Catatan Perjalanan : Kendari

Setelah dua tahun tidak menginjakkan kaki di kota kelahiran, Kendari. Akhirnya tiba saatnya tahun ini untuk pulang dan merekatkan hubungan silaturahim dengan sanak keluarga. Melewati perjalanan 23.5 jam dan cuaca yang kurang bersahabat mewarnai perjalanan mudik tahun ini. Tapi semua lelah dan hambatan terbayar saat tiba di rumah.

Tiba di rumah membawa kelegaan sekaligus tantangan. Rumah sempat dilanda banjir dan banyak merusak barang-barang di rumah. Setiap hari selama hampir 2 minggu keberadaan saya di rumah diwarnai dengan agenda bersih-bersih. Ramadhan tahun ini menghadirkan warna yang berbeda, bagi kebanyakan warga kota Kendari yang baru saja dilanda banjir bandang.

Efeknya, terjadi kelangkaan bahan makanan terutama sayur-mayur. Dugaan saya kebanyakan ladang sayur juga ikut terendam banjir. Alhasil kacang panjang 5 batang dijual dengan harga Rp 5.000, seikat kecil kangkung Rp 5.000, seikat kecil bayam Rp 7000. Harga ikan sebagai lauk utama juga ikut melambung, 5 ekor ikan cakalang kecil menjadi Rp 10.000. Harga bawang dan bumbu dapur juga ikut melonjak.

Tapi yang namanya kebutuhan, harga mahal permintaan tetap ada. Harapan sebagian besar warga kota Kendari, harga bisa segera stabil. Semoga lahan penanaman bisa segera digarap kembali. Harga mencekik seperti ini sering dialami di masa bulan ramadhan.  Iklim kota Kendari saat ini sudah tidak sebaik beberapa tahun yang lalu. Saat ketersediaan sayur mayur dan ikan melimpah dengan harga yang terjangkau oleh pendapatan masyarakat saat itu.

Berbagi hal ini bagi saya berarti meniupkan gelembung sabun ke udara, semoga sampai ke pemangku kebijakan setempat. Penetralan harga pasar perlu dilakukan dengan membantu penambahan stock dari luar untuk jangka pendek atau pemberian bantuan bibit kepada petani untuk jangka panjang. Pemberian subsidi solar untuk penangkapan ikan jangka pendek agar nelayan dapat terus melaut juga akan sangat membantu.

Dalam skala masyarakat yang perlu menjadi perhatian bahwa konsumsi bahan pengan penyerahannya bisa disiasati agar tidak sepenuhnya bergantung pada pasar. Penanaman, dengan lahan sempit bisa digalakkan untuk mengurangi ketergantungan pada pasar. Contohnya saperti pada gambar dibawah ini.

Penanaman di lahan sempit

Krisis berarti tekanan yang mendorong manusia untuk bergerak mencari jalan keluar. Inilah yang menjadi PR bagi setiap masyarakat kota Kendari yang saat ini sedang menghadapi hal tersebut.

Selamat berpuasa di hari terakhir, catatan perjalanan saya selama di kota Kendari akan saya bahas pada tulisan selanjutnya.

Kendari, cerah berawan.

Iklan

Satu pemikiran pada “Catatan Perjalanan : Kendari

Ikutan Komentar Yukkk...

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s