Film Lokal Vs Film Asing

Sejak dua hari kemarin terjadi kehebohan antrian untuk mendapatkan selembar tiket film Twilight ‘Breaking Down part 2’ yang diungkapkan oleh teman-teman saya yang memang sangat ingin menonton film tersebut. Terlihat dari foto tiket, runtutan status di social media serta ungkapan perjuangan untuk mendapatkan tiket tersebut.

Lalu bagaimana dengan saya?. Saya memutuskan untuk tidak menonton film tersebut. Mengapa?. Bukan berarti saya menganggap film tersebut jelek. Tapi saya memang lebih menyukai film dengan genre yang berbeda dari film twilight yang saat ini sedang diputar.

Saya ingin membagikan cerita saya mengenai film lokal vs film asing menurut sudut pandang saya personal.

Seberapa sering penggemar film menonton film-film Indonesia?. Film-film Indonesia sering dicap produk jelek. terutama bila dikaitkan dengan maraknya film-film yang berjudul mistis yang cerita utamanya tentang berbagai jenis hantu populer di lokasi yang dianggap keramat yang menjadikan artis-artis seksi dengan adegan yang memuat konten dewasa sempat menjamur di Indonesia ini.

Saya pribadi memang juga tidak menyukai jenis film seperti di atas, tapi sebelum memutuskan tidak suka saya pernah menontonnya. Pengalaman tidak suka itu harus bisa saya alami sendiri untuk tahu bagian mana yang sebenarnya tidak saya sukai. Banyak yang kontra dengan jenis film seperti ini. Tapi anehnya, film-film ini justru tetap diproduksi. Kenapa?. Karena hingga paruh waktu tahun 2012 film-film bergenre ini tetap sangat diminati. Terlihat dari penjualan tiket yang menembus angka lebih dari 200.000. Sehingga film-film seperti ini bahkan masuk dalam urutan 10 film terlaris Indonesia.

Karena fenomena seperti ini memberikan implikasi yang buruk terhadap film Indonesia yang bergenre lain yang secara personal menurut saya bagus. Banyak film Indonesia yang menurut saya bagus akhirnya angka penjualannya bahkan tersisih dari jenis film yang bergenre horor. Sebut saja modus anomali yang angka penjualan tiketnya hanya menembus angka diatas 150.000.

Karena cap negatif yang melekat dengan film Indonesia banyak penggemar film yang notabene orang Indonesia menjadi antipati terhadap produk lokal. Apalagi bila ada film asing yang juga sedang diputar. Film asing dianggap jauh lebih baik dari film Indonesia.

Dari segi cerita, efek suara, efek gambar, efek digital, dll dianggap jauh lebih mumpuni dari film lokal. Ya, fakta ini memang benar dan tidak bisa dipungkiri adanya demikian. Khususnya untuk film yang bertemakan action atau futuristik. Sejauh pengamatan saya pribadi film asing yang memiliki jumlah penonton yang banyak adalah film dengan dua tema di atas. Mata dan telinga penonton benar-benar dimanjakan dengan efek yang berada diluar nalar manusia namun terlihat begitu nyata, atau dengan adegan pertempuran dengan alat-alat modern yang canggih dan tidak segan-segan dirusakkan demi menghasilkan film yang memanjakan mata penonton sehingga kesan nyata didapatkan.

Inilah yang membuat film lokal bila disandingkan dengan film asing di dalam daftar film yang akan diputar di bioskop akan kalah jumlah penonton untuk kemudian akhirnya diturunkan, dan tidak lagi diputar. Setelah diturunkan, kemudian jatah pemutaran film lokal digantikan dengan film asing yang jumlah peminat penontonnya justru jauh lebih banyak.

Fakta seperti ini justru mematikan potensi film lokal. Ada yang memaknai inilah tantangan yang harus dihadapi oleh produsen film lokal, agar bisa membuat film yang setara dengan film asing terutama yang bergenre action . Bagi saya pribadi kejam bila kita mengharapkan hal demikian. Dukungan untuk perfilman Indonesia masih minim, untuk membuat film demikian butuh budget yang pastinya sangat besar.  Tanpa dukungan, dana untuk biaya produksi akan ditutupi dari mana, ia kalau filmnya laku. Kalau orang-orang masih sentimen dengan produk lokal maka film seperti inipun akan mati karena di dalam gambaran pemikiran kita sudah ada settingan film asing sebagai pembanding.

Sehingga, coba perhatikan sejenak pergerakan film nasional kita. film action ataupun futuristik jarang diproduksi, tidak banyak. Salah satu film action lokal yang punya nama adalah The Raid, walaupun sutradaranya bukan sutradara lokal. Tapi The Raid merupakan film lokal dengan pemain lokal yang dibesut di Indonesia. Sehingga celah yang coba dimasuki oleh produsen film berada di genre horor, cinta, sejarah budaya, komedi, keluarga, wanita, sosial, maupun anak-anak.

Karena rasanya, inilah celah potensial yang bisa dimasuki ditengah gempuran film asing yang betubi-tubi. Saya termasuk yang menyukai film Indonesia yang bertemakan sosial, anak-anak, sejarah budaya, dan wanita. Sehingga bila ada genre film Indonesia seperti ini akan saya tonton walaupun ada film asing yang sedang heboh dibicarakan sebagai daftar wajib tontonan.

Ada sebuah kejadian yang menyadarkan saya, menjadi peran kita sebagai penonton Indonesia untuk memajukan film lokal.

