Peran Lulusan Teknik Kimia

Beberapa saat yang lalu saya mengikuti seminar pembekalan kerja yang diadakan oleh Himpunan Mahasiswa Teknik Kimia Universitas Diponegoro bertemakan “Menjadi Sarjana Teknik Kimia yang Kompetitif di Dunia Kerja”. Seminar tersebut menghadirkan pembicara alumnus Universitas Diponegoro tahun 1977 -Dr. Ir. Arnold Soetrisnanto-, yang saat ini bekerja sebagai Senior Advisor PT. Medco Power Indonesia dan Anggota Dewan Riset Nasional. Sebelum bekerja di Medco, beliau adalah peneliti di BATAN dan sempat mengepalai riset terpadu guna rencana pembangunan Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir (PLTN) di Muria.

Dalam seminar kali ini, pembahasan lebih banyak mengacu pada masalah-masalah yang terjadi di Indonesia kini. Harapannya dengan mengetahui hal ini, seorang lulusan teknik kimia mampu berfikir secara luas dan terbuka untuk menjadi problem solver ditengah berbagai tantangan yang dihadapi Indonesia.

Pembahasan dalam seminar ini luas dan sangat menarik. mulai dari dunia kerja seorang lulusan teknik kimia, ekspor-impor, energi (minyak, gas, nuklir), dan PLTN sebagai solusi krisis energi kelistrikan. Pembahasan akan saya bahas dalam 2 tulisan lagi agar pembahasan bisa lebih spesifik dan tidak terlalu meluas dalam tulisan saya kali ini. Harapannya dengan membaca tulisan saya kali ini seorang lulusan teknik kimia dari universitas manapun mampu memahami perannya di dunia kerja.

Dunia Kerja Lulusan Teknik Kimia

Dunia Kerja Lulusan Teknik Kimia

Seorang lulusan teknik kimia bisa bekerja di bidang pemerintahan, akademisi, maupun industri. Dimana ketiganya terkorelasi satu sama lain. Di bidang pemerintahan yang mengatur kebijakan dan pengaturan memerlukan akademisi untuk pengkajian, sehingga keputusan yang diambil tepat. Dalam pelaksanaan pengembangannya, khususnya yang berkaitan dengan engineering practice bekerja sama dengan dunia industri.

Sebagai contoh study case, dulu pengembangan biodiesel di Indonesia dari biji jarak merupakan salah satu program yang diusung pemerintah. Program ini bertujuan menghadirkan energi alternatif yang ramah lingkungan. Disamping itu, harapannya dengan lahirnya subsider bagi solar, bisa mengurangi konsumsi solar dalam negeri dan  berefek pada rupiah yang bisa dihemat untuk disalurkan pada pos diluar minyak. Keputusan pemerintah yang diambil saat itu (2007) menurut Pak Arnold adalah langkah yang terburu-buru. Karena sebenarnya banyak kebijakan publik negeri ini yang terlalu di politisasi. Ingin show up, tapi minim riset sehingga program pada akhirnya mandek.

Mengapa disebut program yang terburu-buru?. Saya pernah berkunjung langsung ke PTPN IX regional Jawa Tengah. Saat itu saya membutuhkan data yang akan saya gunakan untuk mengerjakan tugas kuliah. Saya terlibat diskusi mengenai penanaman pohon jarak pagar yang kini tinggal kenangan. Untuk wilayah regional Cilacap ada 350 Ha yang ditanami tanaman jarak pagar, dengan potensi penanaman 2400 Ha. Mendapatkan bantuan 1 unit alat pengolah biji jarak dari DEPERINDAG RI dengan nilai investasi 10 milyar (sumber). Program jarak tersebut kini mati, adapun warga setempat tahun 2012 mengembangkan biji nyemplung sebagai biofuel untuk penggunaan skala kampus ataupun riset yang dijual Rp.15000 / liter (sumber).

Itu baru untuk satu regional Cilacap, saat itu ada beberapa daerah yang ditanami pohon jarak pagar secara besar-besaran yang ditangani oleh PTPN IX, dan kini telah mati. Setelah ditanami pada akhirnya harus dibabat habis juga, karena ternyata tanaman jarak pagar yang ditanami spesiesnya tidak cocok untuk bahan baku pembuatan biodiesel. Saat itu pemerintah mengira semua spesies tanaman jarak pagar bisa dibudidayakan untuk bahan baku pembuatan biodiesel, dan ternyata anggapan ini keliru. Spesies yang ditanam tidak cocok, bayangkan berapa banyak uang yang terbuang sia-sia untuk program ini karena terburu-burunya pemerintah menangkap antusiasme positif masyarakat yang merasa program pemerintah yang saat itu *wah* mendukung stabilitas energi nasional dari dalam negeri dan ini jarang terjadi.

Inilah yang dibahasakan oleh Pak Arnold sebagai politisasi. Minimnya kerja sama dengan peneliti membuat kesalahan di atas terjadi. Disamping itu pengembangan sebuah program dalam jangka panjang dan berkelanjutan juga memerlukan ketersediaan bahan baku yang cukup dan stabil. Jadi riset awal haruslah dititikberatkan pada spesies yang akan menjadi bahan baku dan bagaimana memastikan stock nya selalu ada sepanjang tahun agar proses produksi berkelanjutan.

Yang rugi dalam hal ini tidak hanya pemerintah, tapi juga petani yang ikut menanami lahannya dengan tanaman jarak pagar, serta beberapa perusahaan yang telah membangun plant pengolahan biji jarak pagar menjadi biodiesel. Jangan heran kalau banyak yang skeptis dengan pemerintah soal keseriusannya terhadap pengadaan energi alternatif di Indonesia. Untuk itulah perlu banyak engineer yang duduk di pemerintahan untuk memberi pemahaman yang berkaitan dengan kebijakan publik yang berkaitan dengan masalah seperti ini. Perlu banyak engineer di bidang riset untuk menghadirkan solusi-solusi alternatif bagi masalah nasional di bidang pangan maupun energi. Perlu banyak engineer yang menjadi motor di Industri untuk menghasilkan lebih banyak produk yang memenuhi kebutuhan pasar domestik nasional.

Lulusan teknik kimia diharapkan mampu mengambil peran serta memiliki tanggung jawab yang tinggi sebagai problem solver. Benar-benar berfikir secara spesifik mulai dari input hingga mencapai output, reaksi sampai dengan akumulasi di dalamnya. Memajukan Indonesia lewat pengetahuan yang dimiliki dengan menjadi yang terbaik di bidangnya, itu yang diharapkan.  Tidak hanya berfikir ‘kuliah’ kemudian ‘selesai’ dan ‘sudah’ seperti itu saja, tanpa memberi nilai tambah positif apa-apa terhadap masyarakat.

