Korea Ombak, Indonesia Pasir

Dalam 4 hari terakhir saya rutin menyaksikan drama serial korea dan film korea. Sudah lama juga saya tidak rutin meyaksikan drama serial korea. Yang membuat saya tertarik dengan beberapa drama yang saya tonton adalah alur ceritanya yang menarik.

Tapi, kali ini saya tidak akan membahas cerita yang saya tonton. Lebih ke kekaguman saya akan produksi film atau drama serial korea yang total. Ini pasti bukan bahasan yang baru bagi penggemar drama serial korea. Tapi semoga apa yang saya bagikan bisa menjadi inspirasi.

Warisan budaya Indonesia kini bukan hal yang menarik untuk dilirik generasi muda. Gulungan ombak modernisasi menyapu budaya layaknya pasir disapu ombak. Jika budaya itu adalah istana pasir, maka budaya kini nasibnya sama dengan pasir. Datar, itulah bentukannya. Datar namun tetap menjadi pijakan. Berbeda dengan budaya korea yang saat ini menjadi ombak, sedang menyapu kesegala arah.

Bagaimanapun dikatakan budaya Indonesia kini telah meluntur, warisan turun temurun berupa mental ‘manusia Indonesia’ akan terus melekat. Tidak harus seni berupa tarian, lagu daerah, bangunan bersejarah, baru dikatakan budaya. Bahasa adalah budaya, perilaku bentukan lingkungan adalah budaya, bahkan hasil pemikiran dan mentalitas itu adalah budaya.

Budaya adalah pijakan. Mari lirik Indonesia dari sabang sampai merauke. Bayangkan bagaimana dialek orang sumatera, jawa, kalimantan, sulawesi, nusa tenggara, dan papua itu ternyata berbeda-beda. Masing-masing memiliki ciri khasnya yang pada dasarnya terbentuk dari dialek bahasa daerah setempat. Begitu pula dengan kehidupan, walaupun banyak nilai yang katanya bergeser, sebenarnya perubahan itu tidak melulu buruk. Jaman dulu, anak wanita hampir tidak memiliki hak ataupun suara. Saat ini baik wanita maupun pria punya kesetaraan untuk berpendapat dan berusaha baik dalam sektor formal maupun non formal. Sudut pandang seseorang yang tinggal di papua dan seseorang yang tinggal di jawa dalam studi kasus tertentu pasti berbeda, karena pengalaman kultural. Segelintir contoh yang bisa saya berikan.

Berbeda corak bukan berarti mengkotakkan diri, lautan membetang memisahkan pulau-pulau besar. Untuk itulah kita menyatu dalam Indonesia, dalam kayanya keanekaragaman.

Kembali ke drama serial korea. Pengenalan unsur budaya dalam tiap drama yang diproduksi cukup kuat. Sekaligus katalis yang luar biasa bagi sektor pariwisata dan industri negara Korea Selatan. Tidak hanya keindahan alam yang menjadi sorotan dalam drama yang ditampilkan, kebersihan lingkungan, budaya kehidupan keseharian, makanan, musik, spot-spot yang menarik, fashion style, gadget-gadget  terbaru keluaran Samsung (note: Samsung adalah pabrikan industri mendunia asal Korea Selatan), dan bahasa korea yang mendadak menjadi bahasa yang menarik untuk dipelajari. Semua ini menjadi satu paket dalam “Hallyu”.

Hallyu adalah gelombang korea (korean wave) yang diusung oleh Korea Selatan. Media promosinya lewat film dan musik. Sesuatu yang universal yang mudah diterima oleh berbagai usia di banyak tempat. Media promosi yang tepat, digarap dengan serius dan full support dari pemerintah akhirnya menghasilkan pengaruh yang sedemikian besar seperti yang kita saksikan saat ini. Tapi disamping itu, kerja sama yang sinergis dengan insan seni tak kalah penting. Insan seni dituntut menghasilkan karya yang baik, yang bisa mengangkat nama Korea Selatan. Keberhasilan ini dibangun dari dalam Korea Selatan terlebih dahulu, saya kagum dengan kebijakan pemerintah yang melakukan blocking terhadap film asing yang masuk kesana. Jadi, hiburan tunggal bagi warga adalah hasil produksi lokal dari dalam Korea Selatan itu sendiri.

