Bertanggung Jawab

Bismillahirrahmaanirrahiim

Kembali menyapa kawan-kawan blog dengan tulisan. Maaf karena belum membalas komentar yang masuk atau berkunjung ke blog kawan-kawan yang lain karena sedang terkendala beberapa hal. Tapi secepatnya akan dibalas atau menyempatkan berkunjung kembali =)

Saya sangat menyukai kutipan pada gambar yang saya posting di atas.

Sebagai pengingat bagi pria maupun wanita. Pengingat bagi pria untuk menjadi pria yang bertanggung jawab dan menjadi wanita yang juga bertanggung jawab. Terutama bagi pribadi yang masih sendiri atau bagi pasangan yang belum menikah. ‘Bertanggung jawab’ disini bukanlah dalam konteks ketika seorang wanita hamil di luar nikah maka sang pria dengan gagah berani kemudian mengucap kepada wanita ‘aku akan bertanggung jawab, menikahimu dan bertanggung jawab atas jabang bayi yang dikandung’. Lebih di atas itu semua ‘sanggupkah bertanggung jawab di depan Tuhan?’.

Beberapa saat yang lalu saya membaca artikel kesehatan, iseng mencari tentang kesehatan telinga. Kemudian mampir ke kesehatan reproduksi. Di artikel tersebut yang membahas bahasan mengenai siklus menstruasi yang teratur dan ternyata banyak dikomentari oleh wanita yang terjebak dalam pertanyaan ‘saya hamil atau tidak dok?’. Kebanyakan disertai dengan pernyataan melakukan hal tersebut dengan pacar. Ada yang menyertakan kata dipaksa, ada pula yang tidak. Bahkan ada cowok yang juga melontarkan pertanyaan memastikan apakah ‘pacarnya hamil atau tidak’ ditambah argumen sukurlah hasil test packnya negatif.

Inilah rupa dunia muda saat ini. Yang juga sangat dekat dengan saya juga dengan wanita lain.

Ketakutan akan kehamilan oleh wanita muda di luar nikah bukan hal yang baru. Jangan kira pria nya juga tidak takut. Justru karena banyak yang sama-sama ketakutan sehingga memilih jalan aborsi. Tapi hukuman masyarakat di negeri partialis ini jangan ditanya akan terhujam kemana. Tentu saja jawabannya sudah jelas, ke anak wanita. Itulah mengapa banyak orang tua yang sangat khawatir melepas anak wanitanya jauh dari rumah. Karena menjaga anak wanita selalu dianggap lebih sulit dari pria. Bukan karena anak wanita itu cenderung lebih nakal daripada pria. Tapi dalam konteks kejadian seperti ini orang tua sudah dapat membaca apa yang akan terjadi.

Efek psikologis tentu saja tidak hanya akan dirasakan oleh anak yang sedang mengandung, tapi juga oleh orang tua dan juga anggota keluarga lain yang tinggal serumah. Terlebih lagi kalau ucap manis ‘tanggung jawab’ itu hanya ada di mulut saja. Sebelum menyatukan badan berjanji, setelah menyatukan badan kembali berjanji untuk hubungan selanjutya, setelah ada badan yang baru ditinggalkan, atau dibiayai untuk menghilangkan. Inilah fakta tanggung jawab versi modern.

Kuncinya sebenarnya kembali pada moral masing-masing. Kebanyakan wanita muda yang melakukan hubungan badan di luar nikah bukan karena memang menginginkan. Ada banyak faktor yang melatarbelakangi, ada yang awalnya coba-coba, ada yang karena ancaman (contoh: tidak mampu melawan ajakan pacar karena takut diputuskan), ada yang karena tuntutan ekonomi, dsb. Dari sisi pria juga latar belakangnya macam-macam ada yang karena coba-coba, ada yang menganggap hal itu biasa, dsb. Apapun itu latar belakang utamanya kembali pada naluri nafsu seksual manusia.