Buku Pedoman Jurusan Teknik Kimia Universitas Diponegoro

Buku Pedoman Jurusan Teknik Kimia Universitas Diponegoro

Teknik Kimia … Jaya!!!… Jaya… Teknik Kimia!!!… Teknik Kimia Jaya!!!…. Aamiin

———–

Semarang, cuap-cuap yang hampir mengalami bifurkasi

Kecap

Topik ini saya bahas, karena beberapa hari yang lalu saya harus serius dalam mempelajari materi ini. ‘Kecap’ siapa yang tidak kenal. Warnanya hitam kental dan rasanya manis. Penggunaannya praktis, tapi proses pembuatannya tidak sesederhana bagaimana kecap terlihat.

Kecap adalah salah satu produk fermentasi. Bahan baku pembuatannya kedelai, beras, wheat, garam. Karena kecap adalah produk fermentasi tentu saja dalam prosesnya memerlukan bantuan mikroba. Dalam hal ini pendukung pembuatan kecap bukan hanya mikroba saja tapi mold (jamur) dan yeast juga ikut terlibat.

Selanjutnya akan dibahas step by step proses pembuatan kecap. Semoga bisa menambah wawasan mengenai produk-produk industri pangan yang dekat di sekitar kita.

Mold yang digunakan adalah Aspergillus Flavus Oryzae yang mempunyai enzim Amyloclastic (A. Oryzae kode genetik NRRL 1988 / NRRL 1989). Bakteri yang digunakan Lactobacillus Delbrueckii. Yeast yang digunakan Zygosaccharomyces Soyae.

Cukup banyak yang berperan dalam pembutan kecap. Karena dalam pembuatan kecap diperlukan 4 jenis koji (starter). Proses utama pembuatan kecap terbagi atas dua yaitu pembuatan koji dan fermentasi dengan larutan garam.

Pembuatan Koji :

Medium beras, menggunakan NRRL 1988 / NRLL 1989

  1. Beras direbus, ditiriskan, sterilisasi dan dibagi 2 :
  2. 1/2 di inokulasi dengan NRRL 1988
  3. 1/2 di inokulasi dengan NRRL 1989
  4. Diinkubasi sampai seluruh permukaan nasi ditumbuhi jamur ± 3 – 5 hari

Medium kedelai, menggunakan Lactobacillus Delbrueckii dan Zygosaccharomyces Oryzae

  1. Kedelai dibersihkan, direndam semalaman dan ditiriskan. ± 300 gram ditambah 1 lt air direbus. Ampas dipisahkan (x) dan air rebusan disterilisasi dan dibagi 2 :
  2. 1/2 di inokulasi dengan yeast Zygosaccharomyces Soyae. Inkubasi pada 30-35º C dalam 1-4 hari.
  3. 1/2 di inokulasi dengan bakteri Lactobacillus Delbrueckii. Ikubasi pada 35-40º C dalam 1-4 hari.

Cara menumbuhkan koji :

Kedelai 5 lb (2.2 kg) dibersihkan, direndam dalam air 1 gallon (20 jam), ditiriskan. Kukus selama 3 jam hingga lunak. Simpan di nampan kayu /logam dengan t = ± 2in untuk proses inkubasi. Pada proses inkubasi ini dilakukan penambahan wheat 2 oz (56.7 gr) yang sudah disangan dan dihancurkan. Tambahkan 4 macam koji, ampas (x), biarkan terbuka. T = 30ºC dalam 4-5 hari. Setelah itu berlanjut ke proses inkubasi.

Proses fermentasi dikukan dalam tangki porselin atau email berpengaduk, komposisi pada 1 gallon larutan terdiri dari ±0.9 kg garam dan ± 2.2 kg kedelai dibiarkan selama 30-90 hari. Suhu 35-38º C, pengadukan setiap hari. Hasil disaring dipisahkan antara ampas (2) dan filtrat.

Selanjtnya filtrat di didihkan selama 20 menit. Tambahkan alum dan kaolin sebagai penjernih, dibiarkan 1 malam untuk pengendapan. hasilnya kemudian disaring, dipisahkan antara filtrat dan ampas. Filtrat inilah yang menjadi produk kecap no 1. Produk kecap no 1 adalah kecap asin.

Selanjutnya ampas (2) ditambahkan dengan air panas, dipressing agar tepisah antara filtrat dan ampas (limbah). Filtrat diproses lebih lanjut dengan penambahan alum dan kaolin sebagai penjernih didihkan 20 menit. Disaring dipisahkan antara ampas (limbah) dan filtrat. Filtrat yang berikutnya ini adalah kecap no 2. Kecap no 2 ini masih berupa kecap asin.

Kecap no 2 ini diproses lebih lanjut dengan penambahan komposisi kecap no 1 di dalamnya, karamel gula untuk menaikkan viskositas dan menambah warna, bumbu (kayu manis, cengkeh, pala, merica). Penambahan bahan tambahan inilah yang membuat kecap terasa manis. Produk kecap no 2 adalah kecap manis.

Dengan proses yang panjang di atas menghadirkan sebotol kecap di rumah kita saat ini, tidak semua yang terlihat sederhana itu seperti yang terlihat. Dengan belajar kita tau lebih banyak, sehingga penghargaan yang kita berikan akan tinggi berbekal ilmu pengetahuan. Bahkan untuk sebotol kecap.

Semarang, gelap dan hening.

Pakan Sapi yang Diperkaya bagi Peternak di Kupang

Pagi ini saya membaca berita yang membahas ‘Peternak di Kupang butuh makanan sapi’. Ulasan lengkapnya bisa dibaca di link ini. Salah satu provinsi yang terletak di timur indonesia ini memiliki musim kemarau yang panjang. Musim kemarau di wilayah NTT bisa mencapai 9 bulan penuh, dan 3 bulan sisanya merupakan musim penghujan.

Saat puncak musim kemarau, tanah-tanah menjadi kering dan tandus sehingga tidak bisa ditanami. Tumbuhan mati karena tidak mendapatkan suplai air. Akibatnya, rumput sebagai sumber pakan sapi yang utama menjadi sulit untuk didapatkan. Minimnya ketersediaan sumber makanan bagi sapi tentu saja sangat berpengaruh pada bobot sapi.

Inilah yang saat ini menjadi polemik bagi peternak di NTT. Lalu apa yang bisa diupayakan?. Saya akan mencoba sedikit mengulas dari sudut pandang saya berdasarkan ilmu yang pernah di dapatkan di kelas perkuliahan. Bila sekiranya ada pembaca dari jurusan peternakan yang ingin mengoreksi atau melengkapi materi tulisan saya ini, sangat diperkenankan.

Dalam pemahaman yang saya dapatkan. Pakan sapi itu sebenarnya tidak hanya bersumber dari rumput semata. Peternak bisa membuat pakan sapi sendiri dari limbah sisa sayur-sayuran atau dari kulit buah-buahan. Kulit buah-buahan yang bisa digunakan adalah kulit pisang, kulit jagung, dan kulit singkong (ubi kayu).

