Ci(n)ta

Aku ingin jatuh cinta, ratusan hingga ribuan kali dengan ilmu pengetahuan.

Semoga dengan kecintaan ini mendekatkanku padaMu.

image

 

Iklan

14 pemikiran pada “Ci(n)ta

      • Hehehe… Iya Citra.
        “Defenisi tentang Tuhan?”… Waduhh Rahmat tidak bisa mendefenisikannya. Sebab mengenal Tuhan adalah jalan sunyi masing-masing orang. Tapi, paling tidak tentang “menegenal Tuhan” bisa kita diskusikan lebih lanjut.

  1. Menurut Rahmat, kita dapat mengenal Tuhan. Untuk mengenal-Nya, ragam jalan dapat kita lalui. Entah melalui penuntutan ilmu-ilmu Tarikat, hingga sampai pada Ma’rifat (pengenalan) tentang-Nya. Atau melalui jalan penuntutan langsung pada seorang mursyid (guru spritual). Tapi akhirnya seseorang tersebut tidak bisa menjelaskan siapa Dia (Dia sebagai dzat bukan sebagai sifat). Demikian dari Rahmat, Citra.
    Atau barangkali Citra bisa meluruskan–penjelasan–nya?

    • Aku sependapat dengan Rahmat, Tuhan yang kita kenal hanyalah sifat, bukan dzat. Selama ini yang aku pahami mengenai dzatnya, apapun yang bisa dibayangkangkan tentang Tuhan, maka itu bukan Tuhan.

      Tuhan memberikan kita kesempatan untuk mengetahui sifatnya, Tetapi tidak dzatnya.

      Jalan menuju-Nya adalah pengetahuan. Tapi untuk mengenal-Nya, kita meniadakan (menegasikan) segala–termasuk pengetahuan tentang-Nya– . De epistemologi. (Bagaimana sebaiknya memahami pernyataan ini?. Pengetahuan tentang sifatnya terlalu kuat, apa ini harus dihilangkan untuk menuju Tuhan?).

      Menurut Rahmat, mengapa Tuhan memberikan kesempatan untuk mengetahui sifatnya?.

  2. “Mengapa Tuhan memberikan kesempatan untuk mengetahui sifatnya?”

    Tuhan memberi kesempatan manusia untuk tahu sifat-sifatnya oleh karena manifestasi tertinggi segala sifat-Nya terletak pada manusia itu sendiri. Itu sebabnya dalam penakwilan para sufi atau ahli tasawwuf mengatakan, qur’an adalah tanda, metafora, atau isyarat yang di dalamnya mengandung sifat ke-Tuhan-an. Dan sungguh qur’an paling nyata (kitab al-mubin) adalah diri manusia sendiri–dengan tidak menafikan alam semesta sebagai qur’an pula.

    Mengutip salah satu hadits (Rahmat lupa siapa perawinya, hehehe)
    “Siapa mengenal dirinya, ia mengenal Tuhannya (Tuhan sebagai sifat)”

    Nah, terkadang Tuhan dengan segala sifatnya sering dipahami sebagai sesuatu yang asing, jauh, abstrak, dan enigmatic. Tuhan dalam arti ini sering pula tidak luput dari tafsiran-tafsiran mental konsepsional yang akhirnya menelurkan slogan’mencari Tuhan’. Ia dipahami sebagai sesuatu yang lain, berjarak dengan kita, dan berada pada tempat tertentu. Padahal tidak, bersemayam-Nya pada diri itu sendiri.

    • Pelengkap dari gambaran di atas yang aku yakin lahir dari pembelajaran serius dan semata2 diperoleh atas izin dan kasih sayangNya.

      “Hati seorang mukmin, adalah Baitullah”.

      Fabiayyi ‘alaa irabbikumaa tukadzdzibaan. Makasih lho…udah mampir dan berbagi udara segar disini.

Ikutan Komentar Yukkk...

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s