Tidak mustahil Indonesia juga bisa menciptakan trend sedemikian, tidak harus sampai mendunia dulu. Paling tidak untuk lokal di Indonesia terlebih dulu. Akhir-akhir ini sudah banyak kita saksikan film besutan sutradara Indonesia  mengangkat budaya Indonesia sebagai bagian pembentuk ceritanya. Film-film horor sensual sudah tidak semenjamur dulu. Ini adalah sesuatu yang harus diapresiasi secara positif. Semoga sinetron juga bisa segera menyusul, tidak melulu menghadirkan kisah cinta remaja, yang penuh konflik. Semakin rating meningkat, maka konfliknya justru semakin banyak. Cerita cinta tiada akhir sampai alur menjadi kesana kemari.

Dalam Industri musik pun bisa demikian, kita boleh mengikuti trend. Tapi tidak menghilangkan identitas. Yang miris, seringkali music project yang mengusung konsep musik kultural justru tidak dikenal di negeri sendiri, tapi mendunia.

Saat ini konsep menciptakan trend lokal yang sukses mungkin masih mimpi. Pekerjaan rumah yang besar, di tengah kenekaragaman kita sebagai Indonesia. Budaya Jawa belum tentu diterima di Papua, begitupula sebaliknya. Ego untuk merasa lebih baik harus dihilangkan, karena masing-masing memiliki nilai yang diyakini. Tidak harus selalu menunggu pemerintah. Berikan dukungan yang mampu kita berikan. Sempatkan diri untuk menyaksikan tari, memainkan permainan tradisional, menyanyikan lagu daerah, memakai pakaian dari kain tradisional, mempelajari sejarah. Tanpa disadari pengalaman demikian akan membentuk mentalitas spiritual. Karena memahami budaya Indonesia secara mendalam berarti mengupas lapisan demi lapisan rahasia yang bertuju pada pengalaman spiritual yang menggugah kesadaran yang menyaksikan untuk lebih bijak dalam menapaki kehidupan. Kembali lagi, budaya menjadi pijakan. Itulah versi dari sudut pandang saya.

Kalau digarap serius, program berbasis kebudayaan itu justru bisa menghadirkan nilai yang besar. Baik dari dalam maupun luar negeri. Kalau bisa gandrung dengan budaya korea, kenapa tidak bisa gandrung dengan budaya sendiri?.

Semarang, cerah berawan.

Iklan

12 pemikiran pada “Korea Ombak, Indonesia Pasir

  1. Amerika Serikat memengaruhi dunia dengan Hollywood & kapitalismenya, Jepang dengan anime & idol group-nya, Korea dengan drama & K-pop-nya. Kita bisa bikin apa? cuma meniru :mrgreen:

  2. goyang bang jali nya si Denny Cagur bisa ga ya jadiin icon ? :D, atau goyang pocong ala farhat abas? hehe..tapi aku belum kena demam korea cit..klo jepang yah rada-rada kena lah, anime nya..tapi anime jaman dulu

  3. mungkin lebih cocok nya,negara ini disebut negara pamakan segalanya..:D
    pernah beberapa kali ngikutin drama serial korea dan film korea,tapi lama – lama jadi risih karna yg suka kebanyakan kaum hawa nya…hahhaa

    • sepertinya cukup tepat dikatakan demikian =)
      kebanyakan latah dalam menerima pengaruh budaya luar.
      eh, padahal cewek2 yang suka film korea itu selalu berharap, cowok juga suka nonton lho.
      film korea itu punya sentuhan romantisme yang manis. =))

Ikutan Komentar Yukkk...

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s