Apakah bahan tersebut bisa langsung diberikan pada sapi?. Lalu dimana peran pengolahan limbah bisa membantu?. Sebenarnya bisa saja jika limbah sisa sayur-sayuran atau kulit buah-buahan diberikan langsung pada sapi. Tapi, tidak bisa memberikan nutrisi yang cukup untuk penggemukan sapi. Untuk itulah perlu dibuat pakan sapi yang diperkaya. Jadi, intinya adalah pengolahan limbah menjadi pakan yang diperkaya.

Jadi, limbah bisa mempunyai nilai tambah atau nilai guna. Pisang, jagung, dan ubi kayu merupakan sumber pangan yang ketersediaannya cukup banyak di NTT. Mayoritas di daerah Indonesia Timur, sumber karbohidrat utama itu tidak hanya diperoleh dari beras saja. Ada banyak sumber karbohidrat yang biasa di konsumsi.

Rata-rata produksi komoditas pertanian di daerah Indonesia Timur bukanlah yang paling unggul. Padahal lahan yang tersedia cukup prospek untuk hal tersebut. Areal persawahan tidak sebesar yang bisa disaksikan di pulau Jawa. Kebanyakan orang Indonesia Timur terbiasa menjadikan jagung, pisang, ubi kayu, talas, ketela rambat, dan sagu sebagai sumber pangan yang sama pentingnya dengan beras.

Dahulu, orang-orang di Indonesia Timur khususnya Nusa Tenggara sumber karbohidrat utamanya berasal dari sorgum, jagung, pisang, dan ubi kayu. Hanya saja, program swasembada beras dari Presiden Soeharto di era pemerintahannya mewajibkan masyarakat Nusa Tenggara ikut menanam beras.

Padahal iklim Nusa Tenggara kurang cocok untuk menanam beras. Walapun ada daerah di Nusa Tenggara yang cukup baik produksi berasnya, misal Malaka. Tapi daerah ini rentan banjir. Sehingga, kasus busung lapar di Nusa Tenggara banyak setiap tahunnya. Sumber air sulit di dapat, hasil panen atau ternak sulit di andalkan karena musim kemarau yang panjang, dan efek jangka panjang tentu saja rendahnya pendapatan masyarakat yang bergantung dari sektor pertanian ataupun peternakan.

Sehingga yang perlu dilirik dari kasus ini adalah sumber-sumber lain yang juga bisa dijadikan sebagai sumber pakan bagi sapi, namun ketersediaannya cukup dan tidak mengganggu ketersediaan sumber pakan bagi manusia.

Lalu bagaimana cara membuat pakanan yang diperkaya bagi sapi?. Metode yang bisa diupayakan, yaitu dengan bantuan mikroba NOPKOR. NOPKOR adalah Nitrogen, Phosphate, Kalium Organisme Recovery. Bahan ini termasuk golongan probiotik yang merupakan kultur campuran mikroba pencernaan NPK yang berguna untuk hidrolisa karbohidrat, serat dan protein menjadi monosakarida dan asam amino yang berguna bagi pertumbuhan hewan ternak. Sehingga baik bagi penggemukan sapi.

Proses pembuatan pakan ini cukup sederhana. Limbah sayur atau kulit buah dimasukkan ke dalam bak aklimatisasi. Kemudian ditambahkan NOPKOR secara merata dengan perbandingan tertentu. Kemudian diaduk, agar pencampuran maksimal. Setelah itu bak ditutup rapat. Waktu pembuatan pakan kurang lebih seminggu. Dengan pengecekan rutin, memastikan bahwa pakan tidak mengalami pembusukan. Setelah seminggu dan wangi pakan yang diperoleh segar. Pakan bisa diberikan pada sapi.

Inilah salah satu alternatif yang bisa diupayakan untuk daerah yang sering mengalami kekeringan, agar hewan ternak bisa tetap dipertahankan bobotnya.

Semoga bermanfaat.

Semarang, di hari yang cerah dan panas.

Garam Rendah Natrium

Assalamu alaikum

Selamat pagi dunia wordpress. =)

Karena mata masih kuat melek, kepikiran mau buat postingan lagi. Kali ini mau bahas soal garam rendah Na (Natrium) atau low sodium salt. Pernah dengar atau melihat produk garam untuk pasien hipertensi atau untuk diet?. Beberapa waktu yang lalu saat belanja untuk keperluan bulanan di kostan, saya melihat produk ini di supermarket.

Hipertensi atau tekanan darah tinggi dan penyakit jantung merupakan pembunuh banyak orang. Kedua penyakit ini sering dikaitkan dengan konsumsi natrium yang berlebih disertai pola makan yang buruk. Begitu pula kegemukan, sering dikaitkan dengan konsumsi natrium yang berlebih. Natrium mengendap di jonjot usus. Akibatnya penyerapan sari makanan menjadi terganggu dan sari makanan justru berubah menjadi lemak. Hal ini tampaknya yang menjadi dasar ide lahirnya produk garam rendah Natrium.

Garam tersebut dikemas dalam botol menarik dan dibandrol dengan harga yang jauh lebih mahal dibandingkan garam meja biasa. Di bagian komposisi tertulis bahwa kandungan Na dalam bentuk NaCl (Natrium Chlorida) yang terkandung di dalam garam tersebut 40%. Pada garam meja paling tidak harus terkandung kadar NaCl minimal sebesar 97.1%. Hal ini mengacu pada SNI 01-3556.2-1999 yang mengatur syarat mutu garam meja. Nah, kalau kandungan NaCl di garam hanya 40% maka komponen lain sebesar 50% itulah yang disubtitusi.

Kekurangan tersebut disubtitusi oleh KCl (Kalium Chlorida). Mengapa pilihan subtituen jatuh pada KCl?. Karena Na dan K berada dalam satu golongan (IA) pada tabel periodik unsur, maka sifat fisik atau kimia yang dimiliki keduanya tidak akan berbeda terlalu jauh. KCl juga merupakan garam tapi dengan rasa tidak seasin NaCl.

Sehingga kombinasi keduanya merupakan kombinasi yang pas dalam memenuhi kebutuhan pasar untuk pasien hipertensi atau bagi yang ingin berdiet. Yang membuat saya penasaran saat melihat garam ini adalah bagaimana cara membuatnya. Apakah kedua bahan dicampur dalam komposisi cair kemudian dikristalkan bersama atau ada metode lain yang digunakan?.

Akhirnya saya putuskan mencoba bertanya pada Dosen saya di kampus, kira-kira metode apa yang digunakan untuk pembuatan garam tersebut. Ternyata tebakan saya kurang tepat. Natrium dan Kalium dalam bentuk NaCl dan KCl dicampurkan dalam bentuk padatan sesuai dengan komposisi gabungan yang di inginkan kemudian digerus secara bersama-sama, sesuai dengan perbadingan yang diinginkan. Misal, perbadingan yang di inginkan 40% : 50% maka berat NaCl yang ditambahkan harus 40% dari berat total saja, dan sisanya adalah KCl. Apa bisa dibuat dalam komposisi cair kemudian dikristalkan?. jawabannya bisa, tapi dalam ongkos produksi tentunya lebih mahal dan waktu produksi lebih lama, sehingga kurang efisien.

