Ready to Re-Code?

Selamat berbuka puasa bagi yang hari ini sedang menjalankan ibadah puasa.

Sore ini saya menamatkan satu bab buku ‘Change‘. Banyak pembahasan menarik yang membuka pintu pemikiran yang terkait dengan kode genetik. Kode genetik yang dijabarkan disini tidak sebatas penjabaran teori biologi molekuler, melainkan kaitannya dengan representasi perilaku dan proses berfikir manusia secara personal. Behaviour menjadi kode genetik manusia, dan perubahan diartikan sebagai re-code atau penyusunan kembali. Tidak semua yang terjadi dalam kehidupan harus diterima begitu saja, sebagai warisan tanpa adanya pandangan baru. Apakah cara lama tetap cocok ataukah harus ada gebrakan yang besar?.

Membentuk tradisi vs Pembaruan

Membentuk tradisi vs Pembaruan

Pada bab awal ini pembaca diajak untuk keluar dari pemikiran tradisional, pemikiran tradisional ini merupakan warisan turun temurun dengan kecenderungan menghindari perubahan. Pemikiran seperti ini merupakan cara berfikir secara umum masyarakat Indonesia sebagai masyarakat komunal dengan ciri-ciri memiliki rasa ingin tahu yang besar terhadap orang lain, bila ada orang lain yang berbeda maka akan dibentuk menjadi sama melalui mekanisme rumor/ gosip. Ditujukan kepada orang yang tidak sama agar menjadi sama. Dan adanya nilai dimana penghuni lama harus dihormati.

Perubahan menjadi hal yang berani ditempuh oleh orang-orang dengan usia muda. Yang minim pengalaman atau tidak tau medan tapi punya visi misi untuk terus maju menjadikan hal yang tidak ada menjadi ada, yang mustahil menjadi mungkin. Ide-ide segar dan keberanian dalam mengambil resiko adalah khas anak muda. Kadangkala tidak mengerti membuat orang justru semakin berani, karena bila sudah terkontaminasi pertimbangan, apalagi pertimbangan pengalaman kegagalan, dsb, justru tidak akan ada langkah yang berani ditempuh.

Nilai tradisional menghadirkan belenggu, belenggu itu bernama ‘kebiasaan’. Semua hal yang diluar kebiasaan sering minim bahkan tidak mendapat dukungan. Kebanyakan orang lebih suka dengan kebiasaan karena tidak perlu berfikir, tinggal mengikuti rute yang ada. Monkey see, monkey do. Inilah yang banyak terjadi, orang lebih suka berada dalam kebiasaan yang sudah ada. Karena toh yang lama bisa berjalan dengan kebiasaan yang ada. Comfort zone itu bukan hanya zona nyaman di dalam diri seseorang, melainkan juga menyangkut sistem yang walaupun tidak membawa dampak ke arah peningkatan mutu yang signifikan, tetap dipertahankan.

Inilah yang biasa didobrak oleh anak muda yang berani mengambil resiko menjadi seorang enterpreuneurship. Apa yang saya bahas diatas merupakan sedikit dari ekstrak bab I yang saya baca hari ini. Kita kaitkan dalam skala yang lebih besar, maka pembahasan di atas bukanlah bahasan secara personal semata. Tapi juga menyangkut organisasi, pemerintah dan negara.

Big companies tend to think the way they are… enterpreuneurs tend to think the way they could be…

-(Laura & Al Ries)

Inilah yang menyebabkan yang muda sering dicari untuk ikut bergabung dalam perusahaan atau organisasi. Diharapkan akan ada perubahan yang dibawa. Tapi melihat sistem tradisional yang kebanyakan sudah mengakar ada dua kemungkinan yang bisa terjadi terhadap seorang pembaharu. Dibenci karena berbeda atau ikut melarut dalam sistem yang ada. Inilah nasib orang-orang yang mempertahankan prinsip di tengah orang yang menganggap bahwa prinsip itu sudah tidak bernilai.

Lalu dalam skala besar dimana sebenarnya perubahan itu harus dimulai?. Apakah harus ada pemimpin yang bagus dulu baru akan ada hasil yang maksimal?. Ataukah harus ada pekerja yang berkualitas terlebih dulu?.

Pemimpin sebaik apapun tidak bisa bekerja secara tunggal, banyak organisasi yang akhirnya menjadi lumpuh karena hanya pimpinannya saja yang menjadi motor. Sementara anggotanya lumpuh, menanti tugas. Harus ada hubungan yang sinergis antara pimpinan dan yang dipimpin. Yang dipimpin harusnya memiliki mental yang sama dengan yang memimpin. Mental untuk mencapai goal berupa visi misi yang ingin dituju.

Perubahan menuntut adanya 5 hal sekaligus :

Pola Perubahan

Pola Perubahan

  1. Visi tentang arah masa depan (vision).
  2. Keterampilan (skills) untuk mampu melakukan tuntutan-tuntutan baru. Keterampilan ini harus terus dipelihara, ditumbuhkan, dan dikembangkan.
  3. Insentif yang memadai, baik langsung maupun tidak langsung, cash maupun non cash, individual (berdasarkan kinerja perorangan) maupun kelompok (berdasarkan kinerja kelompok/ unit kerja).
  4. Sumberdaya (resources) yang memudahkan ruang gerak dan pertumbuhan.
  5. Rencana tindak (action plan). Rencana tindak bukanlah sekedar rencana, melainkan sebuah rangkaian tindakan yang diintegrasikan dalam langkah-langkah spesifik dan terencana, tertulis dan dimengerti oleh semua pelaku yang terlibat.

Lima hal diatas harus dipenuhi secara utuh untuk menunjang kemajuan organisasi, baik pemerintah maupun non pemerintah. Bila ini berhasil diterapkan dalam sistem pemerintahan Indonesia, pastinya birokrasi bukan menjadi hal yang menyulitkan bagi masyarakat.

Mau mulai menerapkan 5 standar perubahan di atas dalam diri anda?. Jawabannya ada dalam diri pembaca masing-masing. ‘Perubahan harus diusahakan, dengan pandangan beauty of tomorrow and art of possibility‘.

Semoga bermanfaat.

Semarang, cerah dan riuh.

3 thoughts on “Ready to Re-Code?

Ikutan Komentar Yukkk...

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s