Refleksi Dirgahayu “Lewat Djam Malam”

Dirgahayu Indonesia ke-67

Apa yang kawan-kawan lakukan untuk mengisi hari kemerdekaan tahun ini?.

Pasti jawabannya macam-macam. Ada yang mengikuti upacara bendera baik secara langsung maupun di TV. Ada yang mengadakan acara 17-an. Ada pula yang mengadakan kirab.  Apapun kegiatannya, semoga semangat nasionalisme masih melekat.

Malam ini saya menghabiskan malam 17-an dengan menonton film “Lewat Djam Malam” (1954) garapan Usmar Ismail di Kompas TV.

Setelah melalui proses restorasi selama 1,5 tahun di Italia, film Lewat Djam Malam karya sineas Usmar Ismail (1954) akhirnya bisa dinikmati publik di negeri sendiri.

Restorasi film Lewat Djam Malam ini dibiayai National Museum of Singapura (NMS) dan World Cinema Foundation yang didirikan sineas dunia Martin Scorsese. Sebelum diputar di Indonesia, film Lewat Djam Malam lebih dulu diputar di Festival Film Cannes, 17 Mei lalu. Film tersebut terpilih dalam kategori World Classic Cinema.

Proses restorasi dimulai sekitar tahun 2010. Pihak NMS memercayakan penggarapan restorasi film kepada L’Immagine Ritrovata yang fokus pada restorasi film di Bologna, Italia.

Untuk membiayai proses restorasi tersebut, NMS mengeluarkan biaya mencapai 200.000 dollar Singapura atau sekitar Rp 1,4 miliar. Belakangan, World Cinema Foundation, yaitu lembaga yang juga fokus pada pelestarian film dunia, menyumbang sekitar 50.000 euro atau sekitar Rp 700 juta. Restorasi film ini melibatkan Kineforum, Konfiden, dan Sinematek Indonesia.

Secara pribadi menurut saya film ini menarik. Lewat Djam Malam merupakan film Usmar Ismail yang kuat konteks sejarahnya. Di film itu digambarkan bagaimana perebutan klaim antara TNI dan pihak sipil atas siapa yang paling berperan dalam keberhasilan kemerdekaan Indonesia.

Film ini menokohkan seorang mantan tentara yang ingin memulai kehidupan barunya sebagai penduduk sipil. Ada pergolakan idealisme antara tokoh utama dan pemeran lainnya yang juga mantan tentara. Saat mencoba menjadi penduduk sipil. Ternyata tidak semudah yang dibayangkan, sampai akhirnya tokoh utama melibatkan pacar dan keluarga pacarnya untuk meminta bantuan dicarikan pekerjaan, karena ternyata saat memutuskan menjadi penduduk sipil korupsi merajalela atas nama perjuangan tentara. inilah yang membuatnya sulit dalam mencari pekerjaan.

Ditengah bagian ini ditampilkan cerita percintaan dan pergaulan pada era itu. Era pesta dengan bernyanyi serta berbalas pantun lewat nyanyian berirama khas indonesia namun modern. Ada potong lagu bebek angsa dan rasa sayange yang dinyanyikan. Suguhan yang langka.

Pada akhirnya pemeran utama tau kalau sebenarnya gerakan revolusioner yang dilakukannya hanya untuk keuntungan golongan tertentu, yaitu pimpinannya selama menjadi tentara. Inilah yang menjadi tonggak konflik dalam film ini, hingga ada aksi pembalasan dendam.

Mengapa judulnya Lewat Djam Malam?.

Saat itu ada jam malam yang diberlakukan untuk warga sipil. Ketika melanggar akan ditembak. Karena  melanggar aturan ini akibat ketakutan setelah melakukan pembalasan dendam, tokoh utama tertembak di hadapan pacarnya sendiri. Ending yang tragis.

Mungkin bisa disebut karya terbaik Usmar Ismail. Sebuah kritik sosial cukup tajam mengenai para bekas pejuang kemerdekaan pasca perang. Maka di akhir film dibubuhkan kalimat: “Kepada mereka yang telah memberikan sebesar-besar pengorbanan nyawa mereka, supaya kita yang hidup pada saat ini dapat menikmati segala kelezatan buah kemerdekaan. Kepada mereka yang tidak menuntut apapun buat diri mereka sendiri.”

Bila direfleksikan dengan fakta sosial saat ini, lihatlah bagaimana para veteran kini hidup dengan hasil pensiunan yang tidak seberapa. Padahal taruhan nyawa diabdikan.

Bagi saya, inilah salah satu bentuk nyata pada masa itupun kritik sosial sudah bisa disampaikan lewat proses kreatif yang menarik. alurnya jelas, ceritanya utuh. Inilah bentuk bahwa perfilman Indonesia tahun 50-an sudah mampu menghasilkan karya yang bagus. Terlepas dari apapun kritik yang melekati film ini. Bagi saya karya ini masterpiece.

Agak miris bila dibandingkan dengan film Indonesia yang saat ini marak, judul menarik bahkan adaptasi dari buku-buku best seller alurnya meloncat kesana kemari sehingga cerita yang ditampilkan terkesan dipaksakan dan tidak utuh. atau bermodal pemain dengan kemolekan tubuh disertai adegan syur, dsb yang tujuannya tidak lain untuk mengejar keuntungan. Bukan menorehkan makna.

Mari bercermin dari sejarah. Maju terus perfilman Indonesia.

Jayalah Indonesiaku, Jayalah negeriku.

Sumber referensi

http://oase.kompas.com/read/2012/06/05/11132191/.Lewat.Djam.Malam.Bisa.Ditonton.21.Juni

http://filmindonesia.or.id/movie/title/lf-l014-54-609457_lewat-djam-malam#.UC548amTuZk

http://id.wikipedia.org/wiki/Lewat_Djam_Malam

 

 

 

Ikutan Komentar Yukkk...

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s