Mudah bukan membuatnya?. Tinggal campur, kemudian gerus. Yang perlu dijaga adalah distribusi ukuran dan distribusi gabungan NaCl dan KCl yang diupayakan merata di semua titik. Lalu mengapa harganya menjadi menjulang dengan proses yang sebenarnya sangat sederhana?.

Karna produk ini ditujukan untuk kalangan terterntu, yaitu untuk pasien hipertensi maka segmentasi pasarnya terbatas. Untuk menekan return rate yang bergerak lambat, maka harga jualnya harus tinggi. Apalagi saingan untuk produk sejenis sedikit, walau dibandrol dengan harga yang cukup tinggi produsen masih mendapat banyak kebebasan untuk memonopoli harga pasar.

Tertarik untuk membuat sendiri di rumah?.

Selamat mencoba

Semarang 26 Agustus 2012

Kasur kost laras =)

Menjadi Sebutir Jagung di Rumah Petani

Bismillah…

Malam ini kembali terbangun di tengah malam. Tiba-tiba teringat ingin berbagi informasi dengan teman-teman semua. Apa kabar di hari ini?. Bagaimana cuaca di tempatmu?. Di Semarang intensitas hujan sedang tinggi, cuaca menjadi sangat dingin. Banyak orang yang mengalami diare dan demam. Jadi harus lebih bisa menjaga diri di musim hujan. Bila perlu, jangan lupa juga minum vitamin.

Lalu tulisan saya kali ini akan bercerita tentang apa?.

Menjadi mahasiswa yang mencerdaskan masyarakat di bidang ilmu yang kita pahami atau geluti. Itulah yang ingin saya bahas dalam tulisan saya kali ini.

***

Siang tadi saya bertemu dengan pria idaman saya, dosen pembimbing penelitian kami (saya dan rekan saya rossi) yang baik hati. Kami berbincang soal masalah yang kami hadapi dalam penelitian kami. Penelitian yang kami lakukan mengenai garam rakyat. Intinya adalah modifikasi proses yang tujuannya untuk memangkas waktu produksi, meningkatkan hasil produksi dan juga kualitas garam rakyat menjadi garam industri.

Garam, bumbu penyedap dengan harga yang relatif murah nyaris tak punya harga di pasaran. Kenapa?. Karena kehidupan petani garam tidak ada yang sejahtera walaupun menjual banyak garam. Bayangkan saja, harga produksi garam rakyat per kilogram hanya dihargai maksimal Rp.2000. Padahal untuk jumlah yang sama, harga garam impor India dengan kualitas serupa tapi lebih baik dibandrol dengan harga Rp. 1500 setara dengan garam Australia yang kualitasnya justru lebih baik lagi dibandingkan garam India dan Indonesia.

Lalu dengan harga Rp.2000 kenapa saya katakan tidak punya harga?. Karna untuk memproduksi garam dengan diameter 0.3-0.5cm atau setara dengan garam krosok yang dijual di pasaran dibutuhkan paling tidak 2 minggu. Waktu yang lama bukan untuk harga yang tidak seberapa?. Belum lagi kalau hujan turun, hujan sekali bahkan cuma sebentar akan menggagalkan hasil panen walaupun sudah ditunggui seminggu. Inilah carut marut kehidupan petani garam. Inilah yang menjadi tugas besar pemerintah untuk sedikit melirik petani garam, paling tidak memberikan bantuan untuk modifikasi proses.

Saya tidak akan berpanjang lebar tentang teori pembuatan garam pada tulisan saya kali ini, karena titik poin pembahasan saya bukan berada pada hal tersebut kali ini. mungkin ditulisan berikutnya akan saya bahas lebih lanjut.

Garam yang ada di pasaran disortir berdasarkan kualitasnya. Apa parameter penentu kualitas garam?.

  1. Ukuran, makin besar dan solid ukuran garam berarti waktu yang dibutuhkan untuk membuat garam tersebut semakin lama
  2. Impuritas (pengotor), garam dengan kualitas baik bebas dari pengotor seperti pasir. Hal ini sulit dihindari jika pembuatannya masih menggunakan metode tradisional. Yaitu pengkristalan garam di atas meja kristalisasi yang terbuat dari tanah.
  3. Tingkat kandungan NaCl, kalau untuk hal ini paling tidak harus dilakukan uji kandungan NaCl. Makin tinggi kandungan NaCl yang terdapat pada garam bermakna makin sedikit pengotor yang terdapat dalam garam tersebut. Mengapa yang dicari adalah garam dengan impuritas paling sedikit?. Karna untuk kebutuhan industri tidak bisa digunakan bahan yang dalam keberadaannya justru akan mengganggu proses, walaupun jumlahnya tidak banyak. Kandungan NaCl merupakan penentu tingkat keasinan dalam garam. Garam dengan kadar NaCl tinggi pasti akan lebih asin dibandingkan kadar yang lebih rendah. Makin asin garam, makin sedikit jumlahnya yang digunakan. Makin sedikit jumlah yang digunakan pastinya akan semakin efisien dalam biaya.

Sehingga, garam dapat dibedakan menjadi kualitas 1, 2, dan 3 berdasarkan parameter di atas. Nah, makin baik kualitasnya maka harganya akan semakin bersaing. Sejauh ini di Indonesia hanya madura yang mampu memproduksi garam dengan kualitas cukup mumpuni. Tapi sayang, kualitas garam Indonesia belum mampu memenuhi kebutuhan Industri. Maksimal hanya sekitar 95-96% NaCl. Padahal dalam indusri perminyakan atau farmasi paling tidak dibutuhkan kadar sekitar 99,9% NaCl. Jauh dari ketersediaan pasar lokal Indonesia.

Bahkan untuk bahan makanan seperti mie instan dalam pembuatan bumbunya harus disokong garam impor untuk menekan biaya produksi. Jadi sistem yang diapakai adalah sistem subtitusi, dimana 50% dari garam untuk keperluan bumbu mie instan harus ditunjang oleh garam impor. Karena secara hitungan produksi, produsen tidak mampu menanggung beban biaya produksi kalau harus membeli garam lokal dengan kualitas tinggi. Kebijakan pemerintah membuat pelaku industri harus membeli garam lokal, karena kalah kualitas dan harus menekan biaya produksi maka harus ditunjang subtitusi dari garam impor.

Lalu kemana garam-garam dengan kualitas 3, atau garam krosok dengan kualitas jelek. Umumnya dibawa oleh distributor kemudian dilakukan pencucian sehingga dapat dihasilkan garam yang lebih bersih. Pencucian merupakan salah satu metode yang dapat meningkatkan kualitas garam rakyat. Atau karena harganya yang murah digunakan oleh oknum nakal untuk kepentingan keuntungan pribadi, misal digunakan untuk campuran pupuk. Tapi, yang digunakan dalam campuran pupuk justru bukan garam krosok melainkan garam tua. Garam dengan kualitas yang lebih jelek lagi.

