Laporan BHSB Fase 4 Semarang

Akhirnya BHSB fase 4 Aceh kini telah selesai. Dimulai sejak awal September pengumpulan buku dari berbagai daerah telah dilakukan. Dari wilayah semarang terbagi atas dua orang yang mengumpulkan, yaitu Saya dan Mas Slamet Riyadi. Mas Slamet pada pengumpulan buku kali ini mengirimkan sekardus buku seberat 10kg.

Saya sendiri mengirimkan 2 buah kardus buku seberat 20kg. Buku-buku yang telah terkumpul semuanya dikirimkan ke Jakarta. Setelah terkumpul di Jakarta baru dikirim ke Aceh. Buku-buku yang saya kirimkan didominasi isinya dengan buku-buku pelajaran sekolah. Khususnya buku-buku Sekolah Dasar dan Sekolah menengah pertama. Semoga bermanfaat bagi adik-adik di Aceh sana.

Dua kardus buku yang dikirim ke Jararta. Foto diambil sesaat sebelum buku dikirim.

Banyak pihak yang tentu saja sangat membantu saya dalam pelaksanaan program BHSB fase 4 Aceh kali ini. Ucapan terimakasih yang sebesar-besarnya saya haturkan lewat tulisan ini kepada pihak-pihak yang telah sangat membantu meluangkan waktu untuk mengantarkan buku ke tempat saya ataupun membantu untuk mengumpulkan buku bagi adik-adik di Aceh.

Yang pertama ucapan terimakasih yang sebesar-besarnya untuk Abang saya yang sedang menempuh studi magister di Semarang Heru Saptaryo yang menyumbangkan buku-buku pelajaran, buku kesenian, Atlas beserta Al-Qur’an serta Iqra. Buku-buku pelajaran, kesenian, dan atlas  telah saya salurkan untuk program BHSB Aceh sedangkan Al-Qur’an dan Iqra saya salurkan untuk TPQ yang berada di sebuah pulau kecil di Sulawesi Tenggara. Yang membuat saya terharu adalah buku-buku yang disumbangkan benar-benar buku yang baru saja dibeli, bahkan sekaligus disampul plastik rapi. Luar biasa rasanya ketika menerima bantuan tersebut.

Melalui Abang Heru saya berkenalan dengan seorang wanita cantik yang juga mengambil studi di Semarang. Sejurusan dengan Abang saya, Teh Echa. Yang juga rela datang menyempatkan diri berkunjung ke kostan saya beserta Abang saya untuk mengantarkan buku-buku pelajaran untuk Sekolah Dasar. Ada lebih dari 10 buah buku pelajaran saya peroleh dari sumbangan Teh Echa. Kesyukuran saya semakin bertambah atas bantuan tersebut. Mengingat wajah adik-adik di Aceh sana, untuk mereka.

Yang tidak kalah membuat saya berterimakasih adalah bantuan dari seseorang di depan kost saya. Seorang penjaga counter di depan kost saya, Mas Bhastian. Entah bagaimana saya harus berterimakasih atas bantuan materil dan moril yang telah diberikan. Mas Bhastian mengumpulkan buku-buku dari teman-temannya. Begitu pula dengan bantuan dana. Dalam program BHSB kali ini 75% buku disumbangkan oleh Mas Bhastian berserta kawan-kawan. Isinya sepenuhnya berupa buku-buku pelajaran. Mulai dari buku pelajaran Sekolah Dasar hingga Sekolah Menengah Pertama. Semangat Mas Bhastian untuk berkontribusi dalam program ini luar biasa. Ditengah segala kesibukannya mengkoordinir rekan-rekannya untuk ikut serta menyumbangkan buku.

Jadi total persentasi bantuan yang ada, 10% oleh Bang Heru. 10% dari Teh Echa. 75% dari Mas Bhastian. dan 5% dari sumbangan pribadi.

Ada dana yang juga disumbangkan oleh Mas Bhastian. Awalnya untuk program BHSB, tapi setelah kesepakatan bersama dan asas kebutuhan akhirnya kami alokasikan untuk membantu TPQ di sebuah pulau di Sulawesi Tenggara. Bantuan kami salurkan berupa Iqra dan Al-Qur’an. Sebuah TPQ yang di tahun ketiganya berdiri mandiri dengan dana pribadi, yang tahun ini kondisinya memprihatikan. Iqra dan Al-Qur’an yang dibuka setiap hari oleh anak-anak yang datang mengaji cuma-cuma di tempat tersebut kini dalam kondisi rusak. Akhirnya dana yang ada sebagian disalurkan bagi pengadaan Al-Qur’an, Iqra, dan beberapa buah buku bacaan bagi TPQ. Tidak banyak yang bisa kami bantu. Tapi paling tidak, siswa siswi TPQ kini bisa belajar mengaji dengan lebih nyaman disana saat ini.

