Untukmu Ibu

Maafkan anakmu yang akhir-akhir ini membuatmu khawatir, membuatmu lebih sering mengontrol apa yang ia lakukan, apa yang ia makan, karna kekhawatiranmu. Padahal di sisi lain engkau punya banyak hal yang harus dilakukan, yang harus dipikirkan.

Aku sering berfikir, betapa berat dan besar tanggung jawab seorang Ibu. Memikirkan keluarga bukan hanya sekedar mengatur keuangan, tapi bagian lain yang tak kalah sulit membangun mental anak. Menjaga keseimbangan dalam keluarga. Apalagi bila ditambah dengan berkarir.

Apa aku sudah siap dan sanggup menjadi seorang Ibu?. Itulah pertanyaan lanjutan yang menghinggapi kepalaku. Apakah menjadi seorang Ibu itu perlu persiapan sejak muda, ataukah terjadi secara natural karena keputusan menikah berarti latihan menjadi seorang Ibu?. Masing-masing orang punya jalan yang berbeda menuju kesana. Entahlah, mungkin waktu yang akan menjawab pertanyaanku saat tiba masaku bila Tuhan memberi kesempatan untuk itu.

Betapa aku menyayangimu Ibu, memahami beratnya perjuanganmu, mendidik, membekaliku dengan pendidikan, mencoba mengayomi anakmu yang mulai merasa bisa mengambil segala keputusan sendiri dengan ego, mengajak anakmu untuk selalu mengingat Tuhan saat tiap ujian menerpa.

Aku sadari hidup itu berat, ujian hidup pun bermacam-macam, kadang aku merasa tak sanggup. Tapi mengingatmu menyadarkanku, kepasrahanmu yang luar biasa untuk menerima segala putusan Tuhan. Bahwa dalam ujian ini aku punya Ibu sebagai hadiah dalam memperkuat diriku dalam perjalanan hidupku. Ibu selalu menjadi alasan bagiku untuk menerima dan berjuang lebih keras lagi. Sehingga aku siap untuk jalan kedepan yang akan lebih sulit.

Kau tak pernah menuntut terlalu banyak dari anakmu ini. Cukup selalu menjaga diri dan kehormatan. Pesan yang singkat namun berat. Karna telah kau titipkan aku pada Tuhan dalam perjalanan perantauanku, maka kepadaNya pula aku meminta penjagaan disini. Semoga aku bisa menjadi yang terbaik bagimu.

Terimakasih Ibu Subaedah.

 

 

Semarang, di pagi yang malu-malu

Iklan

7 pemikiran pada “Untukmu Ibu

  1. Begitulah seorang itu, Sist. .
    Aku pun sampai sekarang serasa masih tidak bisa berjalan tanpa mamah.
    Ibu mempunyai andil yang sangant besar dalam hidup kita.

    Semoga kelak kita bisa membahagiakan ibu dan selalu menjaganya. 🙂

  2. Makasih Ibu, sudah merawat citra dengan baik. maafin juga kalo anak itu agak rewel. hehehe
    Kasih ibu sepanjang masa Gue cinta ibu(gue). love u mom!
    Semangat!! ayo berjuang buat bahagiain ibu. 😀

Ikutan Komentar Yukkk...

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s