Ini momok yang harus diwaspadai oleh konsumen, terutama petani. Bayangkan, pupuk KCl yang warnanya agak kecoklatan dioplos dengan garam tua yang diambil dari bekas ladang penggaraman yang warna nya juga agak butek kecoklatan. Petani yang tidak tau hanya menjual garam tua, mereka hanya tau bahwa garam itu akan digunakan sebagai campuran pupuk.

Padahal tanaman itu dalam pertumbuhannya memerlukan N, P, K sebagai unsur penunjang utama dalam tumbuh kembangnya. N untuk Nitrogen, P untuk Phospor, dan K untuk Kalium. Bukan membutuhkan Na (Natrium). Alih-alih mengharapkan peningkatan hasil produksi dengan penggunaan pupuk KCl justru rugi yang dikecap oleh petani. Yang lebih luar biasa dalam strategi pemasarannya, harga pupuk oplosan ini dibanderol dengan harga yang lebih tinggi. Jadi, mana ada orang yang akan berfkir pupuk dengan harga yang lebih tinggi ini adalah produk oplosan?. Strategi yang pintar, berlawanan dari stigma masyarakat. Ada harga ada kualitas.

Inilah fakta yang ditemui dosen saya di Jepara saat melakukan sosialisasi sekaligus praktek untuk membantu petani garam disana dalam meningkatkan proses produksinya. Miris rasanya, melihat petani kita harus mengecap pil pahit gagal panen karna hal-hal seperti di atas. Lalu mengapa hal ini bisa terjadi?. Dan apa kaitannya dengan mahasiswa dan peranannya di masyarakat dengan disiplin ilmu yang digeluti?.

Banyak contoh kasus di lapangan, produk laku dipasaran berdasarkan desas desus ‘katanya’ bukan pembuktian secara ilmiah. Misalkan, gula pasir. Dulu ditempat saya ada desas desus bahwa gula pasir dengan warna yang lebih kuning kecoklatan justru lebih manis. Hal ini tersebar ke penjual, kemudian dari penjual dilanjutkan dari mulut ke mulut ke konsumen. Hingga saat ini rasanya masih banyak ibu-ibu yang tidak mengerti meyakini hal yang sama. Faktanya?. Garam dengan warna yang semakin kuning kecoklatan menunjukkan kualitas yang semakin buruk. Semakin coklat berarti semakin banyak kotoran yang terikut dalam proses produksi gula. Batang tebu yang dipanen tidak dicuci terlebih dahulu melainkan langsung dimasukkan ke mesin penggiling. Entah ada bekicot, pasir atau pengotor lain di dalamnya kita sebagai konsumen tidak tau. Itulah gula yang warnanya kecoklatan, yang dianggap lebih manis dari gula yang warnanya putih bersih.

Sama seperti kasus pupuk oplosan saya yakin dengan cara semacam ini mudah dilakukan dan menyebar. Misal Si A menggunakan pupuk oplosan, ‘merasa’ kualitasnya panennya menjadi lebih baik direkomendasikan dengan petani lain. Padahal lama kelamaan bahan ikutan seperti garam akan terakumulasi masuk ke tanah. Bayangkan bagaimana nasib petani menaburkan zat yang tidak dibutuhkan oleh tanamannya ke tanah, ibaratnya menanam di tanah asin dengan biaya pupuk yang lebih mahal.

Inilah tugas mahasiswa sebagai manusia yang bisa mengecap nikmatnya ilmu untuk lebih peduli terhadap lingkungan dan masyarakat. Kalau ada desas desus yang sekiranya dalam disiplin ilmu kita dipelajari, berikanlah edukasi ke masyarakat. Jangan jadi pembebek yang bukan mencerahkan justru apatis bahkan statis tidak ingin mencari tahu atau eksplorasi lebih jauh. Petani-petani se-Indonesia tidak mungkin ditangani semua untuk diberikan edukasi, sepenuhnya oleh pemerintah. Hampir semua wilayah di Indonesia memiliki Universitas Negeri yang di dalamnya terdapat bibit-bibit bangsa yang bisa memajukan kaumnya sendiri. Betapa indahnya bila ada hubungan simbiosis seperti itu.

“Jadilah sebutir jagung di Rumah Petani”

Pesan indah dari dosen saya, untuk kita renungkan bersama.

Semarang, 18-04-2012

Menanti Kebijakan EURO-3

Pernah mendengar kata Euro. Pasti pernah, kalau mendengar kata Euro diidentikkan dengan mata uang atau dengan ajang liga sepak bola negara-negara eropa. Kali ini saya akan membahas Euro yang berkaitan dengan emisivitas karbon.

Jadi, EURO yang saya maksudkan disini adalah European Emission Standards. Kalau ada rekan blogger yang memperhatikan sisi belakang mobil, biasanya ada yang masih dilekati dengan label Euro. Euro ini tidak hanya berlaku pada mobil saja tapi juga pada sepeda motor. Secara umum untuk kendaraan bermotor. Karena saya adalah pengguna sepeda motor, maka yang akan saya bahas adalah Euro untuk sepeda motor.

Euro adalah standar emisi kendaraan bermotor di Eropa yang juga diadopsi oleh beberapa negara di dunia. Euro mensyaratkan, kendaraan yang baru diproduksi harus memiliki kadar gas buang seperti nitrogen oksida, hidrokarbon, dan karbon monoksida berada di bawah ambang tertentu.

Standar emisi gas buang Euro-2 yang dikeluarkan Eropa tahun 1996 itu mengatur bahwa emisi CO dari kendaraan selama beroperasi di jalan maksimum 2,2 gram per kilometer. Standar emisi ini lebih rendah dibandingkan dengan Euro-1 yang 2,72 g per km.

Sedangkan Euro-3 adalah regulasi yang berasal dari parlemen Eropa tertanggal 19 Juli 2002 perihal pengurangan emisi dari roda dua dan roda tiga berdasarkan amandemen langsung 97/24/EC. Pada tahun 2007 di Eropa, regulasi Euro-3 datang menggantikan Euro-2. Dengan regulasi baru ini, standar kebersihan emisi kendaraan lebih diperketat lagi. Sebuah kendaraan hanya boleh menghasilkan 0.3gr/km hidrokarbon (HC), 0,15 gr/km nitro oksida (NOx), dan hanya 2gr/km untuk karbonmonoksida (CO).

Indonesia menetapkan standar emisi gas buang Euro-2 pada tahun 2003, dan masih menerapkan baku mutu Euro-2 yang diberlakukan sejak tanggal 1 Januari 2005 lalu, sehingga industri otomotif membutuhkan kepastian informasi mengenai regulasi emisi yang akan datang, khususnya untuk sepeda motor. Saat ini peraturan mengenai kendaraan bermotor di dunia sebagian besar mengacu ke regulasi yang dikeluarkan oleh UN-ECE (United Nation-Economic Commission for Europe).

