Pakan Sapi yang Diperkaya bagi Peternak di Kupang

Pagi ini saya membaca berita yang membahas ‘Peternak di Kupang butuh makanan sapi’. Ulasan lengkapnya bisa dibaca di link ini. Salah satu provinsi yang terletak di timur indonesia ini memiliki musim kemarau yang panjang. Musim kemarau di wilayah NTT bisa mencapai 9 bulan penuh, dan 3 bulan sisanya merupakan musim penghujan.

Saat puncak musim kemarau, tanah-tanah menjadi kering dan tandus sehingga tidak bisa ditanami. Tumbuhan mati karena tidak mendapatkan suplai air. Akibatnya, rumput sebagai sumber pakan sapi yang utama menjadi sulit untuk didapatkan. Minimnya ketersediaan sumber makanan bagi sapi tentu saja sangat berpengaruh pada bobot sapi.

Inilah yang saat ini menjadi polemik bagi peternak di NTT. Lalu apa yang bisa diupayakan?. Saya akan mencoba sedikit mengulas dari sudut pandang saya berdasarkan ilmu yang pernah di dapatkan di kelas perkuliahan. Bila sekiranya ada pembaca dari jurusan peternakan yang ingin mengoreksi atau melengkapi materi tulisan saya ini, sangat diperkenankan.

Dalam pemahaman yang saya dapatkan. Pakan sapi itu sebenarnya tidak hanya bersumber dari rumput semata. Peternak bisa membuat pakan sapi sendiri dari limbah sisa sayur-sayuran atau dari kulit buah-buahan. Kulit buah-buahan yang bisa digunakan adalah kulit pisang, kulit jagung, dan kulit singkong (ubi kayu).

Apakah bahan tersebut bisa langsung diberikan pada sapi?. Lalu dimana peran pengolahan limbah bisa membantu?. Sebenarnya bisa saja jika limbah sisa sayur-sayuran atau kulit buah-buahan diberikan langsung pada sapi. Tapi, tidak bisa memberikan nutrisi yang cukup untuk penggemukan sapi. Untuk itulah perlu dibuat pakan sapi yang diperkaya. Jadi, intinya adalah pengolahan limbah menjadi pakan yang diperkaya.

Jadi, limbah bisa mempunyai nilai tambah atau nilai guna. Pisang, jagung, dan ubi kayu merupakan sumber pangan yang ketersediaannya cukup banyak di NTT. Mayoritas di daerah Indonesia Timur, sumber karbohidrat utama itu tidak hanya diperoleh dari beras saja. Ada banyak sumber karbohidrat yang biasa di konsumsi.

Rata-rata produksi komoditas pertanian di daerah Indonesia Timur bukanlah yang paling unggul. Padahal lahan yang tersedia cukup prospek untuk hal tersebut. Areal persawahan tidak sebesar yang bisa disaksikan di pulau Jawa. Kebanyakan orang Indonesia Timur terbiasa menjadikan jagung, pisang, ubi kayu, talas, ketela rambat, dan sagu sebagai sumber pangan yang sama pentingnya dengan beras.

Dahulu, orang-orang di Indonesia Timur khususnya Nusa Tenggara sumber karbohidrat utamanya berasal dari sorgum, jagung, pisang, dan ubi kayu. Hanya saja, program swasembada beras dari Presiden Soeharto di era pemerintahannya mewajibkan masyarakat Nusa Tenggara ikut menanam beras.

Padahal iklim Nusa Tenggara kurang cocok untuk menanam beras. Walapun ada daerah di Nusa Tenggara yang cukup baik produksi berasnya, misal Malaka. Tapi daerah ini rentan banjir. Sehingga, kasus busung lapar di Nusa Tenggara banyak setiap tahunnya. Sumber air sulit di dapat, hasil panen atau ternak sulit di andalkan karena musim kemarau yang panjang, dan efek jangka panjang tentu saja rendahnya pendapatan masyarakat yang bergantung dari sektor pertanian ataupun peternakan.

Sehingga yang perlu dilirik dari kasus ini adalah sumber-sumber lain yang juga bisa dijadikan sebagai sumber pakan bagi sapi, namun ketersediaannya cukup dan tidak mengganggu ketersediaan sumber pakan bagi manusia.

Lalu bagaimana cara membuat pakanan yang diperkaya bagi sapi?. Metode yang bisa diupayakan, yaitu dengan bantuan mikroba NOPKOR. NOPKOR adalah Nitrogen, Phosphate, Kalium Organisme Recovery. Bahan ini termasuk golongan probiotik yang merupakan kultur campuran mikroba pencernaan NPK yang berguna untuk hidrolisa karbohidrat, serat dan protein menjadi monosakarida dan asam amino yang berguna bagi pertumbuhan hewan ternak. Sehingga baik bagi penggemukan sapi.

Proses pembuatan pakan ini cukup sederhana. Limbah sayur atau kulit buah dimasukkan ke dalam bak aklimatisasi. Kemudian ditambahkan NOPKOR secara merata dengan perbandingan tertentu. Kemudian diaduk, agar pencampuran maksimal. Setelah itu bak ditutup rapat. Waktu pembuatan pakan kurang lebih seminggu. Dengan pengecekan rutin, memastikan bahwa pakan tidak mengalami pembusukan. Setelah seminggu dan wangi pakan yang diperoleh segar. Pakan bisa diberikan pada sapi.

Inilah salah satu alternatif yang bisa diupayakan untuk daerah yang sering mengalami kekeringan, agar hewan ternak bisa tetap dipertahankan bobotnya.

Semoga bermanfaat.

Semarang, di hari yang cerah dan panas.

Iklan

3 pemikiran pada “Pakan Sapi yang Diperkaya bagi Peternak di Kupang

  1. Hmmm begitu ya! kalo kondisi Di Nusa Tenggara sebenarnya mungkin bisa diatasi dengan varietas padi hasil riset lipi.
    tapi salut jugauntuk penemuannya, kalo budidaya ikan di sana bagimana kabarnya??

Ikutan Komentar Yukkk...

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s