Banjir

Hari ini terjadi banjir besar daerah di kota Kendari. Akhir-akhir ini curah hujan tinggi disana, 4 hari 4 malam hujan tidak kunjung mereda. Alhasil, terjadi banjir besar. Seingat saya selama 17 tahun tinggal di kota Kendari inilah banjir terparah yang pernah terjadi. Banjir parah terjadi 2 tahun lalu, setinggi paha – pinggang orang dewasa. Tapi, tahun ini mencapai mulut orang dewasa. Pintu-pintu terendam hingga puncak. Bahkan beberapa rumah hanya tersisa atap saja yang terlihat.

Kondisi di depan rumah saya (sebelah kanan pagar hijau)

Kondisi di depan rumah saya (sebelah kanan pagar hijau)

Kondisi jalan di sekitar rumah saya, di area yang lebih tinggi.

Kondisi jalan di sekitar rumah saya, di area yang lebih tinggi.

Kondisi dari jalan raya menuju area rumah

Kondisi dari jalan raya menuju area rumah

Kondisi di depan rumah tetangga saya

Kondisi di depan rumah tetangga saya (kondisi terbaru)

Inilah kondisi terakhir yang terjadi di pemukiman tempat tinggal saya di Kendari, banjir mulai terjadi sejak pukul 2.00 WITA shubuh tadi. Kemudian terus meninggi, karena hujan tidak kunjung reda hingga pukul 6.30 WITA. Setelah reda, debit air bukan nya berkurang, justru semakin meninggi. Ternyata tanggul yang berada di sekitar area perumahan jebol.

Awalnya keluarga saya berniat untuk tetap tinggal di rumah, masih ada area sedikit lantai 2 yang tidak begitu luas, tapi cukup untuk tempat berlindung. Tapi karena semakin bertambahnya waktu, air semakin meninggi Ibu, adik-adik, nenek, dan sepupu perempuan saya semakin kebingungan. Hujan rintik-rintik mulai turun lagi dan angin bertiup kencang. Dengan kelembaban yang tinggi seperti itu, kondisi terasa sangat dingin.

Karena udara yang samakin dingin, penyakit sesak nafas yang diidap ibu saya kumat. Adik-adik saya kebingungan harus bagaimana disana. Saya pun kebingungan disini, tidak ada selain pertolongan Allah yang saya harapkan dalam kondisi seperti ini. Saya bersyukur, ada keluarga yang datang menjemput ibu saya tepat saat air mencapai leher orang dewasa. Ibu saya di dudukkan di atas meja kemudian meja tersebut diangkat sebagai pengganti tandu.

Adik-adik dan sepupu saya digendong, begitu pula dengan seorang nenek saya. Proses evakuasi pun tidak selancar yang dibayangkan. Arus deras di beberapa titik, benar-benar harus berhati-hati. Saat proses evakuasi saya kehilangan kontak dengan keluarga, jalur telekomunikasi terganggu dan handphone anggota keluarga saya rata-rata mati kehabisan baterai.

Allah itu maha baik, sungguh maha baik. Bagi kami yang telah kehilangan ayah, kondisi sakitnya ibu disaat demikian pasti menghadirkan ketakutan yang mendalam. Setelah di evakuasi menuju rumah keluarga yang lebih tinggi, ibu dan adik-adik, dan nenek saya akhirnya bisa beristirahat.

Hampir seluruh warga yang tinggal di sekitar area rumah saya telah di evakuasi saat ini. Ada yang secara personal lewat bantuan keluarga, ada pula yang dibantu oleh tim SAR. Kerugian materi adalah hal yang tidak terelakkan disaat seperti ini. Saat air masih selutut atau sepaha, pikiran pasti masih bisa merespon penyelamatan harta benda. Tapi, saat air sudah mencapai bahu orang dewasa yang terpenting kemudian berubah, menjadi keselamatan anggota keluarga itu sendiri.

Betapa keluarga itu penting, sangat penting. Saat pertama kali bisa menghubungi sepupu saya, saya sangat bahagia mengecek dimana keberadaan mereka saat ini. Pertama kali mendengar suara Ibu, saya menangis haru. Benar-benar bersyukur. Allah masih memberikan kami kesempatan berkumpul kembali saat saya kembali nanti.

Semoga yang saat ini masih terjebak di tengah banjir, bisa segera di evakuasi. Semoga yang saat ini kehilangan anggota keluarga dilapangkan hatinya, semoga saat ini yang kehilangan harta bendanya di lapangkan rezkinya. Ramadhan akan tetap indah walaupun diuji dengan banjir, dibalik tiap kejadian pasti ada hikmah.

Saat banjir besar seperti ini, pada umumnya yang mengalami akan kebingungan. Ada sedikit tips yang bisa saya bagikan sebagai penanganan saat banjir.

Yang Harus Dilakukan Saat Banjir

1. Matikan aliran listrik di dalam rumah atau hubungi PLN untuk mematikan aliran listrik di wilayah yang terkena bencana,
2. Mengungsi ke daerah aman sedini mungkin saat genangan air masih memungkinkan untuk diseberangi.
3. Hindari berjalan di dekat saluran air untuk menghindari terseret arus banjir. Segera mengamankan barang-barang berharga ketempat yang lebih tinggi.
4. Jika air terus meninggi hubungi instansi yang terkait dengan penanggulangan bencana seperti Kantor Kepala Desa, Lurah ataupun Camat.

Yang Harus Dilakukan Setelah Banjir

1. Secepatnya membersihkan rumah, dimana lantai pada umumnya tertutup lumpur dan gunakan antiseptik untuk membunuh kuman penyakit.
2. Cari dan siapkan air bersih untuk menghindari terjangkitnya penyakit diare yang sering berjangkit setelah kejadian banjir.
3.Waspada terhadap kemungkinan binatang berbisa seperti ular dan lipan, atau binatang penyebar penyakit seperti tikus, kecoa, lalat, dan nyamuk.
4.Usahakan selalu waspada apabila kemungkinan terjadi banjir susulan.

Semoga apa yang saya tuliskan di atas bisa menjadi bahan perenungan mengenai pentingnya keluarga, perenungan akan pentingnya menjaga lingkungan dan alam, dan menggugah kesadaran bahwa sedikit saja ujian air dari Tuhan, manusia sudah tidak memiliki daya. Betapa manusia adalah makhluk yang tidak sempurna, semua hanya titipanNya.

Semarang, haru.

5 thoughts on “Banjir

  1. Lho, lagi mudik nih, Sist?

    Banjirnya mengerikan ya? Parah. . .
    Semoga seluruh warga diberi kesabaran dan kekuatan ya, Sist. .
    KEndari masih musim hujankah?

Ikutan Komentar Yukkk...

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s