Kalau seperti ini, apa kita akan menyalakan nafsu seksual?. Kemudian menyalahkan Tuhan karena membekali manusia dengan nafsu yang juga mencakup nafsu seksual?.

Nafsu makan juga masuk golongan nafsu. Tanyakan kepada orang yang memiliki ketertarikan spesifik dengan makanan. Bagaimana susahnya menahan nafsu tersebut. Atau tanyakan kepada orang yang memiliki nafsu belanja. Bagaimana susahnya menahan ketertarikan untuk belanja. Atau tanyakan kepada orang yang nafsu membaca buku sampai terasa rugi baginya melewatkan waktu dengan sia-sia tanpa membaca buku sesuai spesifikasi yang digemari.

Nafsu itu bermacam-macam. Semua nya menjebak bila berlebihan.

Termasuk yang berkaitan dengan seksualitas. Semua anak baik pria maupun wanita akan mengenal secara alami mengenai hal ini. Tanpa perlu dipelajar lewat film porno. Bahkan dalam kitab suci sekalipun mengajarkan tata caranya. Bukan berarti kitab suci berubah menjadi kitab cabul. Tapi, dalam sekecil apapun konteks kehidupan manusia tidak terlepas dari aturan Tuhan.

Inilah pentingnya menghadirkan kesadaran, mengembalikan diri kepada jalan Allah. Tuntunan yang ditunjukkan oleh rasulullah. Tidak ada manusia yang akan lepas dari ujian. Tapi, tidak ada manusia juga yang akan terlepas dari pertolongan Allah. Meminta kasih sayangnya untuk menjaga diri kita.

Tidak pernah ada kata terlambat untuk kembali kepada jalanNya.

Lalu bagaimana bila terjebak dalam hal di atas?. Saya sedih bila mendengar hujatan kepada wanita yang hamil diluar nikah. Semua wanita maupun pria berkewajiban menjaga diri. Kehilangan keperawanan sering dianggap kehilangan kehormatan, mencoreng nama keluarga. Tidak pernah ada yang bisa menebak masa depan, juga tidak pernah ada yang tahu kejadian seperti ini akan menimpa siapa. Mari saling bergandengan untuk saling mengingatkan.

Bukan saling menghujat, karena semua orang akan punya bagian ujian masing-masing. Kalau kita memilih jalan yang membelok dari jalan Tuhan, maka Ia akan membiarkan hambaNya melalui jalan tersebut untuk dilalui. Jalan lurus kepadaNya itu tidak pernah tertutup. Selalu terbuka, tertulis jelas tata caranya di dalam kitab suci sebagai pedoman. Jalan membelok itu tidak berarti jelek. Justru ada orang yang setelah berbelok baru menemukan jalan lurus yang semakin mendekatkanNya kepada pemcipta bumi, langit, dan semesta.

Yang perlu di ingat, tidak perah ada wanita bekas. Keperawanan (fisik) wanita itu sering dianalogikan dengan gelas. Yang apabila ia telah pecah. Disambung lagipun akan tetap terlihat bekas retakan pecahannya. Tapi, dalam ilmu pembuatan gelas. Ada yang namanya peleburan. Gelas, sepecah apapun bila dilebur bisa dibentuk kembali. Bahkan bisa menjadi gelas yang lebih cantik.

Kembali pada pesan utama yang ingin saya sampaikan, Jika tidak ingin menjadikan seorang wanita sebagai istri maka jangan jadikan ia seorang Ibu. Mari sama-sama menjadi manusia yang bertanggungjawab di hadapan Allah. =)

Semarang, senja.

4 thoughts on “Bertanggung Jawab

  1. iya.. aku sering banget ngeliat pertanyaan2 itu pas lagi gugling tips2 hamil..
    miris, kasihan, dan berdoa semoga adek2ku nanti bukan termasuk salah satunya nanti..

Ikutan Komentar Yukkk...

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s