Happiness is real when it shared

Assalamu alaikum.

Karna akhir-akhir ini saya makin galau karena kangen rumah. Jadi, mau buat tulisan untuk mengenang masa-masa indah bareng anggota keluarga di rumah. Mengenang bagaimana cerita-cerita di masa lalu saat masih kecil bersama keluarga membentuk karakter saya di masa kini. Anjuran ataupun didikan orang tua saat masih kecil terkadang mungkin terasa aneh, mengekang atau tidak berkenan di hati anak-anaknya. Tapi, saat dewasa ketika merenung. Tidak henti ungkapan terimakasih diberikan pada mereka.

Saya ingin membahas cerita tentang sebungkus Indomie, lalu apa kaitannya judul di atas dengan sebungkus indomie?. Saya punya kisah tersendiri soal makanan instan ini. Kali ini tidak akan saya bahas bagaimana pembuatan mie instan dalam skala pabrik. Mungkin nanti akan saya bahas dalam tulisan berikutnya. Tapi kenangan saya bersama Indomie. Walaupun kontes cerita Indomie sudah lama berlalu, semoga tetap bisa menginspirasi siapa saja yang menyempatkan diri mampir ke blog saya ini.

Jadi, sejak kecil Ibu melarang kami untuk mengkonsumsi mie instan. Dulu mie instan itu terasa nikmat di lidah saya karena saya jarang dibolehkan untuk mengkosumsi panganan tersebut. Disamping karena saya alergi kalau banyak mengkonsumsi MSG, Ibu memang termasuk orang yang sering sangat berat hati mengizinkan anak-anaknya mengkonsumsi mie instan.

Jadilah, ada larangan resmi tidak boleh mengkonsumsi mie instan. Nah, kalau sudah merasa sangat ingin mencicipi panganan ini jangan merengek ke Ibu. Tapi merengek ke Ayah. Kalau minta ke Ayah akan dikabulkan beliau. Tapi, ada hal yang luput dari pemahaman saya yang masih kecil saat itu. Untuk dimakan sekeluarga, ayah cuma membolehkan kami membeli sebungkus. Saat itu sangat mungkin bagi Ayah untuk membelikan kami lebih banyak dari sebungkus. Bahkan maksimal yang boleh kami beli hanya dua bungkus. Kemudian setelah matang, kami disuruh untuk berbagi. Jadi, berapa orang yang berada saat itu di rumah, dinyatakan dalam jumlah piring yang disediakan di meja. Semua orang di rumah harus kebagian, kecuali ibu tentunya.

Jadi, saat berbagi mie instan. Ayah selalu mengucap kalimat ini “Walaupun sedikit, yang penting semua kebagian dan merasakan“. Nasehat ini juga berlaku untuk jenis makanan lain. Tapi yang selalu terkenang bagi saya adalah Indomie. Makanan yang saat itu saya idamkan, tapi selalu tidak bisa mencicipi banyak.

Nah, hikmahnya ini mulai saya rasakan saat SMA, khususnya saat duduk di bangku kelas 3. Karna kegiatan sekolah sering dasambung dengan les di sekolah, banyak teman yang sering membawa cemilan. Seringnya, saat cemilan baru saja dikeluarkan. Bahkan teman yang membawa cemilan tersebut tidak kebagian. Saya merasa sedih, jadi kalau kebagian cemilan saya kembalikan pada yang membawa.

Ternyata memang lebih enak, menikmati sedikit tapi semua kebagian. Dibanding makan banyak, tapi hanya dinikmati sendirian. Jadi, sebenarnya saya lebih senang makan beramai-ramai daripada sendirian. Jadi ingat sebuah kutipan. “Happiness is real when it shared“.

Selamat beraktifitas semua…

Semarang, kost laras, setelah diguyur hujan.

27 thoughts on “Happiness is real when it shared

  1. iya bener, biasanya dulu klo gue boke pasti bakal masak bareng anak kosan walopun sedikit tapi karna kita poses sampe makan bareng, rasanya kenyang aja, seru lagi

  2. hmmm… mie instan ndak bagus mba,, saya ni korban hidup dari mie instan.. wkwkwkwk…
    kerugiannya banyak…
    saya baru sadar setelah divonis oleh dokter suatu penyakit.
    makanya sekarang saya hunting obat2tan alami.

  3. weks,,, mba, mf ni…
    temen saya ndak tau uy,,, tapi beliau bilang, kalau kasusnya seperti itu… mba boleh pake sirih merah dan jamur ling tze (direbus sama2). katanya lagi,,, bukan untuk menyembuhkan, tapi mengurangi aja.

    mf infonya kurang, cuz beliau juga lagi error, maklum kami baru pulang dari hutan, hunting herbal and sarang walet.

Ikutan Komentar Yukkk...

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s