Sebuah potret bagaimana semangat belajar dalam keterbatasan membuat kondisi inventaris berupa Al-Qur’an dan Iqra menjadi rusak ataupun sobek. Sementara banyak dari kita yang memiliki Al-Qur’an sekedar menjadikannya pajangan. Inilah indahnya berbagi. Mengingatkan kita untuk muhasabah diri.

Setengah bantuan yang lain saya salurkan ke sebuah panti asuhan di daerah Semarang. Panti asuhan yang kami tuju ini diisi oleh anak-anak Sekolah Dasar disekitar tempat tersebut. Panti asuhan yang terletak di tengah-tengah kuburan cina dan persis disamping krematorium. Agak shock juga bagi saya saat pertama kali menuju tempat tersebut. Tapi pada kunjungan berikutnya rasanya sudah biasa saja.

Jalan yang dilewati lumayan jauh dan tentu saja sepi. Ada anak yang masih memiliki orang tua yang menempati panti asuhan tersebut. Tapi bila menilik ke tempat tersebut secara langsung. Tempat tersebut merupakan pemukiman yang dihuni oleh anak-anak dengan orangtua yang kurang berkecukupan secara ekonomi. Saat itu awal masuk sekolah. Maka saat awal masuk sekolah saya dan adik saya membelikan perlengkapan sekolah bagi adik-adik disana.

Saat ini panti dihuni oleh anak-anak SMP maupun SMA saja dan benar-benar anak yatim piatu. Tidak terbayangkan bagi saya tinggal di tempat sedemikian. Dalam segala keterbatasan, anak-anak disana tetap sangat bersemangat untuk sekolah. Tiap hari berjalan menyusuri jalan dengan pemandangan kuburan disertai wewangian dupa. Cukup jauh dari jalan utama. Tapi inilah gambaran betapa semangat mencari ilmu itu jangan sampai kalah karena keterbatasan. Semoga kita bisa ikut mengambil ibrah dan juga peran dalam memberikan bantuan bagi mereka. Apapun bentuknya.

Ucapan terimakasih juga saya haturkan untuk teman kost saya Eva yang mengantrakan saya ke pihak paket pengiriman saat saya tau deadline pengiriman buku telah tiba. Berkeliling dengan motor dengan dua kardus tidaklah mudah. Sayang, diamalam itu semua pihak agen pengiriman telah tutup. Dihari berikutnya saya mengajar partner penelitian saya Rosi untuk membantu membawa kardus setelah penelitian. Satu kardus saya simpan di bagian depan motor dan kardus yang lain dipegang oleh Rosi. Dalam kondisi cukup kelelahan dan kurang sehat sore itu, melewati kemacetan Tembalang saya membonceng Rosi. Alhamdulillah masih ada paket pengiriman yang buka. 15 menit lagi tutup dan kami tiba disana tepat waktu. Alhamdulillah mengucap syukur untuk kemudahan di sore itu. Janji saya kepada Mbak Anaz. Koordinator program ini untuk mengirimkannya paling lambat esok hari terpenuhi.

BHSB membuka jalan bagi saya untuk berkenalan dengan orang-orang yang penuh semangat ikut serta dalam terlaksananya program ini. Saya malu kalau sampai kalah semangat. Banyak hikmah dan pelajaran yang bisa diambil. Semangat berbagi, saling memberi. Semoga bermanfaat bagi adik-adik di Aceh.

Semoga program ini bisa terus berlanjut. Semoga menginspirasi. Mari Menengok anggota keluarga atau keluarga jauh kita. Menengok tetangga kita yang ada di kiri dan di kanan kita. Menengok komunitas di sekitar kita.

Memberi tak harus selalu dengan materi. Ilmu yang bermanfaat ataupun keterampilan merupakan aset penting yang tak kalah penting untuk dibagi.

Bertumbuh bersama, Berkembang bersama, Menangkap cahaya

Semarang, Kost Laras.

Iklan

19 pemikiran pada “Laporan BHSB Fase 4 Semarang

  1. Ane bener2 salut ka, lanjutkan! Semoga apa yg telah disumbangkan baik moril maupun materil dapat menjadi berkah tersendiri baik bagi penerima dan pemberinya, juga semoga postingannya dapat menginspirasi ane dan para pembaca lain Amin

  2. terima kasih dik sudah membantu kami lewat tangan-tangan yang peduli, semoga kelak dari setiap lembaran buku akan menjadi saksi dari setiap kebaikan yang telah diberikan untuk adik2 di Aceh nanti 🙂

  3. Ping balik: Berani Tampil dengan Kaos BHSB | Langkah Baruku

  4. Ping balik: Berani Tampil dengan Kaos BHSB | Langkah Baruku

Ikutan Komentar Yukkk...

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s