Matematika

Ayo, siapa yang alergi dengan matematika?. Mungkin banyak ya yang alergi dengan matematika. Banyak orang ketika mendengar kata matematika menganggap hal ini sebagai momok. Momok yang harus dihindari. Apa ada yang ikutan mampir baca di blog saya ini yang alergi matematika?.

Saya mendadak menulis soal matematika, karena sehabis mengajar adik-adik yang duduk di kelas 6 SD di panti pagi hari ini saya merasa frustasi. Frustasi karena beban moril, bahwa adik-adik harus bisa mengerjakan ujian dan hal tersebut menjadi tanggung jawab kami yang mengajar. Ujian akhir sekolah tinggal beberapa hari lagi, hari senin depan adik-adik di panti harus sudah siap ujian. Tapi, setelah kemarin malam kami meninjau persiapan adik-adik masih sangat jauh dari harapan.

Untuk perkalian masih bermasalah. Ada yang bahkan baru hafal sampai perkalian 2, padahal duduk di kelas 6 SD. Rata-rata yang lain baru hafal sampai perkalian 7. Akhirnya, dilakukan sistem pemaksaan. Dimana adik-adik disana harus sudah menghafalkan dengan fasih hingga 3 angka di atas kemampuan dasar mereka. Misal, yang baru hafal hingga perkalian 7 harus menghafal hingga perkalian 10. Malam ini mereka akan menyetorkan hafalannya masing-masing.

Kalau tersendat di perkalian, otomatis akan kesulitan saat belajar pembagian. Kami (saya dan adik saya) mengira, masalah terbesar kami terletak di dua titik ini. Yang dengan semampu kami coba kami pecahkan, memberi konsep yang mudah agar adik-adik paham. Ternyata masih ada masalah lain.

Operasi matematika memang banyak jenisnya. Ada perkalian, ada pembagian, ada penambahan, ada pengurangan dengan variabel bilangan yang beragam. Ada bilangan real, cacah, bulat, dsb. Bisa dibilang itu bentuk yang paling sederhana.

Sebagai awalan, coba dilakukan test penambahan dan pengurangan bilangan negatif. Ternyata adik-adik kebanyakan belum paham dengan prinsip penambahan dan pengurangan bilangan negatif. Dari 9 orang yang kami ajar untuk bimbingan intensif sebelum ujian, hampir semuanya belum paham, hanya 1 yang cukup bisa. Sedangkan sisanya kebingungan.

Saya dan adik saya mencoba semampu kami. Mengganti bahasa angka menjadi bahasa uang. Mengganti bahasa (+) menjadi uang yang dimiliki / bayar, sedangkan (-) menjadi yang harus dibayarkan / utang. Kami memulai dari soal yang cukup rumit. 5 soal di awal dan semuanya dijawab salah, sampai akhirnya menjadi operasi penambahan dan pengurangan dalam bentuk yang paling sederhana.

Dua jam mengajar dengan  puluhan soal dalam bentuk yang sederhana cukup membuat mereka jengah sekaligus masih belum paham. Hanya sebagian yang sudah cukup mengerti, sisanya gagap. Kalau melihat mereka saat belajar beramai-ramai sepertinya semangat, ternyata yang diandalkan selama ini adalah model bekerja sama. Sehingga kekurangan mereka secara personal baru terlihat saat di test satu per satu.

Di titik ini saya merasa sulitnya menjadi pengajar yang benar-benar ingin pesan yang dibawa tersampaikan, yang benar-benar ingin yang diajar benar-benar paham dan mengerti. Hal ini akan sulit tercapai bila tidak ada kerjasama balik yang juga diberikan oleh adik-adik yang diajar. Kalau yang diajar juga tidak mencoba untuk fokus dan paham, maka yang terjadi sama seperti di kelas yang kami ajar pagi tadi.

Kebanyakan mereka benar-benar hanya ingin lulus, cukup dengan lulus. Tapi dengan kemampuan demikian, bagaimana akan mengerjakan soal-soal?. Dengan sistem yang semakin rumit tidak mungkin mengandalkan sistem nyontek. Tapi selama masih ada waktu sampai sebelum saat ujian, berarti masih ada kesempatan untuk memahamkan adik-adik.

Di titik saya merasa sangat frustasi, saya terdiam, kemudian merenung.

Apa pentingnya belajar matematika dalam kehidupan?.

Apa nanti ilmu matematika ini, nantinya akan mereka pakai dalam kehidupan bila tidak menempuh studi yang berkaitan dengan ilmu matematika?. misal jurusan teknik, mipa, dsb.

Tapi, rasanya tidak ada jurusan di univ. manapun yang tidak menjadikan matematika mata kuliah wajib.

Di SMA jurusan IPS pun tetap harus berkaitan dengan matematika.

Saya merenung lebih jauh

Biasanya karena profesi yang berkaitan dengan hitung menghitung, atau yang berkaitan dengan jual beli ilmu matematika terpakai.

Bagi bidangku, matematika menjadi sangat penting. Harus ada angka yang menyatakan proses berjalan dengan seimbang, harus ada angka untuk menyatakan sesuatu itu untung, ibaratnya harus ada hitam di atas putih (pembuktian) dan dinyatakan dengan angka.

Lalu bagaimana dengan seorang yang mengambil jurusan sejarah, hukum, sosial, dan seni?.

Kehidupan manusia yang tak kenal jurusan selama berkaitan dengan untung dan rugi, berarti melakukan kalkulasi. Saat itu ilmu matematika kembali dipakai.

Bahkan masa kebangkitan umat manusia di pengadilan Tuhan nantinya juga ada hitungan amal baik dan buruk. Ilmu matematika kembali dipakai.

Tuhan berhitung dengan sangat teliti, hingga mampu memberikan balasan yang sangat adil kepada manusia.

Jadi, dalam ‘kenakalan proses berfikir’, Tuhan itu suka matematika.

Tuhan berhitung, dengan kalkulasi yang pasti tepat.

Sebagai pengingat bahwa Tuhan tidak ingkar janji.

Tidak ada ayat yang menyatakan bahwa manusia harus pintar matematika. Yang ada manusia harus bersikap adil.

Tapi untuk menjadi adil harus menimbang, baru mengambil keputusan. Bahkan di batin tetap ada naluri matematika.

Inilah salah satu karunia yang diberikan Tuhan. Tidak semua orang bisa berhitung. Tapi semua orang dikaruniai naluri berhitung untuk bertahan hidup.

Untuk bertahan dalam neraca keseimbangan kehidupan yang lagi-lagi matematika.

Jadi, siapa yang bilang matematika itu tidak penting?.

Matematika itu secara fungsi bukan hanya 1 + 1 = 2.

Siapapun bisa memaknai sesuatu menjadi sesuatu.

Dulu, saya hanya memaknai matematika sebagai ‘apa yang berkaitan dengan angka’.

Tapi ternyata matematika itu juga memuat pesan kehidupan dan pemaknaan yang lebih dari sekedar angka.

Hari ini saya merasa frustasi, untuk dibiarkan merenung, untuk dibiarkan mengerti, untuk menemukan Allah. Untuk mencoba kembali memahamkan ke adik-adik. Untuk kembali mengajar, untuk kembali mencari hikmah kehidupan dalam tiap garis kehendakNya.

Terimakasih ya Rabb, untuk segala pembelajaran hari ini.

Semarang, ditemani langit mendung.

6 thoughts on “Matematika

Ikutan Komentar Yukkk...

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s