Dan kini ada rencana Pemerintah akan menerapkan Euro-3 tahun 2013 mendatang. Namun seberapa pentingkah penerapan Euro-3 itu di Indonesia? Penerapan Euro 3 akan memberikan keuntungan bagi semua pihak, baik industri maupun masyarakat konsumen. Bagi industri otomotif penetapan standar ini akan meningkatkan daya saing dengan industri di kawasan ASEAN. Sedangkan bagi konsumen, penerapan Euro-3 itu akan menghemat penggunaan bahan bakar.

Negara2 Uni Eropa sendiri sudah menerapkan standar Euro-3 pada Januari 2006. Standar Euro-3 juga terdapat pada regulasi Worldwide Motorcycle Emission Test Cycle (WMTC) & aturan inilah yang menjadi patokan dari AISI (Asosiasi Industri Sepeda Motor Indonesia).

Batas ambang batas gas buang standar Euro-3 dapat dilihat sebagai berikut :

Kapasitas mesin di bawah 150 cc :

  • Kadar CO : 2.0 gram/km
  • Kadar HC : 0.8 gram/km
  • Kadar NOx: 0.15 gram/km

Kapasitas mesin di atas 150 cc :

  • Kadar CO : 2.0 gram/km
  • Kadar HC : 0.3 gram/km
  • Kadar NOx: 0.15 gram/km

Kecepatan motor di bawah 130 km/h :

  • Kadar CO : 2.62 gram/km
  • Kadar HC : 0.75 gram/km
  • Kadar NOx: 0.17 gram/km

Kecepatan motor di atas 130 km/h :

  • Kadar CO : 2.62 gram/km
  • Kadar HC : 0.33 gram/km
  • Kadar NOx: 0.22 gram/km

Rencana penerapan Euro-3 sebenarnya sudah dilakukan jauh-jauh hari namun itu perlu persiapan matang salah satunya adalah kesiapan dari industri otomotif. Bagi produsen motor, butuh waktu antara 2-3 tahun untuk merancang motor dengan teknologi yang bisa menurunkan emisi menjadi rendah.

Tentu saja guna memenuhi standar emisi yang ketat, teknologi mesin sepeda motor perlu disempurnakan & disertai juga kualitas bahan bakar yang baik pula. Untuk Euro-3, idealnya menggunakan bahan bakar sesuai WWFC (World Wide Fuel Chartercategory 2 yaitu bensin ber-oktan (RON) 91 dan harus tanpa aditif metal seperti timbal, mangan dsb).

Penerapan standar emisi gas buang Euro-3 tersebut merupakan tanggung jawab bersama antara pemerintah dan industri otomotif agar tidak tertinggal dari negara-negara lain. Pemerintah telah mempunyai fasilitas uji emisi untuk sepeda motor yang berada dibawah wewenang Kementerian Perhubungan yaitu Balai Pengujian Layak Jalan dan Sertifikasi Kendaraan Bermotor (BPLJSKB). Beberapa Industri otomotif yang sudah mempunyai fasiltas uji emisi terakreditasi dan siap membantu melakukan pengujian antara lain PT. Astra Honda Motor, PT Yamaha Indonesia Motor Manufacturing dan PT Suzuki Indomobil Motor.

Ada yang menanggapi rencana ini dengan keraguan. Karena bahan bakar yang harganya cocok dengan kantong masyarakat saat ini yaitu Premium ber-oktan 88 (Bensin tanpa timbal) belum memenuhi standar yang bisa digunakan untuk mesin Euro-3. Bila ingin mengajak masyarakat, pemerintah harus bisa mensosialisasikan perhitungan secara jelas dan nyata efektifitas penghematan dalam persentase total bahan bakar yang bisa dicapai dengan menggunakan sepeda motor yang mengguakan Pertamax sebagai bahan bakar utamanya untuk tiap satuan kilometer dan berapa nilainya dalam rupiah.

Bahan bakar yang bisa digunakan untuk Euro 3 adalah Pertamax. Namun, jumlah pasokan pertamax belum merata ke seluruh daerah Indonesia.

Bila tidak diperhitungkan secara matang kebijakan ini justru akan merugikan produsen maupun konsumen. Secara persaingan produsen bisa menjual produk yang bersaing ke luar negeri, sedangkan di dalam negeri konsumen meragu untuk membelinya. Meragu akan ketersediaan bahan bakar untuk jangka panjang. Untuk daerah pulau Jawa mungkin bukan masalah, bagaimana dengan daerah-daerah yang di luar pulau Jawa?. Yang notabene sering mengalami kelangkaan BBM. Untuk Premium saja susah, apalagi Pertamax?.

Lain halnya bila ada garansi dari pertamina, bahwa akan ada peningkatan jangkauan distribusi Pertamax di seluruh Indonesia. Mungkin yang jadi bisa bahan pertimbangan lain adalah harga jual Pertamax yang dirasa cukup tinggi. Sebenarnya secara tidak langsung kebijakan seperti ini bisa memaksa masyarakat secara tidak langsung untuk menggunakan Pertamax. Apakah ini memang dirancang untuk seperti itu?. Entahlah, masing-masing orang bisa menyimpulkan sendiri.

Mungkin ketika nantinya semua kendaraan telah berganti dengan kendaraan EURO 3, saat itulah negara ini bebas dari BBM bersubsidi. Diawali dengan strategi seperti ini. Kita lihat saja bagaimana kelanjutannya nanti pada tahun 2013.

Semoga bermanfaat 🙂

 

 

sumber :

http://id.wikipedia.org/wiki/Oktan

http://kangmase.wordpress.com/2011/06/04/euro3-2013-siapkah-pemerintah/

http://otomotif.antaranews.com/berita-otomotif/1329984308/motor-diharapkan-pakai-bbm-standar-euro-3

http://blognyamitra.wordpress.com/2012/02/24/seminar-kesiapan-industri-sepeda-motor-indonesia-menuju-standar-euro-3-yang-ramah-lingkungan-hemat-bbm/

 

 

Produksi Bersih untuk Bumi

Semakin gencarnya pertumbuhan Industri dari segala bidang juga harusnya semakin disertai dengan penerapan teknologi yang basisnya ramah lingkungan. Dalam istilah Industri sebenarnya sudah ada teknologi ‘produksi bersih’ yang tujuannya untuk waste minimisation.

Sedikit kutipan mengenai teknologi ‘produksi bersih’

Produksi bersih adalah strategi pengelolaan lingkungan yang sifatnya mengarah pada pencegahan dan terpadu untuk diterapkan pada seluruh siklus produksi. Produksi bersih merupakan sebuah strategi pengelolaan lingkungan yang bersifat preventif atau pencegahan dan terpadu yang perlu diterapkan secara terus menerus pada proses produksi dan daur hidup produk dengan tujuan mengurangi risiko terhadap manusia dan lingkungan.

Hal tersebut, memiliki tujuan untuk meningkatkan produktivitas dengan memberikan tingkat efisiensi yang lebih baik pada penggunaan bahan mentah, energi dan air, mendorong performansi lingkungan yang lebih baik, melalui pengurangan sumber-sumber pembangkit limbah dan  emisi serta mereduksi dampak produk terhadap lingkungan.

