Menjadi Sebutir Jagung di Rumah Petani

Bismillah…

Malam ini kembali terbangun di tengah malam. Tiba-tiba teringat ingin berbagi informasi dengan teman-teman semua. Apa kabar di hari ini?. Bagaimana cuaca di tempatmu?. Di Semarang intensitas hujan sedang tinggi, cuaca menjadi sangat dingin. Banyak orang yang mengalami diare dan demam. Jadi harus lebih bisa menjaga diri di musim hujan. Bila perlu, jangan lupa juga minum vitamin.

Lalu tulisan saya kali ini akan bercerita tentang apa?.

Menjadi mahasiswa yang mencerdaskan masyarakat di bidang ilmu yang kita pahami atau geluti. Itulah yang ingin saya bahas dalam tulisan saya kali ini.

***

Siang tadi saya bertemu dengan pria idaman saya, dosen pembimbing penelitian kami (saya dan rekan saya rossi) yang baik hati. Kami berbincang soal masalah yang kami hadapi dalam penelitian kami. Penelitian yang kami lakukan mengenai garam rakyat. Intinya adalah modifikasi proses yang tujuannya untuk memangkas waktu produksi, meningkatkan hasil produksi dan juga kualitas garam rakyat menjadi garam industri.

Garam, bumbu penyedap dengan harga yang relatif murah nyaris tak punya harga di pasaran. Kenapa?. Karena kehidupan petani garam tidak ada yang sejahtera walaupun menjual banyak garam. Bayangkan saja, harga produksi garam rakyat per kilogram hanya dihargai maksimal Rp.2000. Padahal untuk jumlah yang sama, harga garam impor India dengan kualitas serupa tapi lebih baik dibandrol dengan harga Rp. 1500 setara dengan garam Australia yang kualitasnya justru lebih baik lagi dibandingkan garam India dan Indonesia.

Lalu dengan harga Rp.2000 kenapa saya katakan tidak punya harga?. Karna untuk memproduksi garam dengan diameter 0.3-0.5cm atau setara dengan garam krosok yang dijual di pasaran dibutuhkan paling tidak 2 minggu. Waktu yang lama bukan untuk harga yang tidak seberapa?. Belum lagi kalau hujan turun, hujan sekali bahkan cuma sebentar akan menggagalkan hasil panen walaupun sudah ditunggui seminggu. Inilah carut marut kehidupan petani garam. Inilah yang menjadi tugas besar pemerintah untuk sedikit melirik petani garam, paling tidak memberikan bantuan untuk modifikasi proses.

Saya tidak akan berpanjang lebar tentang teori pembuatan garam pada tulisan saya kali ini, karena titik poin pembahasan saya bukan berada pada hal tersebut kali ini. mungkin ditulisan berikutnya akan saya bahas lebih lanjut.

Garam yang ada di pasaran disortir berdasarkan kualitasnya. Apa parameter penentu kualitas garam?.

  1. Ukuran, makin besar dan solid ukuran garam berarti waktu yang dibutuhkan untuk membuat garam tersebut semakin lama
  2. Impuritas (pengotor), garam dengan kualitas baik bebas dari pengotor seperti pasir. Hal ini sulit dihindari jika pembuatannya masih menggunakan metode tradisional. Yaitu pengkristalan garam di atas meja kristalisasi yang terbuat dari tanah.
  3. Tingkat kandungan NaCl, kalau untuk hal ini paling tidak harus dilakukan uji kandungan NaCl. Makin tinggi kandungan NaCl yang terdapat pada garam bermakna makin sedikit pengotor yang terdapat dalam garam tersebut. Mengapa yang dicari adalah garam dengan impuritas paling sedikit?. Karna untuk kebutuhan industri tidak bisa digunakan bahan yang dalam keberadaannya justru akan mengganggu proses, walaupun jumlahnya tidak banyak. Kandungan NaCl merupakan penentu tingkat keasinan dalam garam. Garam dengan kadar NaCl tinggi pasti akan lebih asin dibandingkan kadar yang lebih rendah. Makin asin garam, makin sedikit jumlahnya yang digunakan. Makin sedikit jumlah yang digunakan pastinya akan semakin efisien dalam biaya.

Sehingga, garam dapat dibedakan menjadi kualitas 1, 2, dan 3 berdasarkan parameter di atas. Nah, makin baik kualitasnya maka harganya akan semakin bersaing. Sejauh ini di Indonesia hanya madura yang mampu memproduksi garam dengan kualitas cukup mumpuni. Tapi sayang, kualitas garam Indonesia belum mampu memenuhi kebutuhan Industri. Maksimal hanya sekitar 95-96% NaCl. Padahal dalam indusri perminyakan atau farmasi paling tidak dibutuhkan kadar sekitar 99,9% NaCl. Jauh dari ketersediaan pasar lokal Indonesia.

Bahkan untuk bahan makanan seperti mie instan dalam pembuatan bumbunya harus disokong garam impor untuk menekan biaya produksi. Jadi sistem yang diapakai adalah sistem subtitusi, dimana 50% dari garam untuk keperluan bumbu mie instan harus ditunjang oleh garam impor. Karena secara hitungan produksi, produsen tidak mampu menanggung beban biaya produksi kalau harus membeli garam lokal dengan kualitas tinggi. Kebijakan pemerintah membuat pelaku industri harus membeli garam lokal, karena kalah kualitas dan harus menekan biaya produksi maka harus ditunjang subtitusi dari garam impor.

Lalu kemana garam-garam dengan kualitas 3, atau garam krosok dengan kualitas jelek. Umumnya dibawa oleh distributor kemudian dilakukan pencucian sehingga dapat dihasilkan garam yang lebih bersih. Pencucian merupakan salah satu metode yang dapat meningkatkan kualitas garam rakyat. Atau karena harganya yang murah digunakan oleh oknum nakal untuk kepentingan keuntungan pribadi, misal digunakan untuk campuran pupuk. Tapi, yang digunakan dalam campuran pupuk justru bukan garam krosok melainkan garam tua. Garam dengan kualitas yang lebih jelek lagi.

Ini momok yang harus diwaspadai oleh konsumen, terutama petani. Bayangkan, pupuk KCl yang warnanya agak kecoklatan dioplos dengan garam tua yang diambil dari bekas ladang penggaraman yang warna nya juga agak butek kecoklatan. Petani yang tidak tau hanya menjual garam tua, mereka hanya tau bahwa garam itu akan digunakan sebagai campuran pupuk.

Padahal tanaman itu dalam pertumbuhannya memerlukan N, P, K sebagai unsur penunjang utama dalam tumbuh kembangnya. N untuk Nitrogen, P untuk Phospor, dan K untuk Kalium. Bukan membutuhkan Na (Natrium). Alih-alih mengharapkan peningkatan hasil produksi dengan penggunaan pupuk KCl justru rugi yang dikecap oleh petani. Yang lebih luar biasa dalam strategi pemasarannya, harga pupuk oplosan ini dibanderol dengan harga yang lebih tinggi. Jadi, mana ada orang yang akan berfkir pupuk dengan harga yang lebih tinggi ini adalah produk oplosan?. Strategi yang pintar, berlawanan dari stigma masyarakat. Ada harga ada kualitas.

Inilah fakta yang ditemui dosen saya di Jepara saat melakukan sosialisasi sekaligus praktek untuk membantu petani garam disana dalam meningkatkan proses produksinya. Miris rasanya, melihat petani kita harus mengecap pil pahit gagal panen karna hal-hal seperti di atas. Lalu mengapa hal ini bisa terjadi?. Dan apa kaitannya dengan mahasiswa dan peranannya di masyarakat dengan disiplin ilmu yang digeluti?.

Banyak contoh kasus di lapangan, produk laku dipasaran berdasarkan desas desus ‘katanya’ bukan pembuktian secara ilmiah. Misalkan, gula pasir. Dulu ditempat saya ada desas desus bahwa gula pasir dengan warna yang lebih kuning kecoklatan justru lebih manis. Hal ini tersebar ke penjual, kemudian dari penjual dilanjutkan dari mulut ke mulut ke konsumen. Hingga saat ini rasanya masih banyak ibu-ibu yang tidak mengerti meyakini hal yang sama. Faktanya?. Garam dengan warna yang semakin kuning kecoklatan menunjukkan kualitas yang semakin buruk. Semakin coklat berarti semakin banyak kotoran yang terikut dalam proses produksi gula. Batang tebu yang dipanen tidak dicuci terlebih dahulu melainkan langsung dimasukkan ke mesin penggiling. Entah ada bekicot, pasir atau pengotor lain di dalamnya kita sebagai konsumen tidak tau. Itulah gula yang warnanya kecoklatan, yang dianggap lebih manis dari gula yang warnanya putih bersih.

Sama seperti kasus pupuk oplosan saya yakin dengan cara semacam ini mudah dilakukan dan menyebar. Misal Si A menggunakan pupuk oplosan, ‘merasa’ kualitasnya panennya menjadi lebih baik direkomendasikan dengan petani lain. Padahal lama kelamaan bahan ikutan seperti garam akan terakumulasi masuk ke tanah. Bayangkan bagaimana nasib petani menaburkan zat yang tidak dibutuhkan oleh tanamannya ke tanah, ibaratnya menanam di tanah asin dengan biaya pupuk yang lebih mahal.

Inilah tugas mahasiswa sebagai manusia yang bisa mengecap nikmatnya ilmu untuk lebih peduli terhadap lingkungan dan masyarakat. Kalau ada desas desus yang sekiranya dalam disiplin ilmu kita dipelajari, berikanlah edukasi ke masyarakat. Jangan jadi pembebek yang bukan mencerahkan justru apatis bahkan statis tidak ingin mencari tahu atau eksplorasi lebih jauh. Petani-petani se-Indonesia tidak mungkin ditangani semua untuk diberikan edukasi, sepenuhnya oleh pemerintah. Hampir semua wilayah di Indonesia memiliki Universitas Negeri yang di dalamnya terdapat bibit-bibit bangsa yang bisa memajukan kaumnya sendiri. Betapa indahnya bila ada hubungan simbiosis seperti itu.

“Jadilah sebutir jagung di Rumah Petani”

Pesan indah dari dosen saya, untuk kita renungkan bersama.

Semarang, 18-04-2012

7 thoughts on “Menjadi Sebutir Jagung di Rumah Petani

Ikutan Komentar Yukkk...

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s