Di awal bulan Oktober yang lalu, tepatnya tanggal 11 Oktober saya memutuskan untuk menonton film berdua bersama adik saya. Saat itu hari ulang tahun saya, kami menonton di malam hari. Film yang kami tonton saat itu berjudul Cita-Citaku Setinggi Tanah. Film besutan Eugene Panji ini menceritakan impian sekelompok anak, yang mengajarkan esensi ‘cita-cita itu bukan untuk dituliskan tapi diwujudkan‘.

Film keluarga yang sederhana dalam cerita tapi sarat pesan. Sangat cocok untuk ditonton bersama keluarga atau anak-anak. Untuk kembali mereview pemahaman kita kembali ke hal yang sederhana. Bahwa kesederhanaan itu bukan keburukan. Ia adalah kemewahan bila disertai kesyukuran penuh. Saya senang sekali mendapatkan banyak pesan kehidupan setelah menonton film tersebut. Ditambah lagi 100% keuntungan film tersebut akan disumbangkan untuk Yayasan Kanker Indonesia, bagi anak-anak pengidap kanker.

Coba tebak, berapa orang penonton film itu saat premiere?. Hanya ada saya dan adik saya. Hanya kami berdua yang menonton. Benar-benar terasa privat.

Saat esok hari film itu saya promosikan ke teman-teman. Ternyata setelah premiere film tersebut diturunkan dan diganti dengan film asing yang bergenre action yang berjudul ‘Tekken 2’. Jujur saja, saat itu saya sangat kecewa. Inilah fakta gempuran film asing, yang juga secara tidak langsung kita dukung untuk merajai negeri kita.

Saya pun merenung, dulunya saya termasuk penggemar film action asing. Bukan berarti saat ini saya tidak menggemarinya lagi. Tapi bila saya tarik sebuah benang merah esensi yang saya dapatkan setelah menonton film itu hanyalah sekedar kekaguman bukan pemahaman. Pemahaman yang lahir dari film-film Indonesia yang mencari celah diluar film action untuk terus hidup dan bernafas.

Bukan berarti tidak boleh menonton film asing, hak personal tiap orang untuk menonton film apa yang diinginkan. Tapi pikirkanlah ini. Banyak film Indonesia yang bagus justru mati karena tidak ada yang menonton. Hentikan sentimen terhadap film lokal. Bijaklah dalam memilih film yang akan ditonton.

Have a nice weekend all.

Semarang, Kost Laras 12

Teriring doa untuk rakyat Palestina di Gaza.

22 thoughts on “Film Lokal Vs Film Asing

  1. sudah lama tak mencoret-coret kata disini ^_^
    akhirnya kembali lagi, eh ada judul film kalau dibilang ‘versus’ ke depan film lokal dgn genre mistik semoga saja lekas berbalik arah, siapa tahu bisa makin banyak go box office🙂

  2. yang saya tau, kadang, sih, mereka yang nonton film hantu2an itu biasanya abege yang kepengen berduaan gelap2an sama pasangannya. yeah, film model begituan memang nggak butuh kinerja otak optimal buat mencerna isi filmnya. jadinya ditinggal cipokan plus raba2 sebentar-2 bentar rasa2nya tetep bakal nggak ketinggalan jalan ceritanya.

    bayangkan, misalnya, kalo saya cipokan pas nonton Inception – atau taruhlah film Indonesia bermutu lainnya – pastinya saya bakal ketinggalan momentum tentang penjelasan arsitektur dunia mimpi:mrgreen:

    bisa rugi sayanya kalo cipokan di bioskop pas nonton film bermutu😈

  3. memang sih film Indonesia secara kualitas masih kalah. hanya beberapa gelintir saja yang bagus, dan biasanya memang bagus dari sisi tema dan pesan moralnya, kayak Laskar Pelangi gitu …
    semoga perfilman Indonesia makin maju ….

  4. tekken 2 apa taken 2 mbak..? hehe maaf kak soalnya saya penggemar Liam neeson…
    sngat sulit ya kak agar film lokal itu menjadi sebuah hal yang bergengsi di masyarakat, ada beberapa hal penyebabnya, di ulas koq ditulisan kak citra, salah satunya terlalu banyak para sineas atau para movie maker kita yang membuat film terutama yg bergenre horor, dari segi kualitas cerita atau materi2 bahan produksinya sangat kurang. apalagi ditambah adegan2 yang berkonten dewasa.
    bayangkan kak dari 190 film indonesia yang diproduksi per 4 bulan, hampir 68 persen itu horor kampungan, dan hanya beberapa film saja yang diluar genre horor yang bagus dalam segi cerita, dan bisa terhitung para sineas lokal yang dalam mengemas filmnya itu dengan sebuah ciri atau karakter film, shingga film itu terlihat lebih berkualitas,contohnya;Ifa Isfansyah , nia dinata, garin nugraha, hanung bramantyo, dedy mizwar, jhon derantau,, dan beberapa lagi yg terhitung memang jumlahnya sedikit… sedangkan alangkah menjamurnya para sutradara film lokal yang membuat film2 hror, ya jadinya terbiaskan film2 yang baik dan bermnfaat sama tuh film horor (gpp klo film horornya pada oke, tpi tau sendiri kan..) tpi kalo emang film lokal yang memang benar2 bagus tetep aja pasti banyak peminatnya… berdoa saja semoga film lokal kita tambah maju baik dari kulitas cerita, alat2 produksniya, juga akting para aktornya…

    skali lagi tema dan pemaparan dari tulisan kak citra nice🙂

Ikutan Komentar Yukkk...

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s