Produksi bersih berfokus pada usaha pencegahan terbentuknya limbah, yang merupakan salah satu indikator inefisiensi. Dengan demikian, usaha pencegahan tersebut harus dilakukan sejak awal proses produksi dengan mengurangi terbentuknya limbah serta pemanfaatan limbah yang terbentuk melalui daur ulang. Keberhasilan upaya ini akan menghasilkan penghematan yang besar karena penurunan biaya produksi yang signifikan sehingga pendekatan ini dapat menjadi sumber pendapatan.

Istilah produksi bersih mulai diperkenalkan oleh UNEP (United Nations Environment Program) pada bulan Mei 1989 dan diajukan secara resmi pada bulan September 1989 pada seminar The Promotion of Cleaner Production di Canterbury, Inggris. Indonesia sepakat untuk mengadopsi definisi yang disampaikan oleh UNEP tersebut. (sumber)

Berdasarkan karakteristiknya, limbah industri dapat digolongkan menjadi tiga bagian, yaitu limbah cair, gas dan partikel, serta padat. Berdasarkan nilai ekonominya, limbah dibedakan menjadi limbah yang memiliki nilai ekonomis dan limbah yang tidak memiliki nilai ekonomis. Limbah yang memiliki nilai ekonomis yaitu limbah yang apabila diproses akan memberikan suatu nilai tambah.

Sebenarnya penerapan pada pengembangan teknologi bersih tidak melulu hanya berkaitan pada biaya yang besar untuk pengelolaan limbah. Bukan rahasia kalau pengelolaan limbah yang berbasis ‘teknologi bersih’ membutuhkan biaya yang mahal. Apalagi bila disertai rasa ketidakpekaan terhadap masalah yang berkaitan dengan lingkungan. Pihak Industri terkait pastinya lebih berfikir untuk mengalokasikan dana yang dimiliki untuk proses produksi dibandingkan untuk pengolahan limbah.

Tapi dibalik biaya besar yang diperlukan sebenarnya ada keterkaitan erat antara pengelolaan limbah dengan ekonomi (profit), kesejahteraan dan kesehatan masyarakat sekitar pabrik, dan ‘wujud terimakasih’ untuk bumi. Lagipula dengan penerapan teknologi seperti ini jelas sangat membantu menjaga sumber air untuk produksi ataupun mampu meningkatkan pencapaian yang telah dicapai, yang pada akhirnya meningkatkan kepercayaan masyarakat untuk menggunakan produk hasil teknologi bersih. Semakin tingginya kesadaran masyarakat mengenai kesadaran lingkungan, juga memberikan dampak positif bagi industri yang menggunakan acuan proses teknologi bersih. Loyalitas terhadap produk tentu saja akan semakin meningkat dan ada rasa kebanggaan bagi konsumen turut menggunakan produk yang mengusung konsep ramah lingkungan.

Produsen besar biasanya lebih aware mengenai hal ini, sementara produsen kecil ataupun skala menengah dituding masih kurang atau dituding sebagai ‘penyumbang besar bagi kerusakan lingkungan’, terlepas dari soal emisivitas di udara yang pasti akan sama-sama disumbangkan produsen besar maupun kecil. Sebenarnya wajar saja bila industri kecil ataupun menengah kurang memahami hal ini. Karena dari segi pengelolaan yang rumit dan biaya yang mahal, lebih baik menutup mata mengenai hal ini.

Industri besar atau kecil yang sebenarnya banyak menyumbang limbah cair berbahaya adalah industri tekstil. Negara-negara maju pasti enggan memproduksi secara besar-besaran yang berhubungan dengan tekstil, pewarnaan tekstil, pencucian dan pencelupan tekstil. Karena negara-negara tersebut tau betul limbah yang dihasilkan akan memberikan dampak negatif yang besar bagi lingkungan dan kesehatan. Salah satu contoh Industri tekstil adalah batik.

Sedikit kutipan mengenai hal ini

HAMPIR semua sungai yang mengalir di Pekalongan berwarna-warni bak pelangi. Ada pula yang hitam pekat seperti oli. Jelas, itu akibat pencemaran limbah dari industri batik yang menjadi mata pencaharian utama warga Pekalongan.

Limbah batik telah menjadi keseharian hidup masyarakat. Mereka seakan menganggap enteng bahaya limbah yang mengalir di sungai-sungai di sekitar perkampungan. Padahal air itu tak hanya mengancam kelestarian ekosistem sungai, namun juga mengancam kehidupan mereka. Ya, air sungai yang tercemar itu meresap ke sumur-sumur warga.

Ada joke menarik terkait pengelolaan limbah ini. Konon, Wali Kota atau Bupati Pekalongan tidak terlalu risau dengan keadaan sungai yang berwarna-warni. Justru, mereka akan khawatir jika air sungai yang mengalir menjadi jernih. Jernih, berarti denyut industri batik yang menjadi tumpuan hidup masyarakat Pekalongan mandek. Banyak pekerja menganggur. Ekonomi rakyat pun terganggu.

Kondisi pencemaran limbah dari industri tekstil di Pekalongan semakin memprihatinkan. Dari ratusan industri tekstil kecil dan besar yang ada, limbah yang dihasilkan mencapai 50 ribu meter kubik per hari.

Bahaya Limbah

Sebagian besar berasal dari industri rumah tangga. Bahkan, sebagian industri rumahan membuang limbah ke sungai tanpa ada pengolahan terlebih dahulu. Perbuatan tersebut membuat air sungai menjadi kotor dan tercemar.

Efek negatif pewarna kimiawi dalam proses pewarnaan oleh perajin batik adalah risiko terkena kanker kulit. Ini terjadi karena saat proses pewarnaan, umumnya para perajin tidak menggunakan sarung tangan sebagai pengaman, kalaupun memakai, tidak benar-benar terlindung secara maksimal.

Akibatnya, kulit tangan terus-menerus bersinggungan dengan pewarna kimia berbahaya seperti Naptol yang lazim digunakan dalam industri batik. Bahan kimia yang termasuk dalam kategori B3 (bahan beracun berbahaya) ini dapat memacu kanker kulit.

Selain itu, limbah pewarna yang dibuang sembarangan, juga bisa mencemari lingkungan. Ekosistem sungai rusak. Akibatnya, ikan-ikan mati dan air sungai tidak dapat dimanfaatkan lagi. Lebih dari itu, air sungai yang telah tercemar meresap ke sumur dan mencemari sumur. Padahal air itulah yang digunakan untuk keperluan hidup sehari-hari.

Keadaan semacam ini telah dialami oleh banyak warga, terutama di sentra industri batik. Masyarakat di sekitar Kali Banger misalnya, telah lama mengeluhkan akibat pencemaran limbah batik ini. Kali Banger, sungai yang membelah Pekalongan bagian timur dari selatan ke utara ini, mengalirkan limbah batik dari pabrik-pabrik industri batik besar maupun kecil yang membuang limbahnya ke sungai.

Saat kali pertama kali dibangun pabrik tekstil di sekitar Kali Banger pada awal 1980an, perekonomian warga meningkat. Namun hal itu ternyata membawa dampak buruk bagi lingkungan.

Tahun 1988, air sungai Kali Banger tidak dapat digunakan lagi. Sejak tahun itu, perubahan warna sungai akibat pencemaran limbah cair dari pabrik yang juga mengeluarkan bau bangkai yang menyengat diikuti oleh matinya ikan-ikan, banyak ternak yang mati, dan juga kesehatan yang terganggu seperti penyakit kulit.

Pengelolaan Limbah

Beberapa pabrik berskala besar memang telah membangun Instalasi Pengolahan Air Limbah (IPAL) untuk mengolah limbah cair industri batik. Namun, jumlah itu tak sepadan dengan limbah yang dihasilkan setiap hari. Pengusaha yang abai terhadap pengolahan limbah jauh lebih banyak.

Mereka belum menganggarkan pengelolaan limbah ke dalam pos biaya produksi, sehingga masih enggan untuk mengolah limbah sebelum dialirkan ke sungai. Masih banyak pengusaha yang beranggapan, pengelolaan dan pengolahan limbah hanya menjadi tanggung jawab pemerintah.

Pembangunan Unit Pengelolaan Limbah Terpadu yang diprakarsai pemerintah, seperti yang telah ada di Desa Jenggot, mungkin menjadi alternatif bagi perajin kecil yang tak mampu mengelola sendiri limbahnya karena besarnya investasi. Namun, jumlah unit pengolahan limbah terpadu jauh dari memadai, sehingga perlu ditambah jumlah maupun kapasitasnya.

Menurut data, kapasitas unit pengolah limbah di Jenggot ini baru mencapai 400 meter kubik perhari, sementara limbah yang dihasilkan mencapai 700 meter kubik perhari. Itu baru di kawasan Jenggot dan sekitarnya. Belum lagi limbah dari sentra-sentra industri batik lainnya seperti di Kecamatan Wiradesa, Pabean, Buaran, Kramatsari, Pasirsari, dan Setono.

Meski nilai investasi pembangunan unit pengolahan limbah terpadu.terbilang besar-di Desa Jenggot misalnya, menelan anggaran Rp 1,7 miliar-namun upaya ini tetap harus dilakukan. Jika tidak, kelangsungan hidup warga akan terancam karena kualitas air tanah dan sungai menurun akibat pencemaran.

Pewarna Alami

Pemanfaatan tumbuh-tumbuhan sebagai bahan pewarna alami batik telah dipraktikkan oleh para perajin batik zaman dulu. Selain aman, juga tak kalah mutunya dibandingkan pewarna kimiawi. Karena alasan efisiensi, pewarna alami mulai ditinggalkan. Pewarna kimiawi, selain mudah digunakan, juga banyak dijual di pasaran.

Sudah telanjur digunakan secara luas, penggunaan pewarna kimiawi tak dapat begitu saja dialihkan kepada pewarna alami. Perlu ada sosialisasi dan penyuluhan kepada para perajin.(sumber)

Tulisan ini tidak bermaksud mematikan industri batik. Justru dengan pemahaman semoga bisa meningkatkan kesadaran penggunaan teknologi yang berbasis ramah lingkungan. Polemik seperti ini tidak hanya terjadi di pekalongan, di beberapa daerah lain di Indonesia juga mengalami hal yang sama.

Di negara lain seperti china juga mengalami pencemaran dampak industri Blue Jeans.

Pencemaran paling masif terjadi di Sungai Dong dan Xiaoxi yang terletak di sebelah barat Xintang, salah satu sentra industri jeans terbesar di China. Selain air sungai menjadi biru, limbah pabrik jeans juga menyebabkan bau menyengat tercium di sekitar sungai.

Setelah diteliti, 17 dari 21 sampel air yang diambil dari sungai-sungai tersebut mengandung logam berat terutama cadmium 128 kali lipat dari batas aman yang ditetapkan pemerintah setempat. Selain itu, pH atau tingkat keasaman air sungai meningkat hingga 12 dari angka normalnya 7.

Polusi dari pembuatan jeans berasal dari bahan pewarna yang dipakai, bleaching yang bisa masuk ke dalam tanah serta bahan bakar mesin produksi. Sementara itu peningkatan pH dipicu oleh penggunaan detergen yang berlebihan dalam proses pencucian bahan baku maupun pakaian jadi. (sumber)

Mari kita tinjau industri yang telah menerapkan teknologi produksi bersih. Saya akan menjelaskan mengenai hal ini secara singkat. Sekarang ini pabrik rokok besar di Indonesia juga telah menerapkan hal ini. Pengolahan limbah industri rokok saat ini dikembangkan untuk menjadi pupuk yang digunakan untuk lahan tembakau yang ditanam warga.

Di Instalasi Pengelolaan Air Limbah (IPAL) PT Djarum, misalnya, sampah pembungkus tembakau yang terbuat dari daun siwalan dapat diolah menjadi kompos dengan memanfaatkan lumpur aktif mikroba. (sumber)

Industri pulp dan paper juga telah menerapkan hal ini. Saat melaksanakan kunjungan Industri di Produsen Buku Tulis Sinar Dunia di Gresik, Jawa Timur. Juga telah dilengkapi IPAL. Pengolahan air limbah cair pada Industri kertas membutuhkan lahan yang cukup luas. Yang diawali dengan proses aerasi dengan aerator di bak penampungan untuk kemudian di treatment lebih lanjut, sehingga bisa dimanfaatkan sebagai air kolam untuk budidaya ikan air tawar.

Gambaran singkat mengenai Teknologi bersih ini semoga bisa membuka pemikiran kita untuk hidup lebih hijau. Mendukug program dan produk yang berbasis teknologi bersih. Akan selalu ada dampak positif dan negatif yang berusaha mencapai titik equilibrium. Penerapan teknologa yang sepenuhnya 100% ramah lingkungan saat ini mungkin belum bisa tercapai secara optimal. Adapun program pengembangan atau dukungan dari sebuah Industri kepada masyarakat jangan hanya disikapi sebagai program ‘cuci tangan’ dari dampak negatif.

Dalam kacamata Industri yang menjadi patokan utama untuk dicapai adalah profit. Yang diinginkan tentu saja biaya rendah dengan keuntungan maksimal. Namun ada sisi keberlanjutan yang harus tetap dipertimbangan. Sisi humanis yang mengarahkan kita untuk mencintai alam.

Seiring dengan perkembangan Industrialisasi alam pasti akan terus menjadi korban eksploitasi secara besar-besaran. Selama ada permintaan dari Manusia yang konsumtif, maka eksploitasi berupa produksi akan terus terjadi. Hal ini tidak bisa dihindari, tapi dengan penerapan teknologi terpadu. Semoga bisa mengurangi sedikit beban yang harus ditanggung bumi ini. Untuk hidup yang lebih baik kini dan nanti.

Semoga bermanfaat  🙂