenal mbk citra.. Aku nemuin blog ini, saat diagnosa sementara dr dokter spasmofilia.. Langsung aku cari tawu tentang spasmo sblm observasi dengan EMG… Dan ternyata aku positif spasmo grade 3.
    Setalah 6 tahun tidak terditeksi.. Dl di kira epilepsi tp negatif. Dan kini baru ketahuan.. Ternyata aku sama dengan mbk citra. Jujur… Saat aku baca postingan ini… Air mataku sudah tak snggup untuk bersembunyi lg. apa yg mbk citra sampaikan itu sangat benar. Mngkn mbk citra hanya sekedar psikis.. Yg mana masih bisa jalan sendiri ke dokter, yg masih bisa keluar makan bakso. Sedangkan aku psikis, klinis, dan rernyata genetika juga. Krn ibuku sering pingsan saat hamil anak2nya. Dan kini syaraf motoriku masi lemah, kadang megang sesuatu gak bisa lama2… Kadang tiba2 jatuh.. Nulispun agak sulit. Semoga aku , mbk citra dan tmn2 yg terkena spasmo bisa tetep semngt untuk sembuh. Dan pasrah serta sabar menjalani semua ini….semangat mbk citra!! 🙂
    *mungkin aku juga mau bikin blog ttg spasmo ini

Ikutan Komentar Yukkk...

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s