Break Limit : Jalan Kaki

Pertengahan bulan puasa kemarin saya melalui sebuah trip yang sangat berkesan. Bermula dari keinginan saya berlibur ke kampung kelahiran Ibu sekaligus ‘nyekar’ ke makam kakek.  Kampung tersebut berbeda pulau dari Kendari. Rute 4 jam ditempuh via kapal feri. Kemudian dilanjutkan dengan menggunakan motor trail selama 2 jam lintas bukit, kampung, kebun, dan hutan. Kalau jalanan saat itu sedang baik, maka perjalanan yang ditempuh bisa lebih cepat 30 menit. Hanya saja saat itu jalanan sedang dalam kondisi rusak parah. Penuh batu dan kontur yang tidak rata. Di Kendari, saat puasa kemarin curah hujannya masih cukup tinggi. Akibatnya tanah menjadi becek, batu-batu yang terbawa air saat hujan ikut menutupi jalan, dan jalan basah yang tetap dilalui tersebut menyisakan kontur tanah yang tidak rata.

Saya tiba di pulau Wawonii pukul 2 siang. Hari itu ombak kencang, saya memutuskan untuk menginap di rumah bibi terlebih dahulu. Sembari menstabilkan kondisi fisik yang mabuk laut. Esok paginya saya langsung melanjutkan perjalanan via motor trail. 2 jam perjalanan menuju kampung Waworope. Saya tiba di lokasi pukul 8.30. Setibanya disana saya langsung menuju ke makam kakek, mengirimkan doa untuk beliau. Setelah itu berkumpul bersama saudara sepupu. Saat berkumpul, saya diajak untuk mencari kerang dilaut. Saat itu air laut sedang surut (istilah daerah : meti), kesempatan bagi anak-anak kecil maupun orang dewasa untuk mencari berbagai jenis kerang laut. Dimulai dari pukul 9 hingga pukul 11 pagi. Saya juga ikut mencari, mengintari garis pantai sekitar 2 jam dengan hasil yang nihil. Mungkin karena masih pengalaman pertama mata saya kurang awas untuk mencari kerang laut di sekitar batu karang.

Salah satu view di dekat pantai

Salah satu view di sekitar pantai

Kemudian adik sepupu saya menyampaikan ada rute jalan ke kebun saat ini sudah diperbaiki. Disana ditemukan dua sumber air yang cantik. Sumber air tersebut pertemuan antara dua jenis air, air laut dan air tawar. Air laut berasal dari pantai saat air pasang dan air tawar berasal dari gunung. Saya pun penasaran ingin kesana, apalagi ada sepupu saya yang masih duduk di kelas 3 SD yang juga penasaran ingin kesana. Sayapun bertanya, apa rutenya dekat?. jawaban sepupu saya ‘ya, dekat kok kak Cia (nama panggilan saya di keluarga), kita jalan kaki saja kesana’.

Maka berangkatlah saya bersama 3 orang adik sepupu saya. 2 perempuan (kelas 1 SMA dan kelas 3 SD) dan 1 laki-laki (Kelas 5 SD). Sepupu saya menyarankan, ‘jalannya tidak usah pakai sendal saja, biar lebih seru’. Saya pun menyanggupi, agak canggung juga awalnya berjalan kaki tanpa alas kaki. Apalagi ternyata rutenya tidak dekat ‘2 Km’ lebih. Ditempuh sekitar 1.5 jam jalan kaki tanpa istirahat. Ini pertama kali nya bagi saya menembus hutan dan kebun yang berbatasan dengan pantai tanpa alas kaki dalam kondisi berpuasa. Adik-adik sepupu saya terlihat santai, inilah kelebihan anak-anak yang hidup di kampung. Fisik mereka kuat.

Akhirnya dengan penuh keringat sampailah juga kami di sumber air tersebut. Sumber air tersebut terbagi dua dipisahkan oleh jembatan kecil yang dibangun warga agar jalan tersebut bisa dilalui. Karena terbagi dua sumber air tersebut dinamakan ‘mata orua’ penamaan dalam bahasa daerah yang artinya mata dua. Airnya berwarna biru benhur, seumur hidup baru pertama kali saya melihat air yang warnanya biru benhur. Air tersebut terjebak di antara baru karang yang dalam dan di kelilingi pohon yang tinggi di sekitarnya. Kami menyaksikan keindahan warna air tersebut dari jembatan sembari duduk sebentar melepas penat, mendapat suplai udara segar dari pohon-pohon di sekitar kami. Kami tidak bisa mencapai airnya, karena jarak dari jembatan dan air tersebut cukup jauh dan sepertinya dalam. Maaf foto tidak bisa saya lampirkan, filenya ketinggalan di rumah =)

Sekitar 10 menit disana kami langsung pulang, kembali berjalan kaki. 3/4 perjalanan saat berjalan pulang saya bertemu dengan paman yang sedang mengangkut batu karang yang sudah dipecah dari hutan. Kami pun menumpang mobil jeep yang dikendarai paman. Perjalanan yang luar biasa, pertama kalinya bagi saya berjalan kaki dengan rute 4 km kondisi berpuasa. Dan ternyata fisik saya sanggup melakukan itu, terimakasih atas kerja sama yang baik diantara kita =).

Walaupun tempurung lutut saya terasa remuk, tapi saya tidak menyesali perjalanan tersebut. Alhamdulillah, saya justru merasa sangat senang, bersyukur dan merasa ini salah satu pencapaian besar dalam hidup saya. Apalagi setelah melewati ujian ‘pembengkakan liver’ beberapa bulan kemarin, ini adalah pengalaman pertama menguji fisik.

Sakit tidak akan menghentikan langkah yang ingin kita tempuh dalam hidup kalau kita tidak mengizinkannya. Saya berbagi cerita ini khususnya untuk rekan sesama spasmofilia. Mari nikmati momen kehidupan yang bisa diraih dalam hidup. Mari secara rutin melatih fisik, saat ini saya berhasil melewati ‘limit’ saya untuk berjalan kaki. Baru 4 km, tapi saya akan berlatih mengusahakan untuk meningkatkan jarak tempuhnya secara bertahap.

Semarang, malam yang sejuk.

Iklan

2 pemikiran pada “Break Limit : Jalan Kaki

Ikutan Komentar Yukkk...

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s