Sebuah Memoar : Kami dan Bakso

Saat ini kota Semarang sedang diguyur hujan lebat. Tiba-tiba saya dan adik terlibat obrolan mengenai sebuah kenangan. Kenangan tentang ‘bakso’. Makanan yang pastinya banyak di favoritkan banyak orang. Saya dan adik saya termasuk di dalamnya. Dulunya sih, saya tidak terlalu doyan makan bakso. Adik saya merupakan seorang bakso addict. Saya dulu hanya sering menemani mencoba bakso di berbagai warung di Semarang, bahkan terkadang kami sengaja menempuh perjalanan yang sukup jauh ke Kendal hanya untuk makan di salah satu warung bakso di sana.

Awal mula suka dengan bakso saat perut saya mengalami gangguan yang cukup serius. Salah satu makanan yang dianjurkan oleh dokter untuk saya konsumsi adalah bakso, ternyata bakso cukup nyaman bagi perut saya saat itu. jadilah lama-lama jadi ikutan suka sama bakso.

Sumber Gambar : Koleksi Pribadi ----> Kreasi Plastisin bersama teman saya Rosi.

Sumber Gambar : Koleksi Pribadi —-> Kreasi Plastisin bersama teman saya Rosi.

Saat hujan seperti ini, pastinya enak banget ya makan semangkuk bakso. Penghangat sekaligus pelepas lapar yang nikmat. Hari ini saya berada pada kondisi fisik yang tidak terlalu baik, jadilah teringat ingin makan bakso lagi. Setelah hujan reda, adik saya akan membelikan semangkuk untuk saya.

Kami tiba-tiba teringat sebuah kenangan masa lalu saat Ayah masih bersama kami. Tepatnya, adik saya mengingat kenangan tersebut terlebih dulu. Dulu, tiap kali ada salah seorang anak Ayah yang sakit. Ayah pasti datang untuk mengelus kepala kami dengan lembut kemudian bertanya. Makanan apa yang ingin dimakan oleh anaknya. Nah, saat bertanya itu Ayah pasti melontarkan pertanyaan seperti ini.

Ayah : (Sambil memegang dahi anaknya) Kenapa nak, sakit ya?.

Anak : Ia yah (dengan wajah penuh memelas)

Ayah : (Mengusap kepala anak) Mulutnya pahit ya?. Mau makan apa nak?. Bakso?.

Anak : Ia, Bakso yah. (merasa ada harapan akan lebih baikan setelah makan)

Begitulah perhatian yang ditunjukkan beliau kepada kami. Seorang Ayah yang sosoknya akan kami kenang dengan penuh keteladanan dan penuh terimakasih atas pelajaran kehidupan yang pernah kami kecap dengannya. Kini ia telah tiada, tapi kami akan terus hidup dengan kenangan tentangnya.

I love you Ayah terkeren Horma Sido Taslim

Teman-teman punya kisah menarik juga ga tentang makanan favorit?. share yuk =)

Semarang, Kost laras, dengan hujan penuh cerita.

Iklan

6 pemikiran pada “Sebuah Memoar : Kami dan Bakso

  1. memory yg indah dgn ayahanda..
    yg teringat biasanya klo bukan t4 wisata yg pernah dikunjungi bersama, ataukah kuliner yg pernah disantap bersama,,,
    ngeliat meat ballnya jd pengen nyantap siang ini, hehe

Ikutan Komentar